Omah Munir, Batu, Jawa Timur.
Omah Munir, Batu, Jawa Timur.

"Aku harus bersikap tenang, walaupun takut. Untuk membuat orang lain tidak takut."

Kata-kata Munir itu terus membekas. Pada 2014 kutipan tersebut menjadi slogan acara #10TahunMunir yang diperingati di Omah Munir, Batu, Jawa Timur. Tahun ini sebelas tahun Munir dibunuh.

Bagi Indonesia dan dunia, Kompas menulis, Munir Said Thalib adalah ikon pejuang hak asasi manusia. Pria kelahiran Desember 1965 itu dibunuh dengan racun arsenik ketika hendak melanjutkan studi di Belanda.

Munir meninggal di dalam pesawat Garuda yang membawanya menuju Amsterdam pada 7 September 2004. Detik-detik kematiannya di dalam pesawat terpampang dalam panel Omah Munir, museum yang dibangun sebagai dedikasi terhadap kiprah perjuangannya.

Rumah Suciwati istri almarhum Munir Said Thalib di Jalan Bukit Berbunga, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bumi Aji, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis 12 September 2013.
Rumah Suciwati istri almarhum Munir Said Thalib di Jalan Bukit Berbunga, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bumi Aji, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis 12 September 2013.

Omah Munir terletak di jalan Bukit Berbunga Nomor 2 RT 04 RW 07, Sidomulyo, Kota Batu, Jawa Timur. Di dalam rumah ini banyak memorabilia Munir. Rumah yang penuh dengan semangat dan informasi, bukan kesedihan atau duka tentang munir.

"Lewat Omah Munir kita melawan lupa bahwa ada banyak kasus yang belum terselesaikan," kata Suciwati, istri mendiang Munir, Minggu (7/9/2015) dikutip Viva.

Berbagai poster tentang pelanggaran HAM dan upaya pencarian keadilan memenuhi dinding rumah seluas 250 meter persegi. Omah Munir diresmikan pada 8 Desember 2013, tepat di hari ulang tahun Munir.

"Omah" adalah bahasa Jawa yang berarti rumah. Omah ini dibangun dengan dana awal sekitar Rp300 juta, kini Omah Munir telah memiliki perpustakaan yang berisi ribuan buku sumbangan. Bukunya beragam, dari buku Karl Marx Das Kapital sampai buku tuntutan salat yang benar.

Omah Munir
Omah Munir

Seperti ditulis Jakarta Post, Omah Munir didesain oleh Andi Achdian, yang juga terlibat dalam pembuatan museum Polisi. Andi berkolaborasi dengan Erwien Kusuma.

Koleksi pribadi Munir juga terpampang di sudut-sudut ruangan museum. Penjelasan kasus-kasus pelanggaran HAM yang masih menjadi misteri juga terpampang. "Omah Munir bisa menjadi tempat menciptakan generasi muda yang penuh kesadara akan nilai-nilai HAM," kata salah seorang guru Munir di Universitas Brawijata, Mukti Fajar dikutip Okezone.

Dalam tulisan Vannesa Hearman, dosen Kajian Indonesia di Universitas Sydney, Munir tumbuh besar di kota Batu. Ia menjadi aktivis mahasiswa di Univeristas Brawijaya, Malang. Munir lalu bergabung dengan Lembaga Bantuan Hukum sebagai pengacara.

Dalam aktivitasnya sebagai pengacara LBH dia berjumpa Suciwati, yang kemudian menjadi istrinya. Suciwati mengatakan rumah yang sekarang menjadi museum adalah tempat penuh makna bagi mereka berdua. Keduanya membeli tempat itu dengan harapan akan menjalani kehidupan bahagia.

Omah Munir, menurut Vannesa, tidak membuat glorifikasi soso Munir. Namun lebih menempatkan sosok pribadi Munir dalam konteks perjuangan HAM yang lebih besar di Indonesia sejak dekade 1990-an, sampai kejatuhan Soeharto dan rentang pendek kampanye HAM menjelang tahun kematian Munir.

Tempo melansir, Omah Munir merupakan bagian dari upaya membagi perspektif HAM yang selama ini diperjuangkan oleh Munir. Suciwati, ingin membumikan nilai-nilai HAM serta mengenalkan sosok Munir kepada kalangan muda.

Dalam akun Facebook-nya, Omah Munir menyatakan sebagai penanda untuk merawat ingatan perjuangan Munir dan kemanusiaan. Omah Munir juga media untuk menghidupkan semangat dan sekaligus mendokumentasikan problem kemanusiaan.



from Google Newsstand RSS Beritagar.id http://ift.tt/1K0N8lb
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Posting Komentar