Saat pelampung pengungsi Suriah jadi simbol perdamaian

Simbol perdamaian, dibuat dengan menggunakan 3.000 jaket pelampung bekas pakai pengungsi.
Simbol perdamaian, dibuat dengan menggunakan 3.000 jaket pelampung bekas pakai pengungsi.

Menyambut tahun baru 2016, simbol perdamaian raksasa berwarna oranye hadir di Pulau Lesbos, Yunani. Simbol perdamaian itu dibuat dengan memanfaatkan jaket keselamatan (pelampung) bekas-pakai para pengungsi--terutama dari Suriah, Afganistan, dan Irak.

Sebelumnya, jaket-jaket itu menumpuk laiknya sampah di Pulau Lesbos. September 2015, BBC mencatat, pemerintah Yunani menyebut tumpukan itu sebagai "bom waktu ekologi", seiring para nelayan lokal mengaku mereka tak bisa bekerja karena polusinya.

Monumen simbol perdamaian itu, kembali menempatkan tumpukan jaket pelampung sebagai saksi perjuangan para pengungsi. Jaket pelampung itu memang telah menjadi saksi bisu perjuangan mereka melarikan diri dari perang, penderitaan, dan kemiskinan.

Ratusan relawan bekerja, menyusun 3.000 jaket pelampung membentuknya menjadi simbol perdamaian. Para relawan yang membuat simbol perdamaian ini berasal dari Greenpeace, Doctors Without Borders, Dutch Refugee Boat Foundation, dan sejumlah komunitas lokal.

Sebuah perahu penuh jaket pelampung yang digunakan para pengungsi dalam perjalanan mereka ke Lesbos, Yunani (16 November 2015).
Sebuah perahu penuh jaket pelampung yang digunakan para pengungsi dalam perjalanan mereka ke Lesbos, Yunani (16 November 2015).

Sebagai informasi, Pulau Lesbos menghadap ke Laut Aegea. Lautan itu dikenal sebagai pintu masuk bagi para pengungsi Timur Tengah ke Eropa.

Hampir 500 ribu orang menyeberangi Laut Aegea demi mencapai Lesbos. Dalam perjalanan itu, mereka bertaruh nyawa, pertimbangan keselamatan pun kerap diabaikan. Greenpeace menyebut, pada bulan November 2015, 97 orang tewas di Laut Mediterania timur, dan pada Desember 2015, 187 tewas.

Kepada para pengungsi itu, simbol perdamaian di Pulau Lesbos didedikasikan. Boleh pula dilihat sebagai pengingat atas krisis pengungsi sepanjang 2015--terutama di Eropa. Krisis yang tidak menutup kemungkinan masih berlanjut pada 2016.

"Situs (simbol perdamaian) akan terlihat bak monumen, sebagai pengingat atas risiko yang mesti dihadapi (saat menyeberang), dan bahwa masih banyak lagi (orang) yang berhadap mencapai tempat yang aman," tulis Aaron Gray-Block, Spesialis Relasi Media dari Greenpeace Internasional, tentang simbol perdamaian itu.

Gray-Block juga meminta publik untuk berbagi gambar simbol perdamaian ini. Lebih kurang, ia berharap bahwa para relawan dan pendukungnya bisa menjadikan 2016 sebagai titik awal "perjalanan yang aman" bagi pengungsi. Di media sosial, kampanye #SafePassage (perjalanan aman) mulai disuarakan para relawan.

Mashable mengutip pernyataan dari juru bicara Doctors Without Borders, Sami Al-Subaihi, seputar aspek keselamatan yang kerap diabaikan pengungsi. "Menggunakan jaket pelampung dari pengungsi, sekaligus mengingatkan kita lebih dari 3.700 orang yang tidak menggunakannya (pelampung)," kata Al-Subaihi.

Al-Subaihi juga meminta Uni Eropa untuk lebih memperhatikan masalah pengungsi ini pada tahuh 2016. "Uni Eropa berkesempatan menuliskan sejarah yang baik, dengan menyediakan cara yang aman dan payung hukum bagi mereka yang berusaha meraih legitimasi memasuki Eropa," kata dia.

Berikut sejumlah kampanye #SafePassage di linimasa Twitter.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1OEuxiQ
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat