Zidane akan membuat Madrid main cantik dan menyerang

Zinedine Zidane (tengah) memimpin latihan Real Madrid untuk pertama kali di Valdebebas, di pinggiran kota Madrid, Spanyol, 5 Januari 2016
Zinedine Zidane (tengah) memimpin latihan Real Madrid untuk pertama kali di Valdebebas, di pinggiran kota Madrid, Spanyol, 5 Januari 2016

Zinedine Zidane langsung memimpin latihan Real Madrid, Selasa (5/1/2016), usai ditunjuk menggantikan Rafael Benitez yang dipecat lantaran kinerja buruk. BBC mengabarkan, latihan itu disaksikan sedikitnya 6.000 suporter.

Ada euforia di balik penunjukkan mantan jenderal lapangan timnas Prancis itu. Satu hal yang wajar lantaran Zidane adalah pemain terbesar pada zamannya dan salah satu pemain terbesar sepanjang masa.

Zidane adalah peraih trofi Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Pelatih berusia 43 ini juga pernah juara Serie A dua kali bersama Juventus dan menutup karier bermain di Madrid dengan koleksi masing-masing satu trofi juara La Liga dan Liga Champions.

Jadi, wajar pula bila publik berharap pada dia. Namun Zidane berusaha tak mau bicara banyak saat melakoni jumpa pers perdana sebagai pelatih Madrid kemarin.

Zidane menyiratkan filosofi sepak bola cantik, satu hal yang hilang di Madrid selama tujuh bulan ditangani Benitez. "Saya akan berusaha keras agar bisa memenuhi target juara La Liga dan Liga Champions.

"Memainkan sepak bola cantik adalah hal penting di Madrid dan saya akan melanjutkan itu. Kami harus ofensif dan seimbang," katanya.

Tak pelak Zidane langsung dibandingkan dengan Pep Guardiola, pelatih muda yang sukses merebut 14 gelar juara bersama Barcelona dalam empat tahun awal karier. Pada musim pertamanya; Pep menjuarai Liga Champions, La Liga, dan Piala Spanyol.

Eurosport adalah salah satu media yang membandingkan itu dalam akhir tulisannya. Tapi Zidane menolak perbandingan dan enggan membandingkan dirinya dengan Pep yang kini menjalani musim terakhir bersama Bayern Muenchen di Bundesliga Jerman.

"Yang paling penting adalah bekerja hari demi hari dan menunjukkan bukti kepada skuat," ujar Zidane dikutip The Guardian.

Dalam jumpa pers, Zidane memang menekankan pentingnya mental Madrid untuk mengejar kemenangan sekaligus bermain cantik. Bahkan eks pemain Bordeaux ini tak peduli dengan status legenda yang melekat pada dirinya.

"Tak ada pengaruh status legenda. Peran pelatih adalah meraih hasil dan memenangi pertandingan adalah hal penting," tegas Zidane yang menutup karier bermain dengan menanduk pemain Italia Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006.

Zinedine Zidane (kiri) diabadikan para jurnalis sebelum jumpa pers di Madrid, Spanyol, 5 Januari 2016
Zinedine Zidane (kiri) diabadikan para jurnalis sebelum jumpa pers di Madrid, Spanyol, 5 Januari 2016

Penunjukkan Zidane mendapat pujian dari sejumlah mantan rekan bermain dan para pemain seangkatannya. Tapi sejumlah orang lain meragukan.

Eks pelatih Madrid John Tosack menilai Zidane tak punya pengalaman melatih tim utama sebesar Madrid. Sebelum ini, Zidane hanya menangani Real Madrid B, tim yunior.

Sementara eks pelatih lain Madrid, Manuel Pellegrini, mengingatkan Zidane betapa besarnya kesulitan menangani tim seperti Los Blancos. Pellegrini, yang kini melatih Manchester City, adalah pelatih pertama yang dipecat Madrid di bawah kepemimpinan Presiden Florentino Perez.

Laman World Soccer Talk menilai masalah di Madrid adalah Perez. Dia telah memecat 11 pelatih dalam satu dekade terakhir, termasuk Benitez. "Ada beberapa perbedaan mendasar (antara pelatih) dengan presiden," kata Pellegrini.

Publik kini hanya perlu menunggu apakah Zidane bisa memenuhi harapan. Ujian pertamanya adalah menghadapi Deportivo La Coruna pada Sabtu mendatang (9/1).



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1SyuV2q
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat