Abdullah Kurdi, ayah dari Alayn, bocah Suriah yang foto jenazahnya menggemparkan ranah media sosial.
Abdullah Kurdi, ayah dari Alayn, bocah Suriah yang foto jenazahnya menggemparkan ranah media sosial.

Jagat media sosial pekan ini diramaikan oleh foto jenazah bocah pengungsi Suriah, terimpit di tengah unggunan gambar rutin lain berisi pelbagai selfie dan perayaan.

Aylan Kurdi, 3 tahun, nama anak itu, tewas tercekik air setelah perahu yang dinaiki keluarganya dijungkirkan ombak tinggi tak jauh dari lokasi bertolaknya di pesisir Turki.

Menurut laman New York Times, perahu itu menyasar pantai Yunani. Dari sana, keluarga yang dipandu Abdullah Kurdi, ayah Alayn, akan melangkahkan kaki ke Kanada demi hidup lebih baik, jauh dari kengerian perang saudara di kampung halaman.

Kemalangan di tengah perjalanan itu tak sanggup ditampik karena Abdullah urung mendapatkan fasilitas transportasi yang dijanjikan para penyelundup manusia yang ditemuinya beberapa waktu sebelumnya: alih-alih menumpang kapal bermotor, mereka mesti menaiki perahu karet.

"Jangan sampai kepalanya tenggelam," ucap Abdullah saat mengangsurkan sang anak kepada istrinya sambil bergelut dengan laut. Rehan, sang istri, dan Ghalib Kurdi, abang Alayn, ikut meninggal dalam peristiwa itu.

Kasus keluarga Abdullah tidak terlepas dari rantai ekonomi penyelundupan manusia. Pasalnya, besarnya skala krisis kemanusiaan akibat konflik bersenjata di Timur Tengah memantik peningkatan gelombang pengungsi ke Eropa. Pada 2014, jumlah pengungsi akibat konflik secara global mencapai 59,5 juta orang dengan Suriah sebagai penyumbang terbesar dengan 11,6 juta orang, melampaui Afghanistan.

Dianggap jauh lebih menguntungkan ketimbang perdagangan obat bius dan persenjataan, bisnis "miliaran dolar" ini menyinggung semua benua. Ongkos yang dikeluarkan memiliki ragam yang jumlahnya mengikuti ukuran jarak, tujuan, tingkat kesulitan, metode transportasi, dan jaringan (pengungsi memiliki tautan dengan penyelundup atau tidak).

Badan dunia urusan narkoba dan kriminalitas, UNODC menyebut bahwa penyelundupan di Asia dapat dihargai hingga USD10 ribu per orang, atau lebih dari Rp140 juta dengan kurs sekarang. Seorang warga Afrika yang berharap menyeberangi perairan Mediterania harus menyiapkan uang hingga Rp14 juta. Warga Suriah mesti sedia hingga Rp35 juta.

Pengungsi berdarah Suriah-Palestina, Abu Hamada, mengaku sanggup mengantongi hampir Rp33 miliar dalam enam bulan praktik penyelundupan dari Mesir.

Para 'penikmat jasa' penyelundup pun takperlu membayar tunai. Cicilan bisa dibayarkan seiring pergerakan mereka dari satu kelompok penyelundup ke kelompok lain. Untuk dapat mencapai pos demi pos dengan selamat, kadang mereka akan dibekali koordinat GPS, peta, atau bahkan mobil, bergantung kondisi yang dihadapi.

Dalam proses penyelundupan itu, terlibat beberapa pihak yang berfungsi sebagai perekrut, pengangkut, pencari akomodasi, fasilitator, pengelola, dan penyedia dana. Beberapa penyelundup bahkan sebelumnya adalah pengungsi yang diselundupkan.

Salah satu penyelundup teraktif di Mesir, yang menyebut diri Abu Uday, merupakan warga Suriah yang pada 2014 mengirimkan sekitar 10.000 pengungsi ke Italia dengan imbalan lebih dari Rp33 miliar. Itu setelah dipotong biaya ke pelbagai pihak, yang salah satunya adalah kepolisian.

Tidak diketahui selain dijanjikan perahu-bermotor, kesepakatan apa lagi yang dianggukkan oleh Abdullah. Yang terang, langkahnya mencari jalan keselamatan justru berujung kesialan. "Saya ingin duduk tepekur di sisi makam keluarga saya dan meredakan nyeri ini," ujarnya.



from Google Newsstand RSS Beritagar.id http://ift.tt/1JDuOe4
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Posting Komentar