Ulama syiah dihukum mati, Indonesia diminta tak terprovokasi

Komunitas syiah Pakistan menggelar demontrasi. Mereka memprotes tindakan Arab Saudi yang mengeksekusi ulama syiah Sheikh Nimr al-Nimr, Sabtu (2/1/2016).
Komunitas syiah Pakistan menggelar demontrasi. Mereka memprotes tindakan Arab Saudi yang mengeksekusi ulama syiah Sheikh Nimr al-Nimr, Sabtu (2/1/2016).

Pemerintah Arab Saudi telah mengeksekusi ulama syiah, Sheikh Nimr al-Nimr. Nimr dieksekusi bersama 46 terpidana lain pada Sabtu (2/1/2016) malam. Eksekusi itu memancing kemarahan komunitas syiah Timur Tengah dan kawasan lain. Nimr dan 46 orang itu dituduh terlibat dalam kejahatan terorisme.

Ahmad Hidayat, ketua Yayasan Ahlul Bait Indonesia -organisasi yang menaungi penganut Syiah di Indonesia- menilai tindakan Arab Saudi ini bisa berdampak kepada pengikut syiah di Indonesia.

"Saudi ingin menyampaikan pesan bahwa syiah ini adalah kelompok teroris. Ini bisa menjadi sesuatu yang dipahami macam-macam di dalam konteks geopolitik global," kata Ahmad seperti dilansir BBC Indonesia.

Berbeda dengan Ahmad, pengamat politik Islam, Zuhairi Misrawi, menilai eksekusi itu tak akan banyak berpengaruh untuk Indonesia. Dengan eksekusi itu, kata dia, Saudi ingin memancing kemarahan warga syiah di sejumlah negara.

"Saya kira dampaknya di Indonesia tidak terlalu besar karena masyarakat Indonesia sudah bisa lebih memahami bahwa apa yang terjadi di Saudi itu lebih kepada sikap politis daripada sikap keagamaan," kata Zuhairi.

Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri, Muhyidin Junaidi, justru khawatir masyarakat Indonesia tidak bisa membedakan masalah politik dan agama itu.

"Bahwa konflik di luar negeri adalah konflik politik, bukan agama. Yang jadi masalah orang tidak bisa membedakan. Itu sangat berbahaya, sangat berbahaya," katanya. Karenanya, Muhyidin mengimbau agar masyarakat Indonesia tak terprovokasi oleh peristiwa di Arab Saudi itu.

Di Yaman, para pengikut kelompok ekstremis cabang Yaman mengatakan akan mengadakan aksi balas dendam atas perbuatan Arab Saudi itu. Mereka mengancam akan melakukan tindakan anarkis jika pihak keamanan Saudi melanjutkan eksekusi atas anggota mereka yang tertangkap.

Nimr selama ini dikenal vokal dan anti antipemerintah. Nimr kerap menyerukan pemisahan Provinsi Timur Arab Saudi yang diyakini kaya minyak, tempat mayoritas komunitas syiah berdiam. Ia menyebut muslim sunni yang tinggal di sana adalah warga asing.

Mengacu ke laman Wikipedia, sang syekh telah berhadap-hadapan langsung dengan negara--hal yang agaknya membuatnya populer di mata kaum muda, baik di Bahrain maupun Arab Saudi.

Pria kelahiran Al-Awamiyah, Provinsi Timur, Arab Saudi, itu takpernah sungkan menyuarakan pemilihan umum yang berlangsung bebas. Pada 2009, ia menyarankan agar Provinsi Timur memisahkan diri--hal yang berujung penangkapan Al-Nimr dan 35 orang lainnya.

Saat protes merebak di negeri kelahiran Islam itu pada 2011-2012, Al-Nimr meminta para pengunjuk rasa untuk melawan pihak berwenang dengan kekuatan kata-kata, bukan kekerasan.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1kEzCK5
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat