Polisi Thailand tangkap tersangka bom Bangkok

(Ilustrasi) Seorang perempuan berdoa di depan kuil Erawan, Bangkok.
(Ilustrasi) Seorang perempuan berdoa di depan kuil Erawan, Bangkok.

Kepolisian Thailand menangkap seorang pria asing yang diduga berhubungan dengan serangan bom di dekat Kuil Erawan, Bangkok, Thailand. Ini merupakan penangkapan pertama, setelah ledakan bom yang mengakibatkan 22 orang tewas, serta ratusan lainnya luka-luka.

Sabtu (29/8/2015), seperti dilansir The Guardian, juru bicara polisi Prawut Thavornsiri menjelaskan bahwa pria yang ditangkap berusia 28 tahun. Tersangka diduga menjadi bagian dari jaringan yang melakukan serangan mematikan di Kuil Erawan, serta ledakan kecil --yang tidak menyebabkan korban-- sehari setelahnya.

Sejumlah barang bukti yang ditemukan saat pengeledahan, menunjukkan bahan-bahan yang identik dengan jenis bom dalam dua ledakan tersebut.

Bangkok Post melaporkan, lebih dari 100 orang polisi dilibatkan dalam penangkapan yang dilakukan di kamar 412 dan 414, Pool Anant --sebuah apartemen kecil di pinggiran Bangkok.

Penangkapan dilakukan setelah polisi menerima laporan bahwa seorang pria yang mirip dengan ciri-ciri tersangka --pada rekaman dan sketsa yang tersebar-- tinggal di apartemen tersebut. 

Bersama pria itu juga ditemukan paspor palsu asal Turki, atas nama Adem Karadag. Sumber lain, yang dikutip AFP membenarkan bahwa pria itu berasal dari Turki.

Foto tersangka yang disebar kepolisian Thailand.
Foto tersangka yang disebar kepolisian Thailand.

Rerata media menyebut bahwa pria ini berhubungan dengan jaringan pengeboman. Adapun Reuters mengutip pernyataan kepolisian Thailand yang menjelaskan bahwa tersangka memiliki memiliki ciri identik dengan pria yang terekam kamera CCTV meninggalkan tas di lokasi ledakan.

Dalam konferensi pers, Kepala Polisi Thailand Somyot Pumpanmuang menyebut ledakan bom ini bukan aksi teroris internasional. Motif pelaku adalah, "membalas dendam pribadi untuk rekan-rekannya," seperti disebut Somyot. Namun ia tidak merinci soal dendam tersebut.

Sebagai catatan, merujuk laporan Al Jazeera, awal pekan ini polisi Thailand mengatakan tetap membuka semua kemungkinan pelaku serangan. Beberapa spekulasi juga beredar, mulai dari teroris internasional, gerakan pemberontakan Melayu-Muslim di selatan Thailand, hingga hal-hal berbau dendam pribadi.

Beberapa analis keamanan, berspekulasi soal keterlibatan etnis muslim Uighur, Tiongkok --atau simpatisan mereka. Mereka mengaitkannya dengan pemulangan paksa yang dilakukan pemerintah Thailand terhadap lebih dari 100 pengungsi Uighur (Juli 2015). Etnis Uighur mengungsi karena nasib yang tidak pasti di Tiongkok.

Jumat lalu, polisi juga mengonfirmasi bahwa tiga orang etnis Uighur --yang ditangkap karena masuk ke Thailand secara ilegal-- telah dimintai keterangan seputar ledakan bom di Kuil Erawan.

Bangkok Post mengutip sebuah pernyataan analis perusahaan analis intelijen dan militer, IHS-Jane's yang menyebut kemungkinan keterlibatan dari Grey Wolves. Kelompok militan asal Turki itu sebelumnya menyatakan keberatan atas pemulangan paksa lebih dari 100 orang etnis Uighur oleh pemerintah Thailand.

Warga Turki memiliki solidaritas serta pertalian budaya dengan Uighur. Terutama karena etnis Uighur juga bisa berbahasa Turki.

Adapun kepolisian Thailand menjanjikan hadiah 3 juta baht (atau sekitar Rp1,2 miliar), kepada mereka yang bisa menemukan tersangka pelaku pengeboman.



from Google Newsstand RSS 360 http://ift.tt/1UkZlTa
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat