Lewis Hamilton di podium Grand Prix Italia di Monza, Minggu (6/9/2015).
Lewis Hamilton di podium Grand Prix Italia di Monza, Minggu (6/9/2015).

Pebalap Mercedes GP Lewis Hamilton kembali menunjukkan dominasinya pada Formula 1 musim ini dengan menjuarai Grand Prix Italia setelah memimpin dari start hingga finis di Sirkuit Monza, Minggu (6/9/2015). Namun kemenangannya tersebut diselimuti dua peristiwa kontroversial yang menimpa pebalap asal Inggris tersebut.

Kontroversi pertama terjadi menjelang dimulainya balapan, saat para pebalap berbaris dan kemudian mengheningkan cipta untuk mengenang pebalap IndyCar Justin Wilson yang wafat dua pekan lalu. Wilson, mantan pebalap F1 asal Inggris, meninggal di rumah sakit pada 25 Agustus 2015 setelah kepalanya terhantam pecahan dari mobil Sage Karam yang menabrak dinding pembatas sirkuit dalam balapan di Pocono Raceway di Long Pond, Pennsylvania, AS, 23 Agustus 2015.

Saat mengheningkan cipta tersebut, tampak Hamilton tidak melepaskan topi yang dikenakannya. Sebuah tindakan yang dianggap tidak menunjukkan rasa hormat. Akibatnya, banyak orang yang mengecam tindakan Hamilton tersebut melalui Twitter.

Akun @AnaColinaF1, misalnya, menulis: "Saya seorang penggemar Lewis Hamilton tapi saya mengakui dia seharusnya melepaskan topinya saat mengheningkan cipta untuk Justin Wilson.

Sementara @StuJones55 berkicau, "Hamilton terlambat dan berbicara di teleponnya saat berjalan untuk acara mengheningkan cipta Justin Wilson dan tidak melepaskan topinya. Mengapa banyak orang yang menyukainya?"

Usai balapan, Hamilton yang sepertinya baru menyadari kesalahannya, lalu meminta maaf melalui Twitter. Pebalap berusia 30 tahun itu menyatakan ia terlalu berkonsentrasi mendengarkan musik di earphone-nya sehingga tidak sadar kalau acara mengheningkan cipta telah dimulai.

Kontroversi kedua terjadi pada balapan yang dimenanginya tersebut.

Hamilton tampil sangat dominan di Monza dan finis terdepan dengan perbedaan waktu lebih dari 25 detik dari peringkat kedua pebalap Ferrari Sebastian Vettel.

Walau demikian, Hamilton dan Mercedes sempat khawatir mahkota tersebut bakal dicabut karena pengawas lomba memutuskan untuk menyelidiki tekanan ban pada mobil Hamilton yang tidak sesuai peraturan. Tekanan udara pada salah satu ban mobilnya, seperti ditulis New York Times, kurang 0,3 psi dari ketentuan aman yang telah ditetapkan Pirelli, pemasok ban untuk semua mobil F1.

Setelah menunggu selama tiga jam, Mercedes akhirnya dinyatakan tidak melakukan kesalahan sehingga Hamilton tak harus menerima penalti. Pengawas lomba, seperti dikutip BBC, menyatakan bahwa Mercedes telah mengikuti semua prosedur keselamatan. Tekanan ban yang lebih kecil itu hanya disebabkan karena selimut ban tidak dihubungkan ke sumber daya sehingga ban menjadi lebih dingin yang berakibat tekanannya menjadi lebih rendah.

Hamilton bisa bernapas dengan lega dan resmi memenangi GP Italia, kemenangannya yang ketujuh pada musim ini dan ke-40 sepanjang karirnya. Peluangnya untuk menjadi kembali menjadi juara dunia tahun ini pun membesar karena sekarang ia memimpin klasemen pebalap dengan perbedaan 53 angka peringkat kedua Nico Rosberg yang juga rekan setimnya di Mercedes.

"Saya merasa akhir pekan ini adalah balapan terbaik saya. Saya sangat gembira dengan cara saya membalap. Saya merasa sangat kuat sekarang," kata Hamilton seperti dikutip The Guardian.

"Apapun yang kelak menghadang akan saya coba terabas. Saya pikir ini adalah akhir pekan terbaik saya."

Walau demikian, beberapa tim lain berpendapat seharusnya Hamilton didiskualifikasi.

"Kalau sayap mobil Anda terlalu lebar satu milimeter saja maka Anda akan dikeluarkan (didiskualifikasi, red.)," kata Pat Symonds, direktur teknik tim Williams, kepada NYTimes, mengindikasikan bahwa seharusnya ban juga diperlakukan sama.



from Google Newsstand RSS Beritagar.id http://ift.tt/1ELljwJ
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Posting Komentar