Presiden Joko Widodo (kanan) berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan (tengah) disaksikan Ketua MPP PAN Soetrisno Bachir usai memaparkan bergabungnya PAN dengan koalisi partai pendukung pemerintah, Jakarta, Rabu (2/9/2015)
Presiden Joko Widodo (kanan) berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan (tengah) disaksikan Ketua MPP PAN Soetrisno Bachir usai memaparkan bergabungnya PAN dengan koalisi partai pendukung pemerintah, Jakarta, Rabu (2/9/2015)

Partai Amanat Nasional (PAN) resmi masuk barisan pendukung pemerintah, Koalisi Indonesia Hebat (KIH) per 2 September 2015. Mengejutkan bagi anggota Koalisi Merah Putih (KMP), namun sebaliknya bagi KIH.

KMP dan KIH muncul dalam pilpres 2014. Selain Gerindra, peran PAN cukup dominan dalam pembentukan KMP. KMP semula persekutuan 5 partai (Gerindra, PAN, Golkar, PKS dan PPP). Kekuatannya di parlemen sangat dominan, 392 suara, dibanding KIH, 207 suaara.

Keperkasaannya dibuktikan saat mengegolkan Undang Undang MPR, DPR, DPD dan DPRD (UU MD3), sekaligus memenangi pemilihan pimpinan DPR dan MPR, serta kepemimpinan alat kelengkapan dewan. Begitu pula dalam pengesahan UU Pilkada melalui DPRD --yang kemudian dianulir melalui Perppu.

Saat pilpres, KMP mengusung capres Prabowo Subianto (Gerindra), cawapres Hatta Rajasa (PAN), tapi keok dari KIH yang mengususng Jokowi-Jusuf Kalla. Meski kalah dalam pilpres, KMP mendeklarasikan koalisi permanen.

Koalisi permanen ini cukup fenomenal di Indonesia. Sebelumnya koalisi parpol umumnya hanya untuk kepentingan sesaat saja, saat pilpres misalnya. Ketika pilpres usai, koalisi otomatis bubar. Anggota koalisi yang kalah bisa memilih tetap beroposisi, atau bergabung dengan koalisi pemenang.

Ketua DPP PKS Mahfudz Sidik, menganggap langkah PAN lucu. Ia mengibaratkan KMP adalah sebuah pesawat. Pilotnya Gerindra, sedang kopilotnya PAN. Pesawat sedang anteng (tidak ada guncangan), tiba-tiba kopilot loncat.

Wakil Ketua DPR dari PKS, Fahri Hamzah, bahkan tidak percaya, langkah menyeberang yang dilakukan PAN. Karena dalam pertemuan terakhir yang juga dihadiri Ketua Umum PAN, Zukifli Hasan, KMP masih komit satu suara.

Namun sesungguhnya nada-nada bergabungnya PAN sebagai salah satu partai pendukung pemerintahan Jokowi-JK sudah terbaca melalui berbagai pernyataan elite PAN. Zulkifli, misalnya beberapa waktu lalu menyatakan, meski tetap di KMP, PAN mendukung pemerintahan Jokowi-JK.

Sikap Amien Rais, pendiri PAN juga berubah drastis. Juni lalu, ia bilang meragukan kapabilitas Jokowi menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. Namun 29 Agustus, Amien sudah bilang bahwa Jokowi adalah bapak bangsa.

Pemilihan waktu untuk mendeklarasikan merapatnya PAN ke pemerintah saat semua pihak fokus pada penguatan ekonomi di tengah krisis, sungguh sangat tepat. Publik seperti bisa menerima bahwa latar belakang keputusan PAN bukan karena ambisi kekuasaan tapi untuk "membantu" pemerintah mengatasi krisis ekonomi.

Dalam bahasa Amien Rais, masuknya PAN menjadi partai pendukung pemerintah jangan dimaknai remeh temeh. Maksudnya, hanya sebagai menambah kekuatan pendukung pemerintah di parlemen dengan imbalan kursi kabinet. Namun mesti diartikan memadukan kekuatan politik bangsa untuk menghadapi krisis ekonomi yang tengah terjadi.

Lebih kongkret, Zulkifli Hasan berharap masuknya PAN ke dalam barisan pendukung pemerintah, akan mendapat respon positif oleh pasar, dan bisa menarik investor.

Apapun alasannya, masuknya PAN sebagai pendukung pemerintah, bisa dipastikan akan mempengaruhi peta politik di parlemen. Suara KMP di DPR kini menjadi 243 suara, sedang KIH (PDIP, PKB, NasDem dan Hanura) setelah ditambah PAN (49 suara) menjadi 256 suara.

Meski begitu bukan berarti KIH sudah menang mutlak bila terjadi keputusan penting yang mesti dilakukan voting. Masih ada Partai Demokrat yang memilih tak bergabung dengan kedua koalisi. Non-blok, begitu Ketua Umum Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, memosisikan partai yang dipimpinnya.

Suara Demokrat cukup bermakna, 61 suara. Artinya, merapatnya PAN ke KIH, justru membuat posisi tawar Demokrat di parlemen semakin tinggi. Koalisi mana pun yang bisa merangkul Demokrat, akan menjadi pemenang dalam voting DPR.



from Google Newsstand RSS Beritagar.id http://ift.tt/1NP1mbc
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Posting Komentar