Rentetan insiden teror di Turki

Bunga sebagai tanda duka cita warga Ankara, Turki, dideretkan setelah peristiwa bom kembar di kota itu pada 12 Oktober 2015.
Bunga sebagai tanda duka cita warga Ankara, Turki, dideretkan setelah peristiwa bom kembar di kota itu pada 12 Oktober 2015.

Masyarakat di Istanbul, Turki, baru saja disentakkan oleh ledakan bom bunuh diri yang menewaskan 10 orang. Seluruh korban tewas adalah warga asing. Bahkan, tersangka pelaku pun diidentifikasi sebagai orang luar Turki, yakni perempuan kelahiran Arab Saudi bernama Nabil Fadli, 28 tahun.

Perdana Menteri Turki, Ahmet Davutoglu, mengatakan bahwa "pelaku penyerangan adalah warga asing yang merupakan anggota Daesh (ISIS)."

Lokasi kejadian adalah sebuah kawasan yang populer di kalangan wisatawan dunia, yakni alun-alun Sultanahmet. Letaknya diimpit oleh Masjid Sultan Ahmed atau Masjid Biru dan Hagia Sophia. Peristiwa berdarah barusan dicemaskan akan sangat mengganggu pemasukan Turki dari sektor pariwisata.

Namun demikian, bukan kali ini saja Turki menjadi sasaran teror. Negara itu kerap menghadapi pelbagai ancaman keamanan. Tahun lalu saja, kelompok garis keras ISIS bertanggung jawab terhadap tiga aksi peledakan, termasuk di antaranya serangan di Ankara yang menewaskan lebih dari 100 orang.

Pada 2012 di Gaziantep, sebuah bom mobil meledak di dekat sebuah pos polisi. Delapan orang terbunuh dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Peristiwa itu, menurut pihak berwenang, dipicu oleh bom mobil yang diaktifkan dari jarak jauh. Pihak yang dicurigai sebagai pelaku adalah Partai Buruh Kurdistan (PKK), yang biasa menciptakan serangan di kawasan tenggara Turki.

Serangan terjadi dua hari setelah Turki membagikan makanan serta bantuan kemanusiaan lain kepada para pengungsi di perbatasan yang berasal dari negeri Suriah.

Setahun berikutnya, ledakan bom mobil kembar menewaskan setidaknya 43 orang dan mencederai sekitar 100 lainnya di Reyhanli, kota dekat perbatasan dengan Suriah. Menurut Menteri Dalam Negeri Turki, Muammer Guler, ledakan terjadi di dekat balai kota dan kantor pos.

Saat itu, tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan. Namun, pihak pemerintah menduga Suriah terlibat dalam peristiwa tersebut.

"Kami rasa (agen intelijen Suriah) dan kelompok bersenjata merencanakan serta melancarkan aksi kejam itu," ujar Wakil Perdana Menteri Turki, Bulent Arinc dikutip BBC.

Reyhanli adalah wilayah yang menjadi pintu masuk bagi para pengungsi yang menyelamatkan diri konflik berdarah di Suriah.

Awal tahun lalu, tepatnya 6 Januari, seorang pelaku bom bunuh diri beraksi di Sultanahmet. Area peledakan sama dengan lokasi peristiwa kemarin, yakni kawasan Sultanahmet. Serangan itu menewaskan sang pelaku serta melukai dua petugas kepolisian.

Sang pelaku, seorang perempuan, memasuki pos polisi dan mengaku telah kehilangan dompet. Itu saat sebelum ia memantik bom. Pelaku pun diberitakan membawa dua peledak lagi, yang berhasil dijinakkan oleh para petugas berwewenang.

Front Partai Pembebasan Rakyat Revolusioner (DHKP/C) mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Dalam klaim mereka, pelaku bernama Elif Sultan Kalsen. Namun, orang tua Kalsen menampik klaim tersebut dengan mengatakan bahwa jasad yang mereka lihat di rumah sakit bukanlah putrinya.

Serangan yang dianggap paling mematikan sepanjang sejarah Turki modern terjadi pada 10 Oktober 2015 di Ankara, ibu kota negara Turki. Ledakan berasal dari dua bom yang diaktifkan di luar stasiun kereta besar Ankara.

Per 16 Oktober 2015, angka kematian mencapai 102 dan lebih dari 400 orang lain cedera. Bom diduga terarah kepada demonstrasi buruh yang diselenggarakan oleh sejumlah organisasi.

Belum ada satu pun kelompok yang mengaku bertanggung jawab terhadap serangan. Namun, satu dari dua pelaku diketahui sebagai adik dari pelaku peledakan di Suruc. Kakak-beradik itu disangka memiliki kaitan dengan ISIS.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1RCCi9Y
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat