Turki curiga ISIS otak peledakan di Istanbul

Setelah bom mengguncang sebuah kawasan wisata di Istanbul, Turki, toko-toko pun sepi pengunjung.
Setelah bom mengguncang sebuah kawasan wisata di Istanbul, Turki, toko-toko pun sepi pengunjung.

Kawasan Alun-alun Sultanahmet di Istanbul, Turki, yang sangat populer di kalangan wisatawan, baru saja menjadi sasaran bom bunuh diri. Ledakan berujung kepada 10 orang tewas dan 15 lainnya luka-luka. Delapan korban meninggal berasal dari Jerman, sementara seorang lagi warga negara Peru.

Menurut Perdana Menteri Turki, Ahmet Davutoglu, dikutip BBC, "pelaku penyerangan adalah warga asing yang merupakan anggota Daesh (ISIS)."

Tersangka peledakan adalah seorang warga Suriah yang lahir di Arab Saudi, Nabil Fadli, 28 tahun. Ia diduga masuk ke Turki melalui Suriah baru-baru ini. Namun, perempuan itu tidak tercatat dalam daftar orang yang dicap teroris oleh pelbagai negara.

Hingga berita ini ditulis, belum jelas apakah Nabil memiliki kewarganegaraan ganda.

Hasil tangkapan layar Google Earth yang memuat keterangan lokasi ledakan dan lokasi masjid yang masyhur di kalangan wisatawwan.
Hasil tangkapan layar Google Earth yang memuat keterangan lokasi ledakan dan lokasi masjid yang masyhur di kalangan wisatawwan.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan bahwa penyerang "berasal dari Suriah". Numan Kurtulmus, wakil perdana menteri negara tersebut, mengungkapkan bahwa pelaku peledakan lahir pada 1988. Menurutnya, pelaku memasuki Turki dari Suriah.

Seorang saksi mata mengatakan bahwa warga Suriah yang berada di Turki tidak seharusnya disalahkan secara kolektif. "Saya rasa, ini bukan problem (orang) Suriah," ujarnya. "(Bangsa) Suriah adalah pekerja keras di Istanbul. Terorisme merupakan masalah dunia dan Turki berada di pusarannya; di mana-mana, peledakan terjadi hari-hari ini."

Sekitar 400.000 warga Suriah telah menjadi penduduk Istanbul. Ribuan lainnya menjadikan kota itu sebagai lokasi rehat sebelum melanjutkan perjalanan ke tanah Eropa.

Dari Jerman, Kanselir Angela Merkel berseru: "Hari ini, Istanbul jadi sasaran. Paris pernah jadi sasaran. Tunisia pun demikian. Ankara sebelumnya sudah mengalami (serangan). Terorisme internasional sekali lagi memperlihatkan wajahnya yang keji dan biadab."

Ledakan terjadi sekitar pukul 10.30 pagi waktu setempat di kawasan Sultanahmet yang memangku Masjid Biru berusia 400 tahun serta kompleks Hagia Sophia, basilika era kekuasaan Bizantium.

Kejadian bertempat di dekat stasiun trem lokal yang letaknya tidak jauh dari Obelisk Theodosius yang dibawa ke Istanbul (waktu masih bernama Constantinople) pada abad ke-4.

Kawasan Masjid Sultan Ahmed, Istanbul, Turki.
Kawasan Masjid Sultan Ahmed, Istanbul, Turki.

Jika memang ISIS menjadi otak peledakan, pertanyaannya adalah apakah aksi ini akan hanya berlaku sekali atau bahkan baru permulaan. Pada Juli lalu, pelaku bom bunuh diri yang terafiliasi dengan kelompok itu menewaskan 30 Turki di Kobani dan 100 pengunjuk rasa damai di Ankara.

Laman The Independent menulis kemungkinan target ISIS, yakni industri pariwisata Turki yang bernilai USD21 miliar. Tentunya, dengan munculnya banyak ancaman teror, sektor tersebut akan terganggu.

Di sisi lain, Turki bersemangat dalam mengerahkan armada udara untuk menjatuhkan bom atas pelbagai target di Suriah. Pemerintah setempat pun telah menangkap sejumlah anggota sel ISIS di dalam negeri.

Amerika Serikat telah lama mendesak pemerintah Turki untuk menutup perbatasan dengan menempatkan 30.000 serdadu di wilayah perbatasan sendiri. Dorongan dari negara adidaya itu kian menguat setelah Paris menjadi target serangan ISIS pada 13 November 2015. Motif dari serangan kemarin agaknya diarahkan sebagai peringatan bahwa ISIS akan membalas segala aksi pihak berwenang Turki terhadap kelompok tersebut.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1W62HM5
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat