Siapa 'pangeran' yang disebut Angelina Sondakh di Pengadilan Tipikor?

Terpidana kasus korupsi Angelina Sondakh meninggalkan ruang sidang usai bersaksi untuk terdakwa M Nazaruddin di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (6/1). Mantan anggota DPR Komisi X tersebut dihadirkan sebagai saksi dalam kasus dugaan suap untuk memuluskan proyek untuk PT Duta Graha Indonesia dan PT Nindya Karya dengan terdakwa M Nazaruddin.
Terpidana kasus korupsi Angelina Sondakh meninggalkan ruang sidang usai bersaksi untuk terdakwa M Nazaruddin di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (6/1). Mantan anggota DPR Komisi X tersebut dihadirkan sebagai saksi dalam kasus dugaan suap untuk memuluskan proyek untuk PT Duta Graha Indonesia dan PT Nindya Karya dengan terdakwa M Nazaruddin.

Angelina Sondakh, terpidana kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet Jakabaring, Palembang membuat pengakuan mengejutkan saat bersaksi sidang dugaan korupsi dan pencucian uang dengan terdakwa mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, di Pengadilan Tipikor, Rabu (6/1/2016).

Dalam sidang itu, mantan anggota Komisi Pendidikan DPR itu mengaku diperintahkan Nazaruddin meloloskan sejumlah proyek agar masuk pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) APBN 2010.

Nazar, kata Angie, mendesaknya agar ia memperjuangkan sejumlah proyek yang diajukan agar diloloskan Kementerian Pendidikan.

Saat itu, kata Angie, proyek yang diajukan sekitar 16, sementara yang bisa lolos hanya lima proyek. Nilai proyek yang dianggarkan APBN saat itu sekitar Rp100 miliar.

"Itu (perintah Nazaruddin) untuk memperjuangkan yang ada di komisi saya," kata Angie seperti ditulis Liputan6.

Jaksa kemudian menanyakan ke Angie siapa saja pihak lain yang mengetahui arahan Nazaruddin kepadanya untuk mengurus anggaran di DPR tersebut.

Angie pun menjawab, perintah meloloskan proyek itu, menurut Nazar, sudah diketahui oleh Ketua Umum Partai Demokrat kala itu, Anas Urbaningrum dan Sekretaris Jenderalnya, Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas.

"Kalau kata Pak Nazar, ini sudah seizin 'pangeran' dan pak ketua," kata Angie seperti ditulis Kompas.

Jaksa pun langsung bertanya ke Angie siapa yang dimaksud dengan pangeran. Awalnya Angie enggan menjawab pertanyaan Jaksa. Ia malah melempar pertanyaan itu ke Nazaruddin yang saat itu duduk di kursi terdakwa.

"Saya juga tahu dari Pak Nazar, 'pangeran' itu Ibas (Edhie Baskoro Yudhoyono). Ketua, Anas," jawab Angie yang hari itu mengenakan kemeja putih dan kerudung merah muda.

Dalam dakwaan, disebutkan bahwa Angie menerima fee 5 persen dari nilai proyek. Jika nilai proyeknya yang lolos Rp100 miliar berarti Angie menerima Rp5 miliar. Namun, Angie membantah permintaan fee itu.

Ia mengaku semua itu dilakukan hanya menjalankan apa yang diperintahkan Nazar agar terbebas dari kewajiban membayar iuran partai.

Nazaruddin didakwa menerima gratifikasi dari PT Duta Graha Indah (DGI) dan PT Nindya Karya untuk sejumlah proyek. Dari Manajer Pemasaran PT DGI Mohammad El Idris, Nazaruddin menerima Rp 23.119.278.000.

Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu dianggap meloloskan PT DGI untuk memenangi proyek pembangunan Wisma Atlet di Palembang.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1MUVtDM
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat