Resminya, sejumlah pimpinan DPR mengadakan kunjungan kerja ke Amerika Serikat (AS). Mereka menjadi peserta Konferensi Ketua Parlemen Dunia ke-4 di New York pada tanggal 31 Agustus-2 September 2015.
DIkabarkan, rombongan terdiri dari Ketua DPR Setya Novanto, wakil ketua Fadli Zon, Nurhayati Ali Assegaf, Tantowi Yahya, Michael Wattimena, Juliari P. Batubara , Roem Kono, dan Aziz Syamsuddin.
Pidato Setya Novanto di konferensi itu, menceritakan peran DPR dalam membuat peraturan pendukung, anggaran dan pembentukan panja MDGs yang sekarang bertransformasi menjadi SDGs (Sustainable Development Goals).
Namun, ia juga melipir mengkritisi PBB. Lembaga dunia yang berusia 70 tahun ini, menurut Novanto, perlu dievaluasi secara sistemik, melalui reformasi PBB yaitu meninjau ulang tata kelola organisasi sehingga setiap negara bisa duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.
Acara kenegaraan usai, tapi rombongan tak langsung pulang.
Rupanya, Setya Novanto dan Fadli Zon, melipir ke Menara Trump New York, kantor Donald Trump, kampiun bisnis AS yang kini sedang sibuk nyapres. Wajah keduanya tampak dalam acara konferensi pers calon presiden AS dari Partai Republik, (3/9/2015).
Usai melakukan tanya jawab dengan wartawan, di hadapan pendukungnya, Trump memperkenalkan Setya Novanto di depan forum. Adegan itu terekam dalam video di YouTube, yang diunggah USA Today (4/9/2015).
"Saudara-saudara, ini luar biasa. Untuk Anda ketahui, dia Ketua DPR di Indonesia, Setya Novanto. Salah satu orang paling berpengaruh dan sosok yang besar. Ia bersama rombongan datang ke sini untuk bertemu saya hari ini. Kami akan melakukan satu kegiatan besar untuk Amerika. Benar begitu?" ujar Trump.
"Ya," jawab Novanto.
"Apakah masyarakat Indonesia menyukai saya?"
"Ya, sangat. Terimakasih," jawab politisi partai Golkar itu.
BusinessInsider melaporkan lebih detail. Fadli Zon dan beberapa orang yang menyertainya, dideskripsikan menenteng bingkisan dari toko di Menara Trump. Fadli tak bisa memastikan apa isi bingkisan itu karena belum membukanya. Dia berusaha mengintip, namun pita dan kertas tisu menghalangi pandangannya.
Fadli menjelaskan, kunjungan itu di luar agenda resmi, dan tak ada hubungannya dengan dukungan kepada Trump. Keduanya hanya ingin menyampaikan terimakasih kepada Trump yang sudah berinvestasi di Indonesia.
Kedatangan pimpinan DPR di acara kampanye capres AS ini pun menjadi pemberitaa ramai di media. Video tersebut sangat gampang dipersepsikan Indonesia mendukung, Donald Trump.
Pimpinan DPR berada di Amerika mewakili negara, dengan menggunakan fasilitas dan biaya negara. Diperkenalkan secara resmi sebagai pejabat negara, yang akan melakukan sesuatu untuk Amerika. Semua indikasi itu cukup untuk membuat kesimpulan bahwa Indonesia, setidaknya parlemen Indonesia memberi dukungan kepada Trump.
Implikasi dari aksi Novanto ini bisa meluas di kemudian hari. Katakanlah kelak Trump menang dalam pemilu AS. Cap parlemen Indonesia menjadi antek AS, bisa saja muncul. Namun bila rival Trump yang menang, AS juga sah menganggap Indonesia dengan sebelah mata.
Apa pun ketika seorang pejabat negara resmi melakukan kunjungan dinas ke negara lain, tindakannya akan menjadi representasi negara. Setya Novanto yang juga pebisnis, mungkin saja bersahabat dengan Trump yang juga juragan.
Atau bahkan keduanya, punya kerja sama bisnis, karena Trump memang tengah mengembangkan sayap bisnisnya di Indonesia.
Tapi, bisnis adalah urusan pribadi pebisnis. Tak bisa dikaitkan dengan predikatnya sebagai pejabat negara. Begitu pun sebaliknya.
Yang lebih penting, untuk menghindari hal seperti ini terjadi, siapa pun pejabat negara yang melakukan kunjungan kerja, taatlah dengan agenda resmi kenegaraan. Usai acara kedinasan, ya, kembali ke tanah air.
Karena memang haram hukumnya pejabat negara melakukan aktivitas, non-kenegaraan dengan anggaran negara.
Catatan redaksi: Kata melipir dalam bahasa Jawa kurang lebih bermakna menyusuri pinggir ruangan untuk mencapai tujuan.
from Google Newsstand RSS Beritagar.id http://ift.tt/1fZ0nqj
via Hatree Indonesia
Posting Komentar
Posting Komentar