Pertama kali, Indonesia ekspor kapal perang

Sejumlah Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) di perairan Surabaya, saat defile alutsista pada puncak peringatan HUT TNI ke-69 di Dermaga Ujung, Surabaya, Oktober 2014. Indonesia akan mengekspor kapal buatannya Juni nanti.
Sejumlah Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) di perairan Surabaya, saat defile alutsista pada puncak peringatan HUT TNI ke-69 di Dermaga Ujung, Surabaya, Oktober 2014. Indonesia akan mengekspor kapal buatannya Juni nanti.

PT PAL Indonesia (Persero) bakal mengirimkan pesanan dua kapal perang perdana made in Surabaya pada Juni mendatang ke Filipina. Jenis kapal yang dibeli adalah Strategic Sealift Vessel (SSV). "Ini pertama dalam sejarah Indonesia, ekspor kapal perang, dua kapal SSV," kata Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT PAL, Eko Prasetyanto, kepadac DetikFinance, Selasa (12/1).

Menurut Eko, kapal itu dibuat dalam waktu 24 bulan. Dua kapal perang ini akan diluncurkan 18 Januari mendatang. Pada Juni 2016 nanti baru dikirim ke Filipina setelah penyelesaian akhir di galangan Surabaya.

Direktur Utama PT PAL M. Firmansyah Arifin, seperti dilansir Kompas.com, mengatakan badan usahanya berhasil mengalahkan tujuh negara lain dalam menarik perhatian Filipina. BUMN itu memenangkan tender internasional senilai US$90 juta melawan tujuh perusahaan lain, di antaranya dari Korea Selatan.

"Kami menang karena pengalaman. Pasalnya militer Filipina ingin yakin bahwa kapal yang dipesan itu sudah dipakai di negara kita," ujarnya.

Kapal sejenis juga yang digunakan di dalam negeri, di antaranya KRI Banda Aceh yang membantu evakuasi puing-puing pesawat AirAsia yang jatuh di perairan dekat Pangkalan Bun, Kalimantan, Desember 2014.

Eko mengungkapkan, kapal multipurposed SSV hampir sama dengan dengan jenis kapal perang lain produksi PT PAL yang saat ini dioperasikan TNI-AL. "Hampir sama bentuknya dengan KRI Banda Aceh atau KRI Banjarmasin, di mana SSV ini bisa mengangkut puluhan tank dan helikopter," ujarnya.

Nilai tiap-tiap kapal adalah US$45 juta atau setara Rp620 miliar. Jadi total ekspor kapal ini mencapai Rp1,24 triliun.

Eko menjelaskan, kapal perang ini memiliki panjang 123 meter, lebar 21,5 meter, dan bobot 10.300 ton. Bobot yang bisa diangkut atau Gross Register Tonnage (GRT) sebesar 7.400 ton.

"Kapal perang ini memiliki kecepatan 16 knot dengan tanpa mengisi bahan bakar selama 3 hari," kata dia. Total orang, sesuai dengan jumlah kamar, yang bisa diangkut mencapai 621 jiwa.

Sesuai dengan peraturan pemerintah, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) kapal perang yang diekspor itu memenuhi regulasi yakni 30-35 persen.

Firmaansyah juga menjamin pelat besi dua kapal itu 100 persen menggunakan produk buatan lokal dari PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

Firmansyah berharap, dengan suksesnya ekspor kapal perang ke Filipina itu bisa mengundang investasi serupa dari negara lainnya. Tak hanya Filipina, kapal ini juga berpeluang melaut ke negeri lain.

"Myanmar juga sudah menyampaikan ketertarikan," kata Firmansyah. Menurutnya, tahun ini Pakistan, Brunei Darussalam dan Thailand berencana untuk membeli kapal buatan Indonesia.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1OMBr3Y
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat