Produksi film Engeline ditunda hingga sidang selesai

Foto Angeline dan sejumlah lilin saat sejumlah aktivis dan Satgas Perlindungan Anak melakukan doa bersama dan aksi seribu lilin untuk Angeline di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Kamis, 11 Juni 2015.
Foto Angeline dan sejumlah lilin saat sejumlah aktivis dan Satgas Perlindungan Anak melakukan doa bersama dan aksi seribu lilin untuk Angeline di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Kamis, 11 Juni 2015.

Kasus pembunuhan Engeline, bocah berusia delapan tahun, di Bali pada Mei 2015, menarik perhatian masyarakat Indonesia. Apalagi sang ibu angkat, Margriet Christina Megawe, menjadi tersangka pembunuh anak perempuan itu.

Oleh karena besarnya perhatian masyarakat Indonesia pada kasus tersebut, tak heran jika kemudian ada yang ingin membuat film berdasarkan kisah tersebut.

Rumah produksi Sonia Gandhi Cinema (SGC), seperti dikutip Kompas.com (7/1/2016), mengumumkan akan mengangkat kisah tersebut ke layar perak. Judulnya sudah ditentukan, "Engeline: Inspiring of True Story Engeline", bahkan produser sekaligus pemilik rumah produksi SGC, Sonia Gandhi (23), menyatakan proses praproduksi sudah dimulai dan film akan ditayangkan pada Mei 2016.

Masalahnya, sidang kasus tersebut masih berlangsung di Pengadilan Negeri Denpasar dan masih jauh dari usai. Jadi, jika dipaksakan tayang pada Mei, belum tentu hakim sudah memutuskan apakah sang terdakwa benar-benar bersalah.

Oleh karena itu, psikolog Seto Mulyadi, yang menjadi saksi ahli dalam pengadilan kasus tersebut, menyatakan bahwa ia tidak setuju kisah Engeline diangkat ke layar lebar sebelum proses hukumnya selesai.

"Saya kurang mendukung hal itu, karena sebelum pembuatan film Engeline ini harus mempertimbangkan dahulu kepada keluarga, masyarakat, dan proses persidangan yang masih berjalan," ujar pemerhati masalah anak yang populer dipanggil Kak Seto ini seperti dikutip Republika, Senin (11/1/2016).

Psikolog berusia 65 tahun ini yakin kalau lebih baik pembuatan film menunggu proses persidangan berakhir, sampai pelakunya dihukum sesuai hukum yang berlaku, sehingga isi film tersebut tetap memiliki makna membela kepentingan anak.

"Saya berharap pembuatan film itu bukan semata-mata untuk kepentingan komersial saja," kata pria yang dikenal sebagai pencipta karakter Si Komo itu. "Mohon jangan mengeksploitasi kasus ini untuk dijadikan upaya komersial dari rumah produksi tertentu."

Seto juga berharap pembuat film Engeline akan menomor satukan kampanye kepada masyarakat untuk berhenti melakukan kekerasan pada anak.

"Kalau arahnya untuk mengkampanyekan stop kekerasan kepada anak, melibatkan semua pihak dan keluarga, silakan. Agar anak-anak Indonesia mendapatkan hak-haknya," ujar Seto kepada Kompas (11/1/2016).

SGC rupanya mendengarkan saran Kak Seto tersebut dan, seperti dikutip Tribunnews, Selasa (12/1/2016), mereka akan menunda produksi film hingga sidang kasus pembunuhan Engeline berakhir.

Sonia dan produser film itu, Panglima Indra, hadir di PN Denpasar untuk mengikuti lanjutan sidang Engeline. Keduanya hadir untuk melihat sendiri fakta hukum di persidangan, sehingga naskah film nanti bisa mendekati kenyataan.

"Kami juga akan melakukan riset data, terutama di Polda Bali, karena data-data kasus Engeline banyak di Polda. Sembari lakukan riset dan menunggu persidangan tuntas, kami juga akan mengurus izin ke beberapa pihak untuk pembuatan film ini, termasuk ke orangtua kandung Engeline," jelas Panglima.

Sebenarnya bukan kali ini saja kisah kekerasan terhadap anak difilmkan. Pada tahun 1985 ada film berjudul Arie Hanggara, yang diangkat dari kisah nyata mengenai meninggalnya seorang anak berumur 8 tahun bernama Arie Hanggara akibat disiksa orang tuanya. Disutradarai oleh Frank Rorimpandey, film ini dibintangi oleh Deddy Mizwar, Joice Erna dan Cok Simbara.

Adapun kasus pembunuhan Arie Hanggara terjadi di tahun 1984. Menurut informasi dari Tempo, Arie tewas di tangan ayah kandungnya, Machtino Eddiwan, dan ibu tirinya, Santi.

Kasus ini juga menghebohkan Tanah Air, sampai-sampai, dikutip dari Liputan6, Majalah Tempo saat itu memasang lukisan wajah Arie dengan judul panjang di halaman mukanya: "Arie namanya. Ia mati dihukum ayahnya. Mungkin anak kita tidak. Tapi benarkah kita tidak kejam?"



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1ZY5b1z
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat