Kepolisian Thailand menangkap seorang tersangka baru dalam kasus bom Bangkok, Selasa (1/9/2015). Penangkapan berlangsung di provinsi Sa Kaeo, sebelah timur Bangkok, sekaligus wilayah perbatasan Thailand dengan Kamboja.
Ini merupakan penangkapan kedua, setelah ledakan bom di dekat Kuil Erawan yang mengakibatkan 22 orang tewas, dan ratusan lainnya luka-luka itu.
BBC mengutip pernyataan dari juru bicara kepolisian Thailand Letnan Jenderal Prawut Thavornsiri, serta sejumlah kabar yang beredar di media Thailand. "Kami telah menangkap satu lagi, dia bukan orang Thailand," kata Prawut.
Media Thailand menyebar foto paspor Tiongkok yang diklaim milik tersangka. Pada paspor tersebut, ia diidentifikasi sebagai Yusufu Mieraili (25) dari provinsi Xinjiang --salah satu wilayah yang dikenal sebagai tempat berdiamnya etnis muslim Uighur.
Sebagai catatan, penangkapan di wilayah perbatasan ini dilakukan tak lama setelah Thailand mengevaluasi para petugas imigrasi di wilayah perbatasan.
Bangkok Post melaporkan, enam petugas imigrasi di Sae Kaeo telah dimutasi, Senin (31/8). Mereka diduga menerima suap, guna menyusupkan orang asing. Mutasi itu hanya berselang dua hari, setelah penangkapan tersangka pertama.
Tersangka dalam penangkapan pertama ditangkap di Pool Anant, sebuah apartemen kecil di pinggiran Bangkok, Sabtu (29/8). Ia memiliki paspor palsu asal Turki, atas nama Adem Karadag.
Pria itu mengaku masuk ke wilayah Thailand lewat Sae Kaeo, dengan menyogok sebesar 18 ribu baht (sekitar Rp7juta) kepada petugas di perbatasan.
Berburu tersangka lainnya
Pasca penangkapan pertama, pemerintah Thailand telah mengeluarkan tiga surat penangkapan lain di seputar kasus ini. Mereka yang diburu adalah satu orang pria asal Turki, serta dua orang asing yang diyakini bernama Ahmet Bozoglan dan Ali Jolan.
"Kami mencari pelaku pengeboman, orang yang memerintahkan, dan orang yang menggunakan ponsel," kata Prawut, dikutip The New York Times. "Kita harus menangkap mereka semua." Namun Prawut tidak memberikan penjelasan rinci, misal soal peran masing-masing tersangka itu.
Senin (31/8), daftar pencarian orang bertambah dengan masuknya nama Wanna Suansan, perempuan berusia 26 tahun dari daerah muslim di wilayah selatan Thailand.
The New York Times menuliskan hasil penelusuran mereka terhadap sosok Wanna. Keluarganya mengaku bahwa Wanna telah pindah ke Turki, beberapa pekan sebelum pengeboman.
Kepala desa --yang bertindak sebagai juru bicara keluarga-- mengatakan bahwa Wanna bersedia kembali ke Thailand, guna membuktikan dirinya tidak bersalah. Ia mengatakan pihaknya terkejut, sebab kepolisian tidak menghubungi keluarga, dan tiba-tiba mengumumkan Wanna sebagai tersangka.
Dalam wawancara telepon dengan AFP (dilansir AsiaOne), Wanna membantah terlibat dalam pengeboman. Ia mengaku, sekitar setahun terakhir tidak mengunjungi flat tempat tersangka pertama diringkus kepolisian.
Ada beragam spekulasi seputar ledakan bom Bangkok. Mulai dari soal keterlibatan teroris internasional, gerakan pemberontakan Melayu-Muslim di selatan Thailand, hingga hal-hal berbau dendam pribadi.
Analisa yang mengemuka dalam beberapa hari terakhir, adalah kemungkinan keterlibatan etnis muslim Uighur, Tiongkok --atau simpatisan mereka. Hal ini dihubungkan dengan pemulangan paksa yang dilakukan pemerintah Thailand terhadap lebih dari 100 pengungsi Uighur (Juli 2015).
Muslim Uighur mengungsi karena nasib yang tidak pasti di Tiongkok. Mereka juga punya kaitan kultural dengan Turki, terutama karena etnis Uighur juga bisa berbahasa Turki.
from Google Newsstand RSS Beritagar.id http://ift.tt/1XdKBJT
via Hatree Indonesia
Posting Komentar
Posting Komentar