Perseteruan Arab Saudi-Iran dongkrak harga minyak

Ilustrasi kilang minyak
Ilustrasi kilang minyak

Arab Saudi dan Iran bersitegang. Dua negara penghasil minyak terbesar di dunia itu memutuskan hubungan diplomatiknya. Terputusnya hubungan keduanya dipicu oleh eksekusi mati ulama Syiah dan penyerangan kedutaan besar Arab Saudi di Teheran.

Dampak dari perseteruan itu adalah harga minyak mentah pagi ini, mengawali perdagangan perdana Asia di 2016, melonjak lebih dari 2 persen.

Harga patokan minyak dunia Brent naik lebih dari 2,5 persen dan lebih dari USD1 per barel ke level tertingginya pada pagi ini di level USD38,50 per barel, sebelum berkurang kembali ke USD38,28 per barel.

Pada sekitar pukul 02.30 GMT, waktu Amerika Serikat, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari naik 48 sen atau 1,30 persen menjadi USD37,52 per barel, dan minyak mentah Brent untuk Februari diperdagangkan 61 sen atau 1,64 persen lebih tinggi pada USD37,89 per barel.

"Minyak mengawali tahun baru dengan baik, karena pasar Asia bereaksi terhadap ketakutan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat mengancam pasokan minyak," kata Bernard Aw, analis pasar IG Markets di Singapura, seperti yang dilansir dalam Bisnis.com, Senin (4/1/2016).

Arab Saudi adalah produsen terbesar di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang bulan lalu memutuskan untuk tidak memotong tingkat produksi mereka meskipun harga minyak turun tajam. Iran juga merupakan anggota penting OPEC.

Sementara Iran, yang memiliki beberapa cadangan minyak terbesar, berharap akan meningkatkan ekspor menyusul pencabutan sanksi terhadap setelah mencapai kesepakatan atas dugaan program pengembangan senjata nuklir.

Ekspor minyak Iran turun menjadi sekitar satu juta barel per hari (bph), turun dari puncaknya yang mencapai hampir tiga juta barel per hari pada 2011, sebelum sanksi diberlakukan.

Iran berencana untuk meningkatkan produksi minyak setengah juta sampai 1 juta barel per hari pascasanksi, meskipun pejabat Iran mengatakan mereka tidak berencana untuk membanjiri pasar dengan minyak mentah jika tidak ada permintaan untuk itu.

Selama beberapa tahun terakhir, OPEC telah mengabaikan tradisinya untuk mengendalikan harga minyak melalui pemangkasan produksi, namun tahun lalu, beberapa pejabat OPEC merancang sebuah pertemuan membahas dampak dari meningkatnya suplai minyak Iran itu.

Kini, saat dua negara anggota OPEC ini berseteru, harapan akan sebuah kesepakatan untuk meregulasi produksi minyak sepertinya menjadi redup.

"Apapun rencana yang akan muncul, maka Iran akan menentangnya, terutama setelah apa yang baru saja terjadi. Bagi mereka, ini adalah politik," kata salah satu petinggi OPEC.

Jika konflik ini berlanjut dan harga minyak terus naik, maka negara-negara penghasil minyak seperti Amerika Serikat dan Rusia akan terdorong untuk meningkatkan produksi mereka.

"Dalam jangka pendek, ketegangan ini menguntungkan bagi harga minyak, akan tetapi pasar perlu melihat neraca yang seimbang antara suplai dan permintaan," kata Gordon Kwan, kepala peneliti minyak dan gas di Nomura dalam Wall Street Journal.

Lebih jauh, para pembeli minyak dari negara asing lainnya mungkin akan mulai melirik produsen lain yang memiliki harga yang lebih stabil untuk membeli minyak, sebuah langkah yang akan disyukuri oleh AS, sebagai negara yang membuat larangan ekspor minyak mentah selama 40 tahun.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1mZCiDN
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat