MASKER KHUSUS | Harga masker yang tepat untuk menghadapi kabut asap itu lebih mahal dari masker bedah yang sering dipakai orang. Apakah pembakar hutan peduli kesehatan masyarakat bahkan kelurga mereka sendiri?
MASKER KHUSUS | Harga masker yang tepat untuk menghadapi kabut asap itu lebih mahal dari masker bedah yang sering dipakai orang. Apakah pembakar hutan peduli kesehatan masyarakat bahkan kelurga mereka sendiri?

Apa yang dapat, bahkan harus, dilakukan oleh pembakar lahan dan hutan untuk meringankan penderitaan masyarakat? Pihak berwenang di pemerintahan lebih tahu, dan Anda mungkin punya usul.

Artikel ini hanya menyodorkan cerita, disertai ilustrasi, tentang masker asap (respirator). Jenis yang tepat adalah N95. Jenis ini dipakai oleh Singapura (lihat laman Kemeterian Kesehatan Singapura). Negeri Singa itu beberapa kali diserbu asap dari Indonesia.

Masker N95 (ini model, mereknya bisa macam-macam) juga dianjurkan oleh Ketua IDI Riau, Dokter Nuzelly Husnedi, yang juga Direktur RSUD Arifin Achmad Pekanbaru (RRI, Sabtu 5/9/2015).

Masker N95 lebih bagus ketimbang masker biasa yang sisi luarnya berwarna hijau muda atau biru muda itu. Masker yang biasa itu untuk keperluan medis, mencegah pemakainya menularkan penyakit.

Di luar N95 ada banyak ragam masker. Misalnya yang berwarna abu-abu, yang dijual di minimarket ( Rp6.000 isi lima lembar), untuk sekali pakai itu. Dalam kemasan masker tersebutkan barang itu multifungsi. Dapat melindungi saluran pernapasan dan paru-paru dari virus, bakteri, debu, partikel mikro, dan bahan kimia.

Tentang N95, kemasan isi 20 oleh lapak Lazada ditawarkan Rp210.000 hingga Rp235.000. Di Elevenia dan BukaLapak sekitar Rp170.000.

Saat ini kabut asap terus mendera sebagian Sumatera. Jarak pandang di di Pelalawan, Riau, tadi pagi hanya 50 meter (Tempo, Senin 7/9/2015). Kapsi foto ilustrasi di Jambi, oleh Antara (Minggu, 6/9/2015), menyebutkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) 162 sampai di atas 200.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Untung Suseno, mengungkapkan di Jakarta, "Data yang baru kita terima itu dari Riau. Sebanyak 12 ribu orang terkena ISPA." Dia mengimbau warga mengurangi kegiatan luar rumah, dan kalau bisa sekolah diliburkan (Republika, Senin 7/9/2015).

Tjandra Yoga Aditama, profesor dan dokter spesialis pulmonologi dan respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, mengingatkan bahwa asap kebakaran hutan akan lebih berbahaya pada anak-anak, manula, dan pengidap asma serta bronkitis (Antara, Minggu 6/9/2015).

Kata Tjandra, kabut asap menyebabkan iritasi lokal pada selaput lendir di hidung, mulut, dan tenggorokan. Lalu bisa muncul reaksi alergi, peradangan, dan mungkin juga infeksi, yang mengakibatkan pneumonia (radang paru-paru).



from Google Newsstand RSS Beritagar.id http://ift.tt/1JOq0ov
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Posting Komentar