Tiongkok banting yuan, bursa Asia porak poranda

Seorang wanita sedang melihat ke arah layar elektronik penunjuk harga saham di Taipei, Taiwan (7/1/2016).
Seorang wanita sedang melihat ke arah layar elektronik penunjuk harga saham di Taipei, Taiwan (7/1/2016).

Di tengah perekonomian global yang sedang berusaha keluar dari ketidakpastian, Tiongkok malah semakin memperkeruh suasana. Kamis (7/1/2016), bank sentral Tiongkok lagi-lagi memangkas nilai tukar mata uangnya, yuan.

Langkah Tiongkok itu menjadi pelemahan terbesar sejak kebijakan devaluasi yang mengejutkan pada Agustus 2015 lalu. Karenanya, pasar saham Tiongkok ditutup selang 30 menit setelah pasar dibuka tadi pagi.

Perdagangan saham Tiongkok diskors sekitar pukul 12.43 (AEST) waktu setempat, 13 menit dari pembukaan. Saat itu indeks utama Shanghai CSI 300 dan Shenzhen jatuh lima persen. Langkah ini memicu 15 menit perdagangan berhenti secara otomatis.

Penghentian perdagangan ini adalah kedua kalinya di 2016, lantaran tekanan yang belum mereda. Perdagangan saham dihentikan jika indeks saham naik atau jatuh lima persen. Jika bergerak tujuh persen, maka perdagangan saham akan ditangguhkan.

Pasar saham di Asia pun berguguran, satu per satu.

Bank rakyat Tiongkok (People's Bank of China/PBOC) menetapkan nilai tukar yuan pada hari ini di level 6,5646 per dolar AS (USD). Level itu lebih lemah 0,51 persen dibandingkan nilai tukar Rabu (6/1/2016).

Reuters mencatat, nilai pelemahan yuan itu adalah perubahan terbesar sejak 13 Agustus lalu. Saat ini, PBOC hanya menolerir nilai tukar yuan di pasar spot naik atau turun maksimum sebesar 2 persen terhadap USD.

Di pasar offshore, yuan turun ke rekor terendah di level 6,5711 per USD sebelum akhirnya kembali ke level 6,6910 yang diduga akibat intervensi bank sentral. Sedangkan di pasar onshore melemah ke posisi 6,5932.

Dengan yuan melemah, maka ekspor Negeri Tirai Bambu ini juga lesu. Ini juga bisa meningkatkan risiko bagi peminjam mata uang asing dan meningkatkan spekulasi kalau ekonomi Tiongkok itu melambat dari data resmi.

"Ini gila. Kepemilikan kami dilikuidasi setelah saham tertekan," kata Chen Gang, Kepala Riset Heqi Tongyi Asset Management Co seperti yang dilansir di laman Bloomberg.

"Tiongkok tidak mengkomunikasikan rencana kebijakannya dalam secara jelas," ungkap Sue Trinh, strategis nilai tukar mata uang asing di Royal Bank of Canada di Hong Kong, menyambung kekecewaannya terhadap kebijakan yang diambil Tiongkok yang jauh dari transparansi.

Para pelaku pasar melihat, langkah Tiongkok mendevaluasi mata uangnya bukanlah upaya untuk mendongkrak ekspor, melainkan sebagai refleksi derasnya arus dana yang hengkang dari negaranya.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 1,11 persen atau 51,14 poin ke level 4.557,84 pada jeda siang. Indeks terus tertekan sejak dibuka melemah 0,77 persen dan ditutup di level 4,530,49.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1SBUXBF
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat