Perbankan paling banyak diadukan konsumen selama 2015

Petugas call center melayani pengaduan masyarakat di kantor Pelayanan Konsumen Terintegrasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Februari 2014. Sektor perbankan paling banyak diadukan konsumen selama 2015
Petugas call center melayani pengaduan masyarakat di kantor Pelayanan Konsumen Terintegrasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Februari 2014. Sektor perbankan paling banyak diadukan konsumen selama 2015

Sektor perbankan paling banyak diadukan konsumen selama 2015. Berdasar aduan yang masuk ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), ada 1.030 aduan yang masuk. Dari jumlah tersebut, ada 176 aduan tentang perbankan. Disusul perumahan 160 aduan, telekomunikasi 83 aduan, belanja online 77 aduan dan leasing 66 aduan.

Koordinator Pengaduan dan Hukum YLKI Sularsi menjelaskan, perbankan diadukan kebanyakan karena masalah kredit. Total ada 70 pengaduan dan Bank Mandiri menjadi bank yang paling banyak diadukan dengan 22 aduan. Sularsi menjelaskan, seperti tahun sebelumnya, kartu kredit masih paling mendominasi aduan.

Menurutnya, masalah kartu kredit yang diadukan ialah masalah pembobolan. "Kami minta kepada perbankan untuk mulai edukasi secara terus menerus agar konsumen menggunakan PIN pada kartunya. Sehingga meminimalisir kasus pembobolan adalah pencurian, atau cyber crime kartu kredit," ujarnya seperti dilansir Okezone.com.

Sularsi menambahkan, perbankan harus juga mempersiapkan pengawasan. Di mana para konsumen akan merasa aman dan nyaman dengan penggunaan kartu kredit.

Sularsi, dalam presentasinya menyimpulkan, ragam akses pengaduan konsumen makin beragam. Mulai dari media sosial, media cetak, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) atau langsung ke pelaku usaha terkait.

"Bank seharusnya memberikan informasi yang tidak menyesatkan. Bank wajib memberikan edukasi kepada konsumen," demikian tertulis dalam siaran materi presentasi YLKI.

Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Kusumaningtuti S. Soetiono akhir tahun lalu menyatakan selama ini OJK melakukan pemantauan interaksi antara Pelaku Usaha Jasa Keuangan dengan konsumen. OJK melaksanakan pengawasan perlindungan konsumen lewat beragam cara, misalnya melalui mystery shopping dan customer testimony.

"Ini cukup efektif karena kami menjadi tahu secara langsung di lapangan bagaimana proses saat penjualan yang wajib menjelaskan manfaat, biaya dan risiko, bagaimana menangani jika ada sengketa bahkan beberapa teman juga mengungkap berbagai tenaga pemasaran yang diduga memperjualbelikan data nasabah," ujar Kusumaningtuti seperti dilansir situs OJK.

Informasi ini penting untuk mencegahnya jika berpotensi merugikan konsumen. Pengawas akan menindak jika terbukti ada pelanggaran.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1OEfMuD
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat