Siapa Syekh Nimr, ulama Syiah yang dihukum mati Saudi

Wajah Nimr al-Nimr dalam poster yang diusung demonstran.
Wajah Nimr al-Nimr dalam poster yang diusung demonstran.

Nimr al-Nimr baru saja dieksekusi pemerintah Arab Saudi. Ia mesti mati karena bersikap, dengan kata-kata kekinian, antimainstream. Bagi kekuasaan, sikapnya tentu saja menjadi seperti duri dalam daging.

Sikap seperti itu mungkin tidak muncul begitu saja, tapi dibentuk oleh sejumlah latar belakang. Urusan dengan pihak berwenang karenanya hanya efek dari jalan pikirannya, yang dibentuk oleh pesantren Syiah di Iran serta pendidikan lanjutan yang ia tempuh di Suriah. Karenanya, sejak kembali ke kampung halamannya pada 1994, pria kelahiran tahun 1960 itu langsung terimpit ketegangan dengan pemerintah.

Interogasi yang dilakukan oleh para agen intelijen Saudi sudah jadi kelaziman baginya. Masalah terutama yang diapungkan menyangkut ajakan sang cerdik cendekia untuk memperbaiki kebebasan beragama. Bahkan, ia ditahan pada 2003 karena mengimami salat berjemaah di desanya.

Pada 2004 dan 2006 polisi rahasia kerajaan menjebloskannya ke penjara selama beberapa hari. Pada masa yang disebut terakhir, perintah atas pembebasannya turun setelah masyarakat Al-Awamiyah, sebuah desa distrik Qatif, memberikan dukungan.

Qatif, salah satu kawasan tua di Provinsi Timur, Arab Saudi, adalah tanah tumpah darah Syekh Nimr. Di daerah itu, penduduk mayoritas Syiah telah lama mengeluhkan timpangnya perlakuan pemerintah Saudi atas mereka. Dan sesungguhnya, keadaan demikian bermula sejak Ibnu Saud menundukkan dan mencaplok Qatif sebagai bagian dari Emirat Riyadh pada 1913.

Sepanjang 2003 hingga 2008, sang kiai merasakan udara bui sebanyak delapan kali karena terlibat demonstrasi serta memberikan ceramah bernada keras mengenai tindak-tanduk penguasa Saudi.

Nama Nimr mulai dikenal secara luas di negeri Saudi pada Februari 2009 ketika sekelompok peziarah Syiah berbenturan dengan polisi agama dan pasukan keamanan. Selagi bentrokan meluas di kawasan timur Arab Saudi, Syekh Nimr menuding para politikus menggelitik polisi agama untuk membidik masyarakat Syiah.

Al-Nimr juga mengatakan bahwa komunitas Syiah takkan lagi bisa diberangus. Menurut klaim para simpatisannya, pernyataan itu menunjukkan perlawanan Nimr, sekaligus pemicu hukuman mati terhadapnya.

Puncak keterlibatannya dalam laku oposisi menentang kekuasaan mencapai puncak pada 2011 menyusul revolusi berlabel Arab Spring yang merebak di Timur Tengah dan Afrika Utara. Kala itu, dalam pidatonya, ia mendesak agar monarki Al-Saud segera diakhiri. Selain itu, ia pun mendorong berlakunya perlakuan setara terhadap masyarakat Syiah di Arab Saudi.

Demonstrasi Syiah pun pecah, dan Syekh Nimr menjadi figur sentralnya.

Saat protes merebak di negeri kelahiran Islam itu pada 2011-2012, Al-Nimr meminta para pengunjuk rasa untuk melawan pihak berwenang dengan kekuatan kata-kata, bukan dengan kekerasan.

Pada Juli 2012, polisi menembak kakinya sebelum melakukan penangkapan. Ribuan orang turun ke jalan sebagai wujud protes. Dalam peristiwa itu, dua orang tewas tertembus peluru dari bedil polisi. Menyusul insiden tersebut, Al-Nimr mogok makan.

Pengadilan Pidana Khusus Arab Saudi menjatuhkan hukuman mati kepadanya pada 15 Oktober 2014 karena dianggap sebagai ancaman bagi pemerintah setempat. Salah satu tuntutannya: membangkang terhadap raja serta menghina kerabat serta karib Nabi Muhammad SAW.

Saudara kandungnya, Mohammad Al-Nimr, ditangkap pada hari yang sama karena mengicaukan informasi mengenai pidana mati Syekh Nimr di Twitter.

Meski terkenal sebagai oposan, Nimr tidak pernah menganjurkan kekerasan. Dalam kata-katanya yang terkenal, "kata-kata adalah senjata yang lebih ampuh ketimbang peluru karena (para penguasa) akan diuntungkan dengan perjuangan bersenjata."



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1VAwegL
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat