Wawancara Din Minimi: Jangan khianati saya lagi

Nurdin bin Ismail Amat alias Din Minimi berpose usai diwawancara Beritagar.id di kediaman orangtuanya, Desa Ladang Baro, Julok, Aceh Timur, Senin sore (04/01/2016).
Nurdin bin Ismail Amat alias Din Minimi berpose usai diwawancara Beritagar.id di kediaman orangtuanya, Desa Ladang Baro, Julok, Aceh Timur, Senin sore (04/01/2016).

Din Minimi ingat betul pohon duren di depan rumah orangtuanya masih kecil, menempel di batu--sebelum dia pergi bersembunyi ke hutan. Empat tahun berlalu, ia kembali, batu itu pecah terbelah akar, pohon durennya pun sudah berbuah. "Di hutan bukan waktu yang sebentar," kata pemilik nama tulen Nurdin bin Ismail Amat ini bercerita.

Dia mengajak Heru Triyono dan fotografer Bismo Agung dari Beritagar.id duduk di halaman rumah orang tuanya, berupa rumah panggung, agak lebih besar dari tipe 36. Rumah itu dikelilingi pohon pinang, sementara bagian belakangnya menghadap hutan. "Silakan duduk," ujarnya Senin sore (04/01/2016), Desa Ladang Baro, Julok, Aceh Timur.

Dari kota Lhokseumawe, jarak tempuh menuju lokasi diperlukan waktu tiga jam. Jalannya berkelok, dan melewati beberapa jembatan kayu rusak.

Jalan masuk dijaga belasan anak buahnya, yang merupakan gabungan eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka, dan anggota yang baru bergabung--di masa Din memberontak dengan senjata. "Saya kecewa dengan Pemerintah Aceh," kata pria berusia 40 tahun ini.

Din memimpin anak buahnya itu selama di hutan. Jumlahnya ia sebut ada 42 orang. Puncaknya, di akhir 2014, ia menyatakan perang terhadap Gubernur Aceh Zaini Abdullah, mantan menteri luar negeri GAM dan wakilnya, Muzakir Manaf, mantan panglima Tentara Nasional Aceh.

Keberadaan mereka dicari. Apalagi pasca tewasnya dua intelijen tentara di Nisam Antara, Aceh Utara--yang diduga dibunuh anggotanya. Din, sebagai ketua kelompok bersenjatanya, diburu dalam keadaan hidup atau mati. "Kami hanya jaga diri," katanya, mengelak dipersalahkan.

Namun belakangan ia melunak. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso mengatur penyerahan dirinya sebelum tahun baru kemarin, dengan janji amnesti. Din menyambut dan menuntut agar janji itu jangan dilanggar. "Saya sudah niat baik. Jangan dikhianati," ujarnya.

Ketika wawancara, empat pria--badannya lebih besar dari Din--terus menyipitkan mata ke kami. Mereka memeriksa barang yang dicurigai sebagai senjata, seperti tas berisi tripod--sebelum bisa bertemu dengan pemimpinnya. "Isi tas itu apa? Jangan macam-macam," kata salah satu pengawal Din.

Selama sejam ia menjawab lugas setiap pertanyaan Beritagar.id tentang perjalanan hidup, pemberontakan, dan hari-harinya menunggu amnesti. Terkadang matanya melotot nanar jika disinggung soal proses hukum yang juga menunggunya. "Kalau proses hukum itu ada, kembalikan senjata saya, biar kita perang lagi," katanya.

Berikut petikannya:

Sejak bersama anggota turun gunung apa saja kegiatan Anda?
Kah (kamu) lihat sendiri, saya terima tamu. Tenda juga belum dicabut karena banyak keluarga ingin bertemu. Kalau tidak ada, ya paling main HP (telepon seluler). Saya biasa di hutan, jadi agak kebingungan.

Mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Minggu (03/01/2015), juga bertamu, apa yang dibicarakan?
Itu kawan lama.

Ada motivasi kedatangan dia?
Tidak. Kami hanya bicara tentang masa lalu, bukan soal apa maksud saya untuk turun gunung.

Berapa lama berpikir hingga akhirnya mau menyerahkan diri dan turun gunung?
Saya tidak perlu berpikir. Ketika salat, saya selalu minta diberikan jalan oleh Allah.

Apa sih yang membuat Anda akhirnya melunak dari bujukan BIN (Badan Intelijen Negara)?
Saya bilang tadi. Ini jalan Yang Maha Kuasa. Kalau kita niat baik, maka Allah memberi jalan.

Siapa yang menjembatani Anda dengan BIN? Atau Anda langsung berkomunikasi dengan Sutiyoso?
Juha Christensen (ketua penasihat politik Ketua Aceh Monitoring Mission) datang ke tempat saya di gunung (tempat pelarian), sekitar awal Desember. Saya sudah mengenalnya ketika masa konflik dan perdamaian. Dia dua kali datang ke gunung dan meyakinkan saya tentang jalan ini (penyerahan diri dan amnesti). Ketika turun, dia menemui Pak Sutiyoso, dan barulah Pak Sutiyoso menjumpai Presiden. Setelah itu Pak Sutiyoso menemui saya.

Apa yang membuat yakin dengan tawaran Juha Christensen?
Bukan menawarkan. Saya dan dia hanya ngobrol tentang misi saya. Di situ saya jelaskan, bahwa misi saya adalah menyejahterakan anak yatim, Inong Balee, fakir miskin. Kami banyak diskusi dulu, bukan jumpa langsung deal. Sampai sekarang saya masih berkomunikasi dengan Juha, dan juga Pak Sutiyoso, lewat HP.

Anda memiliki hubungan khusus dengan Juha?
Insya Allah, walaupun dia kafir ha-ha-ha. Tapi ada sisi baiknya juga dia.

Bagaimana dengan Sutiyoso? Anda langsung percaya dengan dia?
Dia (Sutiyoso) bicaranya tidak terbalik-balik. Dari mulai komunikasi lewat telepon hingga jumpa tidak ada perubahan, konsisten.

Apa syarat yang Anda ajukan kepada Sutiyoso dan Juha?
Amnesti dan kesejahteraan untuk masyarakat kecil agar layak hidupnya. Intinya ada enam poin, yang saya sebutkan ketika berjumpa Sutiyoso.

(Berikut ini enam tuntutan Din Minimi):
1. Lanjutkan proses reintegrasi
2. Kesejahteraan para janda korban dan mantan GAM dijamin oleh pemerintah
3. Kesejahteraan anak-anak yatim piatu korban dan keluarga mantan GAM dijamin kepastiannya oleh pemerintah
4. KPK menyelidiki dugaan penyelewengan dana APBD oleh Pemda Aceh
5. Ada pemantau indenpenden dalam Pilkada Aceh pada 2017
6. Pemberian amnesti kepada seluruh anggota kelompok Din Minimi yang menyerahkan diri

Nurdin bin Ismail Amat alias Din Minimi berpose usai diwawancara Beritagar.id di kediaman orangtuanya, Desa Ladang Baro, Julok, Aceh Timur, Senin sore (04/01/2016).
Nurdin bin Ismail Amat alias Din Minimi berpose usai diwawancara Beritagar.id di kediaman orangtuanya, Desa Ladang Baro, Julok, Aceh Timur, Senin sore (04/01/2016).

Dalam hitungan Anda ada berapa banyak anak yatim dan janda eks kombatan GAM yang harus dibantu?
Ada sekitar 5 ribuan. Saat dialog ke Pak Sutiyoso sudah saya sampaikan, dan dia bilang siap membantu.

Sepanjang yang Anda tahu sudah sejauh mana proses amnesti dilakukan?
Belum tahu.

Sutiyoso hari ini (Senin, 04/01/2016), secara resmi menyerahkan surat pengajuan amnesti Anda kepada Presiden Joko Widodo. Komentar Anda?
Saya tahu, tapi persisnya bagaimana, tidak tahu. Pak Sutiyoso sudah hubungi saya langsung soal itu, ini pertanda baik.

Optimis amnesti diberikan?
Yakin. Karena begini. Presiden tidak mungkin berubah. Kecuali kita ini pencuri. Kita ini tujuannya untuk menyejahterakan rakyat. Tapi kalau mau ribut terserah, kalau dari saya tidak. Silakan memulai (keributan), tapi jangan dari saya. Tanpa senjata pun saya berani, ayo berkelahi.

Tapi oleh aparat, kelompok Anda dicap kriminal?
Kami bukan bertindak kejahatan, tapi gerakan saya ini untuk kebaikan.

Polisi ingin catatan kriminal kelompok Anda diproses secara hukum dulu sebelum diberikan amnesti. Komentar Anda?
Sanggup nanti mengatasi saya? Proses hukum bagaimana? Jangan lagi buat masalah. Malam ini dikasih senjata saya siap. Saya tidak takut mati. Mati saya dalam kebaikan.

(Menurut Kepala Kepolisian Republik Indonesia Badrodin Haiti, kelompok Din Minimi terlibat sembilan kasus, di antaranya pembunuhan terhadap dua anggota Intel Kodim 0104 Aceh Utara)

Ada janji khusus dengan tim perunding dari BIN sehingga proses hukum ini tidak perlu dilakukan?
(Tidak menjawab)

Artinya Anda memang tidak bersedia diproses secara hukum?
Tidak mau. Kalau ada proses hukum, kembalikan senjata saya, biar kita perang lagi. Jangan main-main. Kita sudah baik-baik dengan yang sana (pusat). Jangan bicara hukum ini itu, saya tahu hukum juga. Pemberian amnesti itu hak presiden. Panas kuping kalau bicara hukum terus. Jangan khianati saya lagi.

Anda juga meminta pemberian amnesti kepada seluruh anggota. Ada berapa jumlahnya?
Saya ingat-ingat dulu. Nama sandi saja ya, Tengku Plang, Doyok, Komeng, Dakir, Kobra, Skinhead, Siglok, Sitong, Sami, Siting. Ada satu lagi yang ditahan di LP (Lembaga Pemasyarakatan) Aceh Utara.

(Sutiyoso menyatakan, pemerintah akan memberikan amnesti untuk 150 anggota kelompok bersenjata pimpinan Din Minimi di Aceh, termasuk yang di dalam tahanan)

Kabarnya ada beberapa tahanan yang mendompleng atau mengaku-ngaku anak buah Anda agar diberi amnesti?
Tidak bisa lah. Mereka bukan kelompok kami. Kalau kelompok saya itu sudah didikan semua.

Bagaimana Anda mengawasinya kan susah...
Itu tidak boleh terjadi. Kalau Komeng dan Tengku Plang memang anggota saya. Keduanya pernah latihan.

Polisi telah menangkap 30 anggota kelompok Anda sepanjang 2015. Apakah itu anak buah Anda semua?
Tidak. Mereka (tahanan lain) bisa jadi minta duit dengan mencatut nama saya, biar dapat amnesti. Banyak yang mengaku-ngaku anggota saya. Dari telepon juga ada yang meminta.

Bagaimana nasib anggota Anda di dalam tahanan selama proses amnesti ini?
Mereka semoga sabar. Butuh proses juga. Kan tidak semudah membalikan telapak tangan.

Kapan Anda bertemu dengan Sutiyoso kembali?
Tanggal 26 Januari (2016).

Faisal bin Arani alias Komeng dan Jalifnir alias Tengku Plang saat ditemui Beritagar.id di Lembaga Pemasyarakatan Lhoksukon, Aceh Utara, Senin (04/01/2015). Keduanya, yang merupakan anggota Din Minimi, dituduh membunuh dua intelijen tentara di Nisam Antara, Aceh Utara.
Faisal bin Arani alias Komeng dan Jalifnir alias Tengku Plang saat ditemui Beritagar.id di Lembaga Pemasyarakatan Lhoksukon, Aceh Utara, Senin (04/01/2015). Keduanya, yang merupakan anggota Din Minimi, dituduh membunuh dua intelijen tentara di Nisam Antara, Aceh Utara.

Jalifnir alias Tengku Plang berjalan menuju kursi tamu depan ruang Kepala Lembaga Pemasyarakatan Lhoksukon, Aceh Utara dengan tertatih. Ia memakai tongkat penyangga yang diapit di bawah kedua ketiaknya. Dia dan Faisal bin Arani alias Komeng bersedia ditemui Beritagar.id dan satu wartawan lokal, pada Senin (04/01/2016) untuk bicara soal amnesti.

Keduanya, yang merupakan anggota Din Minimi, dituduh membunuh dua intelijen tentara di Nisam Antara. "Saya minta doanya agar amnesti diberikan. Saya tidak membunuh tentara," kata Komeng.

Mereka mengklaim kelompok Din dalam masa gerilyanya tidak memakai pola intimidasi dan kriminal. Sehingga banyak simpati muncul dari penduduk, yang kemudian justru ikut bergabung. "Bang Din tegas. Ia memberi intruksi ke penduduk untuk menelponnnya jika ada teror yang mengatasnamakan kelompok kami," ujar Tengku Plang.

Tapi sidang pengadilan untuk keduanya sudah di depan mata. Polisi mengklaim sudah mengumpulkan cukup bukti untuk menyeret mereka ke penjara. Komeng mengatakan, ia seharusnya disidang hari ini, tapi entah kenapa hal itu ditunda.

Wawancara hanya sebentar. Keduanya pun kembali berbaur bersama tahanan lainnya.

Kapan predikat nama Minimi yang melekat di belakang nama Din Anda sandang?
Selama konflik 2002. Waktu itu anggota lain memanggil saya Minimi karena saya selalu menyebut nama ayah yang juga mendapat panggilan sama. Saya tidak tahu lagi kuburan ayah saya, sehingga saya selalu menyebut namanya ketika perang era 2000 hingga masa perjanjian Helsinki sedang berproses.

Senjata Minimi (sejenis senjata serbu buatan Belgia) adalah senjata pertama yang Anda pegang?
Saya lupa.

Bagaimana awalnya Anda memegang senjata dan ahli menggunakannya?
Saya mengenal senjata dari Ayah (Ismail Minimi). Dia mahir, dan senjata ya sudah biasa di keluarga.

(Menurut Komeng--anak buahnya yang ditahan--Din paling jago berburu di dalam hutan. Dengan senapan AK-47, Din tidak pernah meleset dalam menembak rusa. Karena itu ia disegani).

Keluarga besar Anda berafiliasi ke GAM. Bahkan di rumah ayah Anda (di Geureudong Pase) diadakan rapat pertama perjuangan GAM. Anda menyaksikannya?
Saya melihat. Sejak dulu memang orang-orang itu rapat di rumah saya, mereka ingin Aceh sejahtera, ingin merdeka, karena melihat ketimpangan. Waktu itu usia saya 12 tahun, jadi saya agak lupa siapa saja elit GAM yang hadir.

Seperti apa gambaran keadaan ekonomi di keluarga Anda ketika itu?
Saya orang susah. Ayah dan ibu dapat penghasilan dari hasil panen cabai dan kacang di ladang. Tapi mereka begitu giat, meski baru tiga bulan sekali bisa panen. Saya ketika kecil bandel, disuruh mengaji atau sekolah terkadang tidak mau. Atau bilangnya sekolah tapi tidak sampai. Dan ketika itu sekolah juga dibakar GAM.

Jadi Anda tidak pernah mengenyam pendidikan?
Saya sempat sampai sekolah dasar, dan ketika itu sudah pisah sama bapak dan mamak. Saya harus cari makan sendiri.

Bagaimana ceritanya kemudian Anda masuk GAM?
Saya sebenarnya bukan GAM, ya karena ayah saja, sehingga dicap GAM. Tapi tidak ada paksaan masuk GAM.

Apa sebenarnya cita-cita sewaktu kecil?
Saya ingin jadi operator alat berat dan sopir. Saya lihat abang-abang (pria lebih tua) mengoperasikan alat berat itu, ya saya suka. Dan itu tercapai. Saya menjadi operator alat berat (Deco) di RGM (Raja Garuda Mas) tahun 1999 sampai 2003. Saat itu saya bekerja sampai ke Pekan Baru, Meulaboh dan Jakarta.

Siapa idola Anda?
Tidak ada. Karena saya tidak terlalu tahu dunia luar. Kalau dari hutan pergi ke desa, tidak pernah banyak cakap. Duduk ya duduk, bekerja ya bekerja.

Bagaimana mulanya Anda mulai beraksi karena ketidakpuasan terhadap elit GAM sendiri yang kini berada di Pemerintahan Aceh?
Ini bukan masalah ketidakpuasan. Mereka ini sebelum naik telah menjanjikan. Saya tidak mau sekedar ucapan. Sebelum Pemilu, per kepala keluarga dijanjikan Rp1 juta. Mereka juga menjanjikan menyejahterakan anak yatim dan janda para pejuang, naik haji gratis, juga pengaspalan jalan. Saat ini tidak ada.

Nurdin bin Ismail Amat alias Din Minimi berpose usai diwawancara Beritagar.id di kediaman orangtuanya, Desa Ladang Baro, Julok, Aceh Timur, Senin sore (04/01/2016).
Nurdin bin Ismail Amat alias Din Minimi berpose usai diwawancara Beritagar.id di kediaman orangtuanya, Desa Ladang Baro, Julok, Aceh Timur, Senin sore (04/01/2016).

Jadi gerakan atau aksi Anda ini murni karena kekecewaan itu atau apa?
Ini reaksi. Mana yang mereka janjikan? Sudah sekitar 4 tahun lebih kami beraksi dan bersembunyi di hutan tapi tidak ada bukti.

Apakah selama itu tidak pernah ada komunikasi dengan Pemerintah Aceh?
Tidak sama sekali, malah saya diburu.

Sebenarnya apa kekecewaan terbesar Anda terhadap mereka?
Saya ini anak yatim, saya mau ingatkan bahwa banyak anak yatim yang sengsara. Ini tidak adil.

Kalau yang jadi musuh adalah Pemerintah Aceh, tapi kenapa tentara dan polisi yang diserang?
Bukan berarti saya memegang senjata untuk menembaki aparat. Tidak. Senjata ini saya bawa karena untuk jaga diri. Karena saya diburu.

Anda pernah minta bantuan orang luar ketika di hutan?
Komunikasi keluar saja tidak, saya hanya minta bantuan ke Allah.

Bagaimana Anda dan para anggota bertahan hidup di sana?
Masak saja yang ada. Kami masak bergantian, memegang senjata juga gantian. Satu pucuk senjata itu dipegang lima orang. Senjata itu bukan untuk menembak, kalau kita ditembak baru membela diri. Paling berat, ya pas kontak senjata. Ketika kawan terkena, bawa lari.

Ada berapa orang yang bersama Anda ketika di hutan?
42 orang.

Mereka masih ada yang di dalam hutan?
Tidak ada. Ya mana tahu datang Din Minimi lain. Yang saya tahu, anggota kita sudah turun semua, jangan coba-coba ganggu.

Anda mendapat pasokan senjata dari mana?
Bekas dulu (GAM), mana ada yang memasok ke kami.

Dengan sikap memberontak Anda apakah ada faksi GAM lain yang keberatan dengan Anda?
Pasti ada.

Terakhir. Sebenarnya apa arti Indonesia untuk Anda?
Belum tahu.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/22M343c
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat