Juara dunia Jerman semakin dekat dengan putaran final Euro 2016 Prancis. Selasa dinihari WIB (8/9/2015), Die Mannschaft menundukkan tuan rumah Skotlandia 3-2 di Hampden Park, Glasgow.
Tambahan tiga poin membuat Jerman tetap di puncak Grup D dengan nilai 19. Mereka hanya butuh satu kemenangan lagi dari dua laga sisa untuk memastikan satu tiket ke Prancis. Sementara Polandia di urutan kedua (17) dan Republik Irlandia di posisi ketiga (15).
Pelatih Jerman, Joachin Loew, mengatakan laga di bawah sekitar 50 ribu pasang mata penonton ini tidak mudah. Tapi pelatih berusia 55 ini mengaku sudah memperhitungkan cara meraih kemenangan atas Skotlandia.
"Saya senang kami menang. Kami tahu laga ini tak akan mudah karena 10 pemain Skotlandia ada di kotak penalti mereka dan berharap mencetak gol dari situasi bola mati.
"Saya senang karena kami mengendalikan permainan dan tidak membiarkan Skotlandia menciptakan peluang dari bola hidup. Kami memang pantas menang," ujar Loew.
Sebenarnya terlampau berlebihan menyebut Skotlandia hanya berkumpul di kotak penalti mereka sendiri. Skuat Gordon Strachan memang bertahan. Tapi mereka berkumpul di area lapangan sendiri (own half) -- bukan melulu di kotak penalti.
Itu sebabnya Jerman harus berjuang keras mengalirkan bola ke kiri-kanan dan merotasi posisi antarpemain selama pertandingan. Loew pun mengerahkan dua bek sayap Jonas Hector dan Emre Can untuk mendukung duo lini tengah, Toni Kroos dan kapten Bastian Schweinsteiger.
Empat pemain ini menopang empat pemain di lini depan yang kerap berganti-ganti posisi; Thomas Mueller, Mesut Oezil, Mario Gotze dan Ilkay Gundogan.
Muller, penyerang asal Bayern Muenchen, mencetak dua gol berkat keahliannya menemukan dan menciptakan ruang. Dia selalu berhasil melakukan penetrasi untuk berada di tengah-tengah pemain belakang Skotlandia dan di depan gawang David Marshall.
Sedangkan dua gol Skotlandia datang dari proses bola mati. Yang pertama, pada menit 28, bola tembakan bebas Shaun Maloney masuk ke gawang setelah tepisan kiper Manuel Neuer mengenai dada Mats Hummels.
Yang kedua, bola penjuru disambut James McArthur dengan tembakan dari tepi kotak penalti.
Pertandingan akhirnya dimenangi Jerman berkat gol Gundogan yang bekerja sama dengan Mueller.
Di luar kemampuan Mueller yang mampu berada di suatu tempat dengan benar dan pada waktu yang tepat (right man in the right place), Loew masih punya pekerjaan rumah.
Dua gol dari proses bola mati ke gawang Neuer menjadi kelemahan yang mesti segera diperbaiki.
Sementara Strachan senang bisa mencetak dua gol meski kalah. Pelatih berusia 58 ini bahkan menilai secara permainan berhasil -- terutama strategi bertahannya.
"Seseorang bilang kami tidak banyak menyerang malam ini. Ya ampun...coba tanya Brasil dan lihat hasil mereka melawan Jerman," ujar Strachan dikutip Daily Mail.
Strachan merujuk pada kekalahan terbesar Brasil sepanjang masa saat dihajar Jerman 1-7 pada semifinal Piala Dunia 2014 musim panas lalu. Saat itu, Brasil bermain terbuka sehingga dimanfaatkan Jerman untuk berpesta gol.
from Google Newsstand RSS Beritagar.id http://ift.tt/1K3G9Ib
via Hatree Indonesia
Posting Komentar
Posting Komentar