7 September 2004, tokoh hak asasi manusia Indonesia, Munir Said Thalib berpulang. Ajal menjemputnya di udara, di atas pesawat Garuda Indonesia (GA 974) rute Jakarta-Amsterdam. Racun arsenik yang diselipkan di makanannya menjadi penyebab kematian pria ceking kelahiran malang itu.
Senin (7/9/2015), tepat 11 tahun berpulangnya sosok yang pernah dianugerahi Right Livelihood Award (2001) itu. Tagar #11TahunMunir pun terlihat merajai topik tren Twitter Indonesia. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa netizen --terutama para aktivis-- terus menuntut penyelesaian kasus pembunuhan Munir.
Akun Twitter @Dandhy_Laksono --dikenal milik jurnalis video Dandhy Dwi Laksono-- membagikan sejumlah tangkapan layar yang menunjukkan bahwa sejumlah netizen telah mengganti avatar akun media sosial mereka, dengan ilustrasi wajah Munir.
Mengganti avatar telah jadi aktivitas rutin dalam setiap peringatan meninggalnya Munir. Merujuk Tempo.co, Dandhy juga pernah mengajak netizen melakukan hal serupa pada tahun 2012.
Kali ini, hal yang sama juga kembali diutarakan oleh pembuat film tentang Munir berjudul Kiri Hijau Kanan Merah itu. "Kalau tahun ini 10 persen warga facebook Indonesia yang mencapai 69 juta akun bersedekah profil pic-nya sehari saja, akan mengirim pesan yang kuat bahwa kita sebagai warga negara masih menunggu keadilan ditegakkan," tulis akun Dandhy Laksono di Facebook, Minggu (6/9).
Aktivitas mengganti avatar juga dilakukan akun Twitter @Kontras, yang dikenal sebagai corong Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan. (KontraS) di linimasa.
Avatar organisasi non-pemerintah yang turut didirikan Munir itu dilengkapi dengan pertanyaan: Di mana Jokowi? Di mana Hendro? Di mana Polly?
Dalam salah satu kicauannya, @KontraS memang meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk tidak melindungi pelaku pembunuhan Munir.
Adapun Polly merujuk pada Pollycarpus Budihari Priyanto. Mantan pilot Garuda itu divonis 14 tahun dalam kasus pembunuhan Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, telah menaruh arsenik di makanan Munir, karena dia ingin mendiamkan pengkritik pemerintah tersebut.
Namun Pollycarpus menerima pembebasan bersyarat pada November 2014. Pembebasan Pollycapus mendapat sambutan negatif dari para aktivis, termasuk dari istri Munir, Suciwati.
"Jokowi bohong! Kalau mau serius berbicara HAM, tidak usah ngomong terlalu tinggi. Kasus Munir kalau memang serius, pembebasan bersyarat semestinya tidak ada," ucap Suciwati, dikutip CNN Indonesia (29 November 2014).
Adapun Hendro yang dimaksud dalam kicauan @Kontras, adalah Hendropriyono. Purnawirawan TNI itu menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) saat pembunuhan Munir. Kasus Munir turut membuka sejumlah dugaan seputar keterlibatan BIN.
Jakarta Globe mengutip kabel Wikileaks yang membuka kemungkinan keterlibatan Hendropriyono. Kabel itu menyebut Hendropriyono "memimpin dua pertemuan yang membahas rencana pembunuhan Munir." Saksi pada pertemuan itu mengatakan, "hanya waktu dan metode pembunuhan berubah dari rencana. Menurut pendengarannya; rencana asli adalah untuk membunuh Munir di kantornya."
Keterlibatan BIN juga sempat mengemuka, dalam kesaksian mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Indra Setiawan. Ia mengaku menerima surat penugasan dari BIN langsung dari Pollycarpus.
Surat yang kemudian hilang itu, menyebutkan bahwa Garuda sebagai obyek negara yang bersifat vital dan strategis harus ditingkatkan keamanannya. Indra pun diminta untuk menempatkan Pollycarpus di bidang keamanan perusahaan.
Catatan lain, (Mayjen Purn.) Muchdi PR sempat jadi terdakwa dalam kasus Munir. Profilnya dikenal dekat dengan mantan Komandan Jenderal Kopasus Prabowo Subianto, dan sempat menjabat sebagai Deputi V BIN/Penggalangan (2001-2005). Namun pada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas.
Kenapa Munir dibunuh?
Kertas Kerja yang diterbitkan KontraS (Januari 2006), memuat empat kemungkinan motif pembunuhan Munir. Mereka menilai pembunuhan Munir tidak bisa dilepaskan dari sejumlah kasus yang ditanganinya.
Salah satunya adalah kasus penghilangan paksa aktivis 1997-1998. Kasus ini merupakan salah satu titik awal munculnya profil Munir sebagai tokoh hak asasi manusia.
Advokasi atas kasus ini telah membawa beberapa perwira menengah (Tim Mawar) dihukum. Sementara sejumlah perwira tinggi militer mengalami kemunduran karir. Salah satunya, Prabowo Subianto yang dibebastugaskan dari posisi sebagai Komandan Jenderal Kopasus.
Dokumen Kontras juga mencuatkan sejumlah kasus lain yang diduga melatari pembunuhan Munir. Misalnya: Trisakti dan Semanggi, jejak pendapat di Timor Timur, dan Talangsari.
Tempo.co melapokan, pembunuhan Munir juga diduga berhubungan dengan pemberantasan terorisme, yang pada 2004 menjadi agenda nasional. Munir kerap mempertanyakan metode Detasemen Antiteror dan BIN menangkap para pelaku teror tanpa mempertimbangkan hak asasi.
11 tahun berlalu, tuntutan penyelesaian kasus ini juga masih menghadirkan pertanyaan yang sama. Kenapa Munir dibunuh? Siapa saja yang terlibat?
Presiden Jokowi tidak boleh berpikir apalagi bertindak untuk melindungi para pelaku pembunuh Munir! #11TahunMunir http://pic.twitter.com/I9y0u1i6V6
— KontraS (@KontraS) September 7, 2015
Esa Hilang, Sejuta Terbilang http://pic.twitter.com/7jfbIzk5ZN
— Dandhy Laksono (@Dandhy_Laksono) September 7, 2015
#AcehMelawanLupa Munir tetap ada dan berlipat ganda! #11TahunMunir http://pic.twitter.com/wUK8exJIQ1
— Omah Munir (@OmahMunir) September 7, 2015
dan yang terbaik dari segala bentuk penghormatan terbaik u/ Munir adalah doa. baik u/ Almarhum maupun u/ penuntasan kasusnya. #11TahunMunir
— Aksi Kamisan (@AksiKamisan) September 7, 2015
Is your name on the petition? Please sign http://t.co/dqFgaFzGmr #11TahunMunir #11tahunmunirdibunuh #11thMunir
— Usman Hamid (@usmanHAM_ID) September 7, 2015
Kami sudah lelah dengan kekerasan dan ketidakadilan. #11TahunMunir yuk rame2 ganti avatarmu untuk mengingat Munir. http://pic.twitter.com/QupL1YQaKl
— Damar Juniarto (@DamarJuniarto) September 6, 2015
from Google Newsstand RSS Beritagar.id http://ift.tt/1NkKE3H
via Hatree Indonesia
Posting Komentar
Posting Komentar