Direktur VfB Stuttgart Robert Dutt menilai sepak bola masa kini sudah serakah. Harga transfer dan gaji pemain yang kian tinggi justru membuat nilai-nilai sepak bola makin luntur.
Namun di balik tuduhan serius itu, sepak bola tetap punya nilai insani. Klub dan para suporter tak melulu berpikir soal sepak bola dan bisnis. Praktik kehumasan bukan barang langka.
Memberi penghormatan bagi tokoh yang telah meninggal atau mengheningkan cipta untuk peristiwa tragis sering terjadi sebelum pertandingan digelar.
Atau yang lazim pula, mengunjungi rumah sakit kanker anak. Katakanlah itu semua bagian dari bentuk tanggung jawab sosial klub dan perusahaannya.
Tahun lalu, Oktober 2014, AS Roma menghormati ayah-putra, Stefano dan Cristiano, yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan terjadi dalam perjalanan pulang usai menyaksikan Roma vs Bayern Muenchen di Liga Champions.
Pekan berikutnya, staf pelatih dan skuat Roma mengenakan kaus bergambar Stefano dan Cristiano sebelum bertanding melawan Sampdoria di Serie A. Sementara tiga hari kemudian, kiper Morgan De Sanctis meletakkan karangan bunga di bawah tribun selatan (Curva Sud).
Di tribun itu pula, hadir Luana -- istri mendiang Stefano -- dan putrinya, Michelle.
Class from AS Roma. http://pic.twitter.com/NbvDbqKcs0
— 8 Fact Football (@8Fact_Footballl) September 4, 2015
Sementara yang terbaru, banjir pengungsi dari timur tengah di Jerman menggugah suporter dan klub profesional setempat. 800 ribu orang pengungsi diperkirakan tiba di negara pentolan Uni Eropa tersebut. Begitu dikabarkan Wall Street Journal (konten berbayar).
Suporter sepak bola di Jerman pun menunjukkan citra positif. Saat pertandingan Bundesliga, sejumlah kelompok suporter mengusung spanduk "Welcome Refugees (Selamat datang para pengungsi)."
Beberapa di antaranya suporter Borussia Dortmund dan Werder Bremen.
Heartwarming welcome to refugees from Germany's football fans. Theresa May & David Cameron should pay attention. http://pic.twitter.com/8Ts9COCOMm
— Sadiq Khan MP (@SadiqKhan) August 31, 2015
Sedangkan Dortmund mengundang 220 orang pengungsi menyaksikan pertandingan. Bahkan kota Dresden, yang cukup keras menentang imigran, dilanda unjuk rasa agar masyarakat mau menerima pengungsi.
220 Flüchtlinge des Projekts "Angekommen in Dortmund", zu Gast bei #bvbodd. #refugeeswelcome http://pic.twitter.com/CJA2QfmiAG
— Borussia Dortmund (@BVB) August 29, 2015
Bayern Muenchen, klub elite Jerman lainnya, melakukan lebih dari sekadar dukungan pada para pengungsi. Laman resmi klub asal negara bagian Bavaria itu (Kamis, 3/9/2015) menyatakan, Bayern menyumbang 1 juta euro (Rp15,7 miliar) untuk penanganan pengungsi.
Para pemain Bayern juga akan menggandeng anak pengungsi saat masuk lapangan sebelum melawan Augsburg pada 12 September. Klub juara bertahan Bundesliga itu juga akan menyediakan klinik sepak bola bagi anak-anak pengungsi.
"Kami punya tanggung jawab sosial politik untuk membantu anak-anak, wanita, dan pria yang jauh dari kampung halaman. Kami harus mendukung dan membantu mereka di Jerman," ujar CEO Bayern, Karl-Heinz Rummenigge.
Gute Message der Fans des #FCBayern http://pic.twitter.com/L2VjGbWaiI
— Julien Wolff (@julienwolffwelt) August 29, 2015
Sedangkan klub Armenia Bielefeld, seperti diwartakan Die Welt (konten dalam bahasa Jerman) menyediakan 500 tiket gratis bagi para pengungsi untuk pertandingan pada 12 September. Tiket itu habis dalam kurun dua jam.
from Google Newsstand RSS Beritagar.id http://ift.tt/1O3fVaw
via Hatree Indonesia
Posting Komentar
Posting Komentar