Luapan kegembiraan skuat Islandia menyambut tiket ke Euro 2016 Prancis
Luapan kegembiraan skuat Islandia menyambut tiket ke Euro 2016 Prancis

Laman Buzzfeed menyebut Islandia adalah negara terbaik di dunia. Ada 32 alasan di sana. Antara lain; tingkat literasi (melek huruf) 99 persen, jumlah produksi buku per kapita melebihi negara manapun di dunia dan matahari tak pernah benar-benar tenggelam saat musim panas.

Kini, Islandia -- negeri berpenduduk 330 ribu jiwa di kawasan Skandinavia alias negeri terkecil di Eropa -- punya catatan positif baru. Mereka untuk pertama kalinya sepanjang sejarah lolos ke turnamen sepak bola utama, Euro 2016.

Islandia lolos setelah bermain tanpa gol dengan Kazakhstan di bawah guyuran hujan dalam lanjutan kualifikasi Grup A, Minggu (6/9/2015). Artinya, mereka bersama Republik Cek menyusul Inggris yang lebih dulu memastikan diri ke Prancis.

Ini adalah kejutan. Islandia bukan kekuatan sepak bola Eropa. Sebelum menjalani kualifikasi Euro 2016, mereka hanya superior atas tim kecil lain sekelas Malta, Albania, Andorra dan Armenia. Demikian catatan Wikipedia.

Bahkan satu dekade silam, Islandia hanya berakhir di peringkat lima kualifikasi grup Piala Dunia 2006. Mereka hanya unggul dari Malta berkat satu kemenangan dan cuma punya empat poin dari 10 laga.

Tapi pasca itu, Islandia berubah drastis. Mereka bahkan nyaris lolos ke Piala Dunia 2014 Brasil apabila Kroasia tidak mencegatnya di babak play-off Zona Eropa.

Mental kemenangan

Namun gagal ke Piala Dunia bukan berarti kiamat. Islandia memperbaiki diri dan bersinar di kualifikasi Euro 2016. Kehadiran pelatih veteran asal negeri serumpun Swedia, Lars Lagerback, sejak Oktober 2010 adalah faktor penentu pertama.

"Dulu, target kami saat melawan tim kuat adalah hanya berusaha mencapai hasil 0-0. Tapi di bawah pimpinan Largerback dan (mitra pelatih) Heimir Hallgrimsson sekarang, kami selalu berupaya memenangi pertandingan tanpa peduli siapa lawan.

"Tim ini disuntik mental kemenangan. Bahkan sebelum melawan Belanda di Amsterdam, tim ini sudah dipersiapkan untuk menang," ujar jurnalis top Islandia, Tomas Thor Thordarson, dalam obrolannya dengan ESPN FC.

Lars Lagerback
Lars Lagerback

Lagerback, yang menangani timnas Swedia selama 14 tahun dan dalam kurun itu sembilan tahun terakhir bersama tim senior -- mengubah mental bertanding Islandia.

Kepada The Guardian, November 2013, pelatih berusia 63 itu berkata," Sewaktu mereka mengangkat saya sebagai pelatih, mereka tak punya target. Jadi, saya tak punya tugas harus menang atau apapun.

"Tapi saya tak pernah menjalankan sebuah tugas bila tak yakin akan berhasil. Saya bersedia melatih Islandia lantaran negeri ini punya sekelompok pemain bagus, terutama para para pemain U21 yang berhasil menembus putaran final U21 Eropa."

Mental tak mau kalah itu berbuah manis. Hingga delapan matchdays di Grup A, Belanda dikalahkan dua kali. Turki dan Cek masing-masing dibekap sekali. Islandia hanya kalah sekali dari Cek dan dua kali imbang bersama Latvia serta Kazakhstan.

Tapi hanya bermodalkan mental saja pasti belum cukup.

Gudjohnsen dan produksi pelatih

Seperti disampaikan Lagerback, Islandia punya kelompok pemain muda potensial. Barisan pemain U21 kini sudah berubah menjadi "generasi emas" berusia 24-26.

Selama masa kualifikasi, Lagerback dan Hallgrimsson hanya menggunakan tujuh pemain berkepala tiga dari total 30 pemain yang dipanggil.

Di antara "pemain emas" itu adalah Gylfi Sigurdsson (Swansea) dan kapten Aron Gunnarsson (Cardiff City). Mereka dan banyak generasi muda Islandia terinspirasi Eidur Gudjohnsen (36) -- pemain paling sukses dari Islandia.

Gudjohsen pernah membela Chelsea dan Barcelona. Dia pernah juara liga di Inggris, Spanyol, Belanda dan ikut meraih trofi Liga Champions.

"Anak-anak Islandia menjadikan Gudjohnsen sebagai contoh, sebagai ikon," kata Magnus Magnusson, pemilik agen pemain Total Football.

Para pemain mumpuni itu juga dilahirkan lewat revolusi infrastruktur. Federasi Sepak Bola Islandia (KSI) membuat sistem pengembangan pemain. Siapapun yang berpotensial akan dikirim lebih dini ke klub-klub profesional Eropa. Maklum, Islandia hanya punya klub semipro.

Antara lain Kolbeinn Sigthorsson dan Gunnarsson hijrah ke AZ Alkmaar (Belanda) pada usia 17. Birkir Bjarnason bergabung dengan Viking Stavanger (Norwegia) pada usia serupa. Sedangkan Sigurdsson memulai petualangan di Inggris saat berusia 16 di Reading.

Per akhir 2014, Islandia punya 58 pemain senior profesional dan 23 remain yunior yang berkarir di seantero Eropa.

Sigurdsson (kanan) bersinar di Swansea
Sigurdsson (kanan) bersinar di Swansea

Namun pembinaan akar rumput tak akan pernah optimal apabila tidak dibarengi produksi pelatih berkelas dalam jumlah cukup. Belgia dan Jerman pun melakukan hal serupa. Pembinaan pemain bukan berarti melupakan pembinaan pelatih.

Islandia punya sekitar 560 pelatih berlisensi UEFA A dan 165 pelatih berlisensi UEFA B per akhir 2013. "Kedengarannya tak banyak, tapi angka itu secara per kapita di atas Spanyol atau Jerman," ujar Hallgrimsson kepada Vice Sports.

Artinya, lanjut pelatih berusia 48 itu, Islandia mengklaim punya satu pelatih per pemain. Bahkan menurut Hallgrimsson lagi, setiap kampung di Islandia pasti punya pelatih bagus atau berkualitas setara dengan para pelatih di Liga Premier Islandia.

Di Islandia, terdapat 90 klub sepak bola -- mayoritas amatir -- yang meliputi sekitar 20 ribu pemain.

"Setiap kampung seolah-olah berlomba punya pelatih bagus dan fasilitas (latihan) memadai untuk anak-anak. Jadi, setiap kampung bangga bila mampu menghasilkan pemain bagus," katanya.

Islandia juga membangun infrastruktur teknis. KSI membangun lapangan ukuran utuh, ukuran setengah utuh dan lapangan artifisial untuk latihan 5-a-side di setiap sekolah.

Bahkan, setiap sekolah di Islandia saat ini punya lapangan artifisial dalam ruangan (indoor) yang bisa digunakan selama 12 bulan sepanjang tahun. Adapun lapangan latihan untuk anak-anak sedikitnya berJumlah 120.

Islandia, yang selama ini hanya kenal olahraga kurang populer macam bola tangan, akhirnya mampu membangkitkan animo sepak bola. Pada 2013 lalu, Presiden KSI Geir Thorsteinsson mengatakan stadion bakal penuh apabila Islandia bertanding melawan tim-tim kuat dunia.

Tapi saat ini stadion selalu penuh -- siapapun lawannya. Saat melawan Kazakhstan, seluruh 9.500 kursi di Stadion Laugardalsvollur, Reykjavik, terisi penuh. "Para pemain yang berjasa menarik penonton ke stadion," kata Thorsteinsson.

Kini Islandia, khususnya Lagerback dan Hallgrimsson, tinggal memusatkan fokus pada putaran final Euro 2016 meski kualifikasi masih menyisakan dua laga dan turnamen di Prancis itu akan berlangsung kurang lebih sembilan bulan lagi.

Namun untuk menghitung peluang di Prancis, masih terlampau dini. Saat ini, mereka masih berpesta.



from Google Newsstand RSS Beritagar.id http://ift.tt/1XB1myS
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Posting Komentar