Video kemesraan pasangan Yahudi-Arab picu kontroversi

Salah satu pasangan Yahudi dan Arab dalam video Time Out Tel Aviv.
Salah satu pasangan Yahudi dan Arab dalam video Time Out Tel Aviv.

Sebuah video yang dirilis majalah Israel, Time Out Tel Aviv, memicu kontroversi seputar sensor di Facebook. Video itu menampilkan enam pasangan Yahudi dan Arab--termasuk tiga pasangan sejenis--yang saling berpelukan dan bercumbu.

Lebih kurang, meminjam deskripsi The Washington Post, video tersebut merupakan gambaran pandangan politik-budaya para "liberal muda Tel Aviv". Dipublikasikan Kamis pagi (7/1/2015), video itu langsung menuai perhatian, dilihat lebih dari 100.000 kali.

Kontroversi seputar sensor mengemuka, menyusul laporan Haaretz yang menyebut bahwa video itu tiba-tiba menghilang dari laman Time Out Tel Aviv. Muncullah dugaan bahwa Facebook telah menghapus video tersebut.

Di sisi lain, seorang juru bicara Facebook membantah bila mereka telah menghapus konten tersebut. "Kami tidak menghapus konten apapun dari laman itu (Time Out Tel Aviv)," kata juru bicara Facebook, dikutip Mashable.

Saat ini (8/1), video berdurasi 2 menit 3 detik itu sudah bisa dilihat kembali di laman Facebook Time Out Tel Aviv.

Selama ini, Facebook memang menghapus konten berdasar laporan pengguna.

Sekadar catatan, belum lama ini Facebook menolak permintaan pengguna untuk menghapus pidato Donald Trump, yang menyerukan pelarangan Muslim masuk Amerika Serikat.

Facebook berargumen bahwa pidato Trump adalah pandangan politik. "Ketika kami meninjau laporan terhadap konten yang mungkin melanggar kebijakan, kami meletakkannya pada konteks sebagai pertimbangan. Konteks itu dapat mencakup nilai dari sebuah gagasan politik," kata juru bicara Facebook, dikutip Forbes.

Boleh jadi, alasan yang sama berlaku pada video dari Time Out Tel Aviv, yang dilihat sebagai sebuah pandangan politik dan budaya.

Protes terhadap diskualifikasi buku

Sebagai latar informasi, video itu merupakan respons terhadap diskualifikasi buku Borderlife, karya penulis Israel, Dorit Rabinyan. Buku tersebut menceritakan "cinta terlarang" antara perempuan Yahudi dari Israel, dan lelaki Muslim asal Palestina.

Sebelumnya, buku tersebut direkomendasikan para guru dan akademisi agar dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Namun, Kementerian Pendidikan Israel punya pendapat berbeda dan mendiskualifikasinya.

"Hubungan intim antara Yahudi dan non-Yahudi, dan pilihan untuk memformalkan mereka melalui pernikahan dan memiliki keluarga, dianggap sebagian besar masyarakat sebagai ancaman terhadap pemisahan identitas," demikian pandangan Kementerian Pendidikan Israel, sebagaimana dikutip Haaretz (h/t The Telegraph).

The Telegraph turut mengutip pernyataan Merav Michaeli, anggota parlemen Israel dari Partai Buruh.

Lebih kurang, Michaeli menyebut bahwa diskualifikasi itu sama dengan kecenderungan politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, serta seruan kelompok ekstrem Israel yang berusaha mencegah hubungan antara orang-orang Yahudi dan Arab.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1TIW94H
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat