Waspadai Zika, virus penyebab otak bayi mengecil

Virus Zika yang menjangkiti ibu hamil bisa menyebabkan bayi lahir dengan kepala bayi lebih kecil dari ukuran normal atau mikrosefali
Virus Zika yang menjangkiti ibu hamil bisa menyebabkan bayi lahir dengan kepala bayi lebih kecil dari ukuran normal atau mikrosefali

World Health Organization (WHO), seperti diwartakan Reuters, melaporkan bahwa pada pertengahan Desember 2015 terdapat 1.761 kasus bayi lahir dengan kepala bayi lebih kecil dari ukuran normal atau mikrosefali di Brazil. Jumlah tersebut meningkat seiring dengan kasus menyebarnya virus Zika oleh nyamuk Aedes aegypti.

Dinas Kesehatan Brazil mengatakan banyaknya kondisi tersebut disebabkan virus yang menginfeksi ibu hamil. Dalam kandungan, virus membuat otak janin meradang dan menghambat pertumbuhan sehingga seumur hidup anak akan terganggu kecerdasannya.

Virus Zika pertama kali ditemukan dalam tubuh seekor kera di Uganda pada 1947. Kemudian virus ini menyebar ke beberapa tempat di dunia sejak 2007.

Menurut Dr.Herawati Sudoyo Ph.D, Deputi Direktur Eikjman Institute, seperti diwartakan KOMPAS.com (16/11/2015) virus Zika memang pertama kali dikenali di Indonesia oleh lembaganya karena memiliki platform atau metode deteksi berbagai jenis virus.

Herawati mengaku belum mengetahui dari mana virus ini berasal. Namun, peneliti di Eikjman Institute menemukan virus ini saat terjadi wabah demam dengue di Provinsi Jambi, pada periode Desember 2014 sampai April 2015.

Virus Zika, jelas Herawati, tidak menyebabkan kelainan berat seperti halnya demam dengue. "Hanya menimbulkan demam saja, skalanya menengah. Tapi setiap virus tetap perlu diwaspadai," ujarnya.

BreakTime menyebutkan kemunculan penyakit ini pada awalnya memang tidak mengkhawatirkan, karena hanya muncul ruam pada kulit yang sekilas tak berbahaya dan demam selama beberapa hari. Namun, minimnya penanganan medis dan ketidakpekaan masyarakat akan membuat penyakit ini terus berkembang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh secara besar-besaran.

Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), DTM&H, MARS, DTCE yang menjabat sebagai Regional Coordinator di WHO South East Asia Regional Office kepada SindoNews mengatakan bahwa pada dasarnya sifat klinis penyakit yang disebabkan virus Zika ini ringan dan self-limiting atau bisa sembuh dengan sendirinya.

Virus zika tergolong flavi virus. Penderita virus ini akan merasakan seperti demam berdarah dengan bentuk lebih ringan. Namun ada juga yang menilai sebagai bentuk ringan dari penyakit chikungunya.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada obat antiviral dan vaksin yang mampu mencegah virus ini. Tidak hanya itu, menurut Tjandra, hingga saat ini juga belum ada langkah kesehatan internasional yang dilakukan secara khusus.

TheAsianParent menyebutkan para ilmuwan belum dapat menjelaskan apa yang memicu timbulnya virus Zika. Mereka menduga ada kaitan antara virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dengan perubahan iklim, karena virus ini seolah lenyap setelah ditemukan dan muncul kembali belakangan ini.

Saat ini menurut National Geographic tidak ada vaksin atau obat untuk mencegah demam Zika. Kita dapat melindungi diri dengan mencegah gigitan nyamuk dan menjaga kesehatan tubuh.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1Pqt4ak
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat