Martha, burung merpati pengembara terakhir yang hidup
Martha, burung merpati pengembara terakhir yang hidup

Hari ini 101 tahun yang lalu adalah hari kematian, Martha. Pada 1 September 1914, merpati pengembara (Passanger Pigeon atau Ectopistes migratorius) terakhir di dunia ini mati di Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat. Para ilmuwan meyakini bahwa dialah binatang terakhir dari spesiesnya setelah dua ekor merpati jantan mati di kebun binatang yang sama pada 1910.

Martha, diambil dari nama istri presiden Amerika Serikat Geroge Washington, sebelum mati adalah selebritas di kebun binatang itu. Keberadaannya selalu menarik perhatian pengunjung. Saat dia ditemukan tak bernyawa di lantai kandangnya pada sore hari itu, badannya kemudian diawetkan di dalam balok es seberat 150 kg dan dikirimkan ke Smithsonian Institution di Washington, DC. Di sini Martha kemudian diawetkan.

Pada awal abad ke-19, merpati pengembara adalah burung yang paling umum di Amerika Utara, bahkan mungkin di dunia. Merpati jenis ini biasanya bergerombol dalam jumlah yang amat sangat banyak, seperti deretan awan yang bisa menutupi langit selama berjam-jam, bahkan berhari-hari.

Fenomena yang spektakuler ini pernah dicatat oleh Major W Ross King yang melihat "sekumpulan burung yang jumlahnya luar biasa" di skitar Niagara pada 1860.

"Saya benar-benar terpana melihat langit tertutup dan matahari dihalangi oleh jutaan merpati, mereka tidak melayang namun bergerk majua dalam garis lurus, dalam jumlah yang amat banyak dan terentang di depan dan belakang sepanjang mata memandang," bgitu kurang lebih tulisan Ross King di The Sportsman and Naturalist di Kanada.

Kumpulan merpati pengembara itu perlu waktu 14 jam untuk melintasi suatu daerah, dan dengan kecepatan 60 mil per jam diperkirakan saat itu ada 4 miliar ekor, seperti dilansir oleh The Guardian.

Satu alasan mengapa jumlah merpati pengembara begitu banyak saat itu adalah tidak adanya predator alami kecuali elang, papar Eco-action.com Sayangnya, ternyata populasi merpati pengembara sangat rentan terhadap intervensi manusia. Seekor merpati pengembara betina hanya bisa bertelur sebutir per tahun sehingga sulit sekali bertambah jumlahnya jika ada yang mati. Merpati pengembara pun punya kebiasaan untuk hidup dan bermigrasi secara berkelompok dalam jumlah yang sangat besar sehingga mudah sekali untuk diburu.

"Sifat burung merpati ini agak unik. Burung ini hanya mau kawin jika dilakukan bersama-sama dalam jumlah yang sangat banyak," kata Rudiyanto, seorang pengamat burung kepada Beritagar.id. Oleh karena itulah upanya pengembangbiakannya selalu gagal saat populasinya menurun drastis.

Pakan utama merpati pengembara adalah biji-bijian, kastanye (chesnut), dan beech nut yang ada di hutan-hutan Amerika Utara. Sehingga ketika hutan dibuka untuk tanah pertanian maka jumlah pakan merpati pengembara pun menyusut tajam.

Awalnya intervensi manusia sebenarnya tidak begitu besar terhadap populasi merpati pengembara karena jumlah manusia yang hidup di Amerika Utara ketika itu juga tidak banyak. Bangsa Indian menangkap merpati jenis ini menggunakan jaring besar dan pada sekitar 1630-an bangsa Eropa yang datang di New England juga melakukan hal yang sama. Anak merpati pengembara dijadikan santapan yang lezat, sementara merpati pengembara dewasa diburu untuk diambil bulunya dan dagingnya.

Pada awal-awal abad kedatangan bangsa Eropa di Amerika, jumlah merpati pengembara tidaklah menurun tajam karena jumlah manusia di kawasan itu belum begitu banyak.

Namun usai 1830 ada kebiasaan untuk melepaskan merpati pengembara yang sudah tertangkap jerat kemudian menembaknya. Kebiasaan ini pun sebenarnya tidak berakibat fatal terhadap keberadaan spesies ini meski sekitar 250 ribu burung dibunuh dengan cara ini pada 1870-an.

Populasi merpati pengembara menurun tajam pada pertengahan abad ke-19 meskipun masih ada beberapa miliar jumlahnya di dunia ini. Pembantaian besar-besaran dimulai ketika ada pemburu yang terorganisir untuk mendapatkan daging murah yang dikirimkan ke kota-kota di pantai timur Amerika yang saat itu mulai berkembang. Itu terjadi ketika jalur kereta api dibangun untuk menghubungkan wilayah Great Lakes dengan New York pada tahun 1850-an.

Pada 1855 ada 300 ribu burung merpati pengembara yang dikirimkan ke New York saja. Pembantaian terburuk terjadi pada 1800-an dan 1870-an. Skala operasi pembantaian ini benar-benar mengerikan jumlahnya dan saat itu dianggap sebagai perbuatan legal. Hanya pada 23 Juli 1860 saja ada 235.200 ekor burung yang dikirimkan dari Grand Rapids di Michigan untuk kota-kota di pantai timur.

Selama 1874 Oceana County di Michigan mengirimkan satu juga burung ke pasar di pantai timur dan dua tahun kemudian mengirimkan 400 ribu burung per pekan sehingga secara total mengirimkan 1.600.000 ekor burung pada tahun itu.

Pada 1869, Van Buren County, juga di Michigan, mengirimkan 7.500.000 burung ke kota-kota di pantai timur. Bahkan pada 1880, ketika jumlah burung merpati pengembara sudah menurun drastis, ada 527.000 burung yang dikirimkan dari Michigan ke pantai timur.

Tidak mengherankan memang jika burung merpati pengembara yang jumlahnya pernah begitu melimpah akhirnya musnah karena pembantaian dalam skala yang besar.

"Burung merpati pengembara sebenarnya bisa dianggap sebagai sumber daya terbarukan karena bisa beranak-pinak di alam liar. Namun jika manusia sebagai pengguna sumber daya itu tidak bijak dalam menggunakannya, semelimpah apapun sumber daya alam itu akan habis juga," ujar Rudiyanto.

Jumlah merpati pengembara turun drastis pada akhir 1880-an dan hanya tinggal ratusan ekor saja pada tahun itu. Merpati pengembara terakhir terlihat di alam bebas di sisi timur Amerika Serikat pada 1890-an dan pada 1900-an merpati jenis ini musnah dari alam liar Ohio. Burung yang dulunya berjumlah lima miliar akhirnya hanya tinggal seekor saja di Kebun Binatang Cincinnati, Ohio pada 1914. Hari ini, 101 tahun yang lalu, Martha mati kaku di kandangnya.



from Google Newsstand RSS Beritagar.id http://ift.tt/1Ffj4wu
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Posting Komentar