Petugas memasukkan sapi impor yang baru saja tiba dari Australia ke dalam bak truk di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (2/9). Pemerintah mengimpor sebanyak 50.000 sapi potong dari Australia secara bertahap pada periode Agustus hingga Desember 2015 guna menjaga kestabilitas pangan khusunya kebutuhan daging sapi bagi masyarakat.
Petugas memasukkan sapi impor yang baru saja tiba dari Australia ke dalam bak truk di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (2/9). Pemerintah mengimpor sebanyak 50.000 sapi potong dari Australia secara bertahap pada periode Agustus hingga Desember 2015 guna menjaga kestabilitas pangan khusunya kebutuhan daging sapi bagi masyarakat.

Badan Urusan Logistik (Bulog) mulai mendatangkan sapi impor siap potong dari Australia. Setelah kontrak dengan perusahaan Australia diteken, sebanyak 2.350 ekor sapi didatangkan untuk tahap pertama.

Dikutip dari Kontan.co.id, selama bulan September ini, ada empat pengiriman (shipment) yang akan dilakukan.

Untuk pengiriman kedua akan didatangkan sebanyak 1.450 ekor, ketiga sebanyak 1.100 ekor dan keempat sebanyak 2.200 ekor. Dengan total sapi siap potong yang didatangkan Bulog selama September adalah 7.100 ekor.

Sementara, total izin yang diterbitkan pemerintah adalah sebanyak 50.000 ekor sampai bulan Desember 2015. Dengan pengapalan dilakukan lewat Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

"Pemasukan selanjutnya akan dilakukan bertahap sesuai dengan kebutuhan. Dengan memperhatikan kondisi pasokan sapi potong dalam negeri," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH)Kementerian Pertanian Muladno Basar, yang ditemui DetikFinance, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (2/9/2015).

Muladno mengatakan, kedatangan sapi impor ini adalah untuk menjaga stabilitas harga daging dalam negeri.

Sepanjang tahun 2015, realisasi impor sapi bakalan yang diberikan kepada feedloter belum mencapai target keseluruhan. Pada kuartalpertama, realisasinya hanya 97.618 ekor dari 100.000 ekor kuota yang diizinkan.

Sedangkan kuartal dua hanya terealisasi 201.243 ekor atau 75,2 persen dari target 267.624 ekor. Sementara untuk kuartal ketiga baru diterbitkan izin impor sebanyak 50.000 ekor dan realisasinya masih belum dihitung.

Pembatasan sapi di kuartal ketiga ini yang membuat sejumlah perusahaan penggemukan sapi (feedloter) menahan pasokan sapinya. Akibatnya, kelangkaan pasokan membuat harga daging sapi melonjak hingga Rp140.000 per kilogram pascaLebaran.

Sementara itu, Kementerian Pertanian telah membuat revisi Permentan No.42 tahun 2015 yang diterbitkan 29 Juli 2015 lalu dengan menghapus poin impor sapi potong.

Revisi tersebut sudah dikirimkan ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan akan diterbitkan dalam waktu satu dua hari ke depan.

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah mulai tahun ini akan mengubah mekanisme impor daging sapi. Selain Australia, impor sapi juga berpeluang dari India dan Brasil dengan sistem zona.

"Sekarang ini yang diimpor bukan hanya bakalan, tetapi juga indukan," kata Darmin, seperti yang ditulis Berita Satu, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (2/9/2015).

Darmin mengungkapkan, negara-negara seperti India dan Brasil akan menjadi sasaran impor baru Indonesia.

"Tadinya Australia melulu. Ke depan ada perubahan peraturannya. Impor itu menurut zona. Jadi di India, walaupun negara keseluruhan tidak bebas dari penyakit mulut dan kuku, tapi ada daerah yang bebas atau yang ringan persoalannya," katanya.

Sementara itu, impor daging sapi dari Selandia Baru sebanyak 10.000 ton yang ditugaskan kepada Bulog masih dalam proses dan belum ada keputusan final, apakah rencana impor itu akan dilakukan pada tahun ini atau awal tahun depan.

Sapi impor siap potong dari Australia pengiriman pertama telah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (2/9/2015) pagi setelah menempuh hampir seminggu perjalanan dari Australia yang diberangkatkan pada 28 Agustus 2015 lalu. "Berat sapi ini sekitar 450 kilogram (kg) hingga 500 kg per ekor," ujar Muladno di Tanjung Priok.



from Google Newsstand RSS Beritagar.id http://ift.tt/1LMuEnU
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Posting Komentar