Pesan untuk Pengadilan Palembang yang menangkan pembakar hutan

Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Palembang Parlas Nababan membacakan putusan gugatan perdata Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terhadap PT Bumi Mekar Hijau (BMH) senilai Rp7,8 triliun atas ganti rugi kebakaran lahan tahun 2014 lalu di Pengadilan Negeri Kelas I Palembang, Sumsel, Rabu (30/12).
Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Palembang Parlas Nababan membacakan putusan gugatan perdata Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terhadap PT Bumi Mekar Hijau (BMH) senilai Rp7,8 triliun atas ganti rugi kebakaran lahan tahun 2014 lalu di Pengadilan Negeri Kelas I Palembang, Sumsel, Rabu (30/12).

Situs Pengadilan Negeri Palembang diretas karena memenangkan PT Bumi Mekar Hijau (BMH) yang digugat Pemerintah dalam kasus pembakaran hutan dan lahan. Hingga Minggu (3/1/2016) laman pengadilan tetap menjadi "milik" peretas yang menampilkan warna hitam dengan teks yang diiringi denting piano berisi kekecewaan terhadap putusan tersebut.

Pengadilan Negeri Palembang menolak gugatan perdata yang diajukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terhadap PT Bumi Mekar Hijau, anak perusahaan salah satu perusahaan kertas terbesar di dunia, Asia Pulp and Paper (APP) senilai Rp7,8 triliun.

Dalam sidang yang berlangsung pada Rabu (30/12/2015) itu, hakim menganggap KLH tak bisa membuktikan PT BMH melakukan pembakaran hutan dan tindakan melawan hukum.

Ketua Majelis Hakim Parlas Nababan, mengatakan selama ini BMH telah menyediakan alat pengendali kebakaran. Selain itu, dalam pertimbangan hakim, lahan yang terbakar juga masih bisa ditanami.

"mungkin saya kurang mengerti soal hukum, tapi saya mengerti sekali bagaimana deritanya bernafas di dalam kepungan asap. nyesek pak tambah nyesek lagi ketika mendengar putusan bapak/ibu hakim. cuma bisa mengurut dada ketika bapak dan ibu hakim memutuskan menolak gugatan pemerintah...," tulis peretas dengan akun gunz_berry ini.

Gugatan atas perusahaan pembakar hutan ini dilayangkan Kementerian Kehutanan pada Februari 2015. Sidang pertama PT BMH di PN Sumatera Selatan telah dimulai pada Maret 2015.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengumumkan inisial 23 perusahaan yang sudah diberikan sanksi karena terbukti menyebabkan kebakaran hutan. Kementerian memberikan sanksi pencabutan izin terhadap 3 perusahaan, pembekuan izin terhadap 16 perusahaan, dan paksaan pemerintah untuk menguasai lahan terhadap 4 perusahaan.

Langkah penegakkan hukum terhadap perusahaan pembakar hutan dan lahan ini ternyata kandas di Pengadilan. Dikutip Sriwijaya Post, Dirjen Penegakan Hukum Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Rasio Ridho Sani kecewa atas putusan pengadilan.

"Fakta di lapangan sudah jelas terjadi kebakaran lahan dan tidak ada peralatan yang memadai. Ini demi lingkungan dan masyarakat yang merasakan dampak kebakaran lahan, karena itu kami akan banding," ujar Rasio. "Demi keadilan bagi ratusan ribu rakyat yang selama ini menderita akibat kebakaran dan (demi) harga diri bangsa, pemerintah akan banding dan menempuh upaya hukum lainnya."

Pembakaran hutan dan lahan selama 2015 menyebakan Indonesia menjadi sorotan dunia karena kabut asap yang menyebar hingga ke beberapa negara. Kerugian material akibat pembakaran hutan dan lahan ini mencapai mencapai USD16,1 miliar (sekitar Rp225,4 triliun dengan kurs Rp14.000), jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya rekonstruksi pasca tsunami Aceh pada 2004 sebesar USD7miliar.

Berikut pesan lengkap untuk Pengadilan Negeri Palembang:

sungguh kecewa rasanya melihat keputusan bapak hakim

yang menolak gugatan perdata pemerintah ke perusahaan yang membakar hutan

PT Bumi Mekar Hijau anak perusahaan dari PT Sinar Mas

bapak Parlas Nababan, bapak Kartidjo, dan ibu Eli Warti...

mungkin saya kurang mengerti soal hukum

tapi saya mengerti sekali bagaimana deritanya bernafas di dalam kepungan asap

nyesek pak tambah nyesek lagi ketika mendengar putusan bapak/ibu hakim

cuma bisa mengurut dada ketika bapak dan ibu hakim memutuskan menolak gugatan pemerintah...

bapak dan ibu hakim, pemerintah tidak akan segegabah itu dalam menuntut sesuatu

20.000 hektar lahan yang terbakar...

dan ini bukan kejadian pertama dulu di 2014 dan sekarang di 2015...

PT Bumi Mekar Hijau

tidak memiliki peralatan dan sumber daya yang memadai untuk mencegah dan mengendalikan kebakaran

ini saja sudah menyalahi undang-undang

belum lagi efek dari asap yang ditimbulkan

sungguh tidak bisa dimengerti alasan bapak/ibu hakim

membebaskan perusahaan pembakar lahan itu dari gugatan

bapak dan ibu hakim apakah bapak tidak mendengar desas desus diluar sana

yang mengatakan kalau PT Bumi Mekar Hijau anak perusahaan dari PT Sinar Mas itu tidak akan tersentuh oleh hukum ?

benarkah begitu pak ?

tidak kah bapak bisa melihat kami ? korban asap ?

harapan kami cuma satu hukumlah seberat-beratnya para pembakar lahan

tapi apa yang bapak/ibu hakim lakukan ?

malah membebaskan gugatan ke pembakar lahan

pemerintah sendiri yang menggugat

dan bapak/ibu hakim menolak ???

sulit dipercaya sungguh teramat sulit untuk mempercayainya

atau mungkin uangnya perusahaan itu lebih enak pak/buk ?

dapat berapa duit pak/buk dari pemilik perusahaan ?

saya tidak menuduh, cuma bertanya

kalau bukan karena uang, lalu alasan apa bapak/ibu hakim menolak gugatan dari pemerintah ?

jujur.. saya amat sangat kecewa dengan keputusan bapak/ibu hakim

dan saya yakin semua korban asap juga kecewa

seluruh rakyat Indonesia kecewa...

adil lah pak, jangan hanya adil ke pembakar lahan saja

tapi adil jugalah keperintah yang sudah mengeluarkan banyak biaya,

waktu dan tenaga untuk mengatasi kebakaran lahan, belum lagi untuk pemulihannya nanti

adil jugalah kepada kami para korban asap...

maaf pak/buk bukan niat saya merusak website pemerintah, saya cuma titip pesan lewat web ini

cukup hapus index.htm websitenya akan kembali normal seperti biasa

atas perhatiannya saya mengucapkan terima kasih... salam dari korban asap

Laman Pengadilan Negeri Palembang
Laman Pengadilan Negeri Palembang


from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1O2hWAF
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat