Penduduk miskin bertambah, terbanyak di Pulau Jawa

Seorang warga menunjukan kartu Program Keluarga Harapan (PKH) ketika akan mengambil dana tersebut, di Kantor Pos, Jalan Sudirman, Medan, Sumatera Utara, Rabu (23/12/2015). PKH merupakan program perlindungan sosial yang memberikan bantuan tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) sehingga diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan antar generasi.
Seorang warga menunjukan kartu Program Keluarga Harapan (PKH) ketika akan mengambil dana tersebut, di Kantor Pos, Jalan Sudirman, Medan, Sumatera Utara, Rabu (23/12/2015). PKH merupakan program perlindungan sosial yang memberikan bantuan tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) sehingga diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan antar generasi.

Jumlah penduduk miskin baik di perkotaan maupun di pedesaan bertambah.

Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (4/1/2015) menunjukkan jumlah penduduk miskin di perkotaan per September 2015 naik 260 ribu jiwa menjadi 10,62 juta orang dari periode yang sama di 2014 yang sebanyak 10,36 juta jiwa.

Sementara penduduk miskin yang tinggal di desa dari 17,37 juta jiwa di September 2014 menjadi 17,89 juta orang atau naik 520 ribu orang pada September 2015.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, secara keseluruhan jumlah penduduk miskin periode September 2015 berjumlah 28,51 juta jiwa, naik sekitar 780 ribu dibandingkan September 2014. Atau secara keseluruhan, jumlah penduduk miskin adalah 11,13 persen dari seluruh penduduk Indonesia.

Namun, apabila dibandingkan dengan Maret 2015, angka penduduk miskin tersebut cenderung turun sebanyak 80 ribu dari total 28,59 juta penduduk miskin.

Begitu pula dengan angka penduduk miskin di perkotaan juga turun dari periode Maret 2015 sebesar 30 ribu penduduk dari 10,65 juta jiwa menjadi 10,62 juta jiwa. Dan penduduk miskin di pedesaan turun 50 ribu orang dari 17,94 juta jiwa menjadi 17,89 juta orang.

Suryamin berujar, berdasarkan tren dari 2009, angka kemiskinan masih berada di antara 14-15 persen. Sedangkan pada 2012, mulai menurun di level 11 persen. Karakter penduduk miskin di antaranya berada di sektor pertanian.

"Di sektor pertanian, sektor buruh, yang hari ini menanam, besok nganggur kalau tidak punya keahlian," kata Suryamin dalam Tempo.co, seraya menambahkan sebanyak 54 persen penduduk miskin bekerja di sektor pertanian.

Sementara, fenomena turunnya angka penduduk miskin dari Maret 2015 ke September 2015 turut disumbangkan dari penghapusan subsidi BBM jenis premium per November 2014 dan juga tingkat inflasi yang relatif rendah.

Garis Kemiskinan selama periode Maret-September 2015 naik sebesar 4,24 persen yaitu dari Rp330.776 per kapita per bulan pada Maret 2015 menjadi Rp344.809 per kapita per bulan pada September 2015.

Peranan komoditas makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas non makanan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara dalam Liputan6.com mengaku, langkah menurunkan angka kemiskinan dan Rasio Gini membutuhkan jangka waktu menengah panjang, bukan hanya dalam setahun atau dua tahun.

"Rasio Gini mulai merangkak naik sejak 2008 sampai sekarang, atau sudah 6 tahun dan tidak bisa diturunkan dalam waktu setahun, termasuk angka kemiskinan," katanya.

Mulai tahun depan, lanjutnya, pemerintah telah menambah sasaran penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) menjadi 6 juta rumah tangga sasaran (RTS) dari sebelumnya 3 juta RTS di 2015.

"Kita lihat nanti subsidinya bisa macam-macam, bisa subsidi tunai, atau langsung diberikan ke Ibunya. Karena menurut penelitian, kalau uang bansos diberikan ke Ibu, maka dibelikan kebutuhan pokok, beda jika subsidi mengalir di tangan seorang Bapak," tutur Suahasi.

Adapun penyebaran penduduk miskin terbanyak adalah berikut ini:

1. Jawa Timur : 4,77 juta jiwa

2. Jawa Tengah : 4,50 juta jiwa

3. Jawa Barat : 4,48 juta jiwa

4. Sumatera Utara : 1,51 juta jiwa

5. Nusa Tenggara Timur : 1,16 juta jiwa

6. Sumatera Selatan : 1,11 juta jiwa

7. Lampung : 1,10 juta jiwa

8. Papua : 859,21 juta jiwa

9. Sulawesi Selatan : 864,52 juta jiwa

10. Aceh : 859,41 juta jiwa



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1OIS5Nj
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat