Imam besar Masjid Al Hikmah New York, Amerika Serikat, Shamsi Ali, Jakarta, 28 Maret 2013.
Imam besar Masjid Al Hikmah New York, Amerika Serikat, Shamsi Ali, Jakarta, 28 Maret 2013.

Pertemuan antara rombongan Ketua DPR Setya Novanto dengan salah satu kandidat Presiden Amerika Serikat asal Partai Republik, menuai kritik. Salah satunya Shamsi Ali, imam masjid besar di New York. Menurutnya, kehadiran rombongan Ketua DPR ke konferensi pers Donald Trump itu tak etis karena bisa ditafsirkan sebagai keberpihakan Indonesia ke salah satu kandidat presiden.

Siapakah Shamsi Ali, yang kritiknya menjadi bahan pembicaraan itu?

Lahir di Tanah Toa, Sulawesi Selatan, ia terlahir dengan nama Utteng Ali pada 1968. Tahun 1988, demikian BBCIndonesia menulis, Shamsi meninggalkan Indonesia untuk bersekolah di Islamic University di Pakistan. Lulus dari Pakistan ia pindah ke Arab Saudi untuk mengajar.

Delapan tahun tinggal di Arab Saudi, pada 1996, ketika usianya menginjak 29 tahun, ia hijrah ke Amerika Serikat bekerja di perwakilan Indonesia untuk PBB di New York. Duta Besar Indonesia untuk PBB waktu itu juga memintanya untuk mengelola Islamic Cultural Centre dan menjadi imam masjid Al-Hikmah di New York. Di sinilah ia menyampaikan khotbah tentang nilai-nilai demokrasi dan menentang ekstrimis. Di luar masjid, ia mempromosikan kepada kepada Federal Bureau of Investigation (FBI) dan anggota Kongres tentang hubungan antar agama.

Di antara umat Islam Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat, begitu CNNIndonesia menulis, Shamsi dikenal sebagai salah seorang anggota dewan penasihat di organisasi-organisasi besar. Di antaranya Indonesian Muslim Society in America dan Indonesian Muslim Intellectual Society in America.

Selain sebagai imam masjid terbesar di New York, ia juga dipercaya menjadi direktur Jamaica Muslim Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan Timur New York yang dikelola komunitas muslim asal Bangladesh.

Di kantornya di Islamic Center of New York, Shamsi membuka kelas khusus tiap pekan bagi orang-orang non-muslim yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai ajaran Islam.Di forum ia menjelaskan tentang ajaran-ajaran islam dengan damai. "Sejak peristiwa serangan 11 September 2001, semakin banyak orang di Amerika Serikat ini yang ingin tahu lebih dalam mengenai Islam," kata pria yang fasih berbahasa Inggris, Arab dan Urdu itu seperti dikutip nu.or.id.

Selain sebagai imam pada Islamic Center, masjid terbesar di New York, Syamsi juga dipercaya menjadi direktur Jamaica Muslim Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan Timur New York yang dikelola komunitas muslim asal Bangladesh.

Tak seperti pemuka agama yang konservatif yang melarang musik, Shamsi justru menyukai musik rap dan musik hip-hop mogul Russell Simmons.

Anak ketiga dari enam bersaudara ini juga dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul dengan dengan pelbagai kalangan. Anggota Muhammadiyah Cabang Istimewa AS ini juga berteman dengan mantan presiden AS George W Bush. Selain Bush, seperti dikutip dari BBCIndonesia, ia juga berteman dengan mantan presiden AS lain Bill Clinton. Clinton bahkan ikut memberi kata sambutan di buku Sons of Abraham, yang ditulisnya bersama rabbi Yahudi.

Shamsi kecil identik dengan pemberontak. Ia pernah bercerita, sewaktu remaja pernah memimpin anak dari desanya berkelahi dengan anak-anak dari desa lain dan berlatih beladiri pencak silat. "Itu hal lain yang saya suka," kata dia. "Saya suka bertarung."



from Google Newsstand RSS Beritagar.id http://ift.tt/1iqXgJD
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Posting Komentar