Penantian panjang pengungsi Rohingya di Aceh

Sumjida Begum, wanita beretnik Rohingya, berusia 20 tahun, sedang bersama sang anak, di rumah pengungsian, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Aceh Utara, Selasa (5/1/2016).
Sumjida Begum, wanita beretnik Rohingya, berusia 20 tahun, sedang bersama sang anak, di rumah pengungsian, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Aceh Utara, Selasa (5/1/2016).

"Saya harus minum air laut ketika haus," kata Sumjida Begum, wanita beretnik Rohingya, berusia 20 tahun. Dia berkisah tentang perjuangannya ketika berada di atas kapal laut selama lima bulan. Di tiga bulan pertama, kata dia, awak kapal masih membagikan makan, sisanya sudah tidak lagi.

"Saya muntah berulang kali karena sedang hamil," ujarnya di rumah pengungsian, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Aceh Utara, Selasa (5/1/2016).

Sekarang, bayi di dalam perutnya sudah lahir, sekitar tiga bulan lalu di Rumah Sakit Kesrem Lhokseumawe. Namanya Yusuf Faziel, yang duduk di atas pangkuannya ketika ditemui Beritagar.id. Mata Yusuf besar, kulitnya berwarna sawo matang. Di sampingnya, duduk Imam Husein, sang suami, mengeluarkan suara-suara seperti burung, yang membuat Yusuf terus tertawa.

"Alhamdulillah dia (Yusuf) tidak lahir di ship (kapal)," kata Husein yang bisa sedikit bahasa.

Husein dan istrinya adalah pasangan dari keluarga petani miskin di Rakhine, Myanmar. Dengan modal nekat, ia berniat membawa istrinya untuk bekerja di Malaysia, mencari kehidupan baru. "Tapi malah terdampar di sini (Aceh)," ujarnya.

Di awal keberangkatan dengan ratusan pengungsi lain, Husein dan Sumjida harus duduk meringkuk, karena sempit. Sumjida mengaku tidak bisa tidur selama berminggu-minggu karena merasa tidak aman.

"Saya merasa tidak bisa gerak," cerita Sumjida mengenai kejadian yang terjadi di awal 2014 itu. Husein mengatakan ratusan orang berhimpitan di atas dek kapal yang luasnya hanya 20-an meter persegi. "Campur juga dengan orang Bangladesh," tuturnya.

Yang paling dikhawatirkan pengungsi sebenarnya bukan ombak besar, tapi persaingan memperebutkan makanan dan pelecehan. Sumjida mengaku pernah dipaksa berhubungan intim dengan lelaki yang tidak dikenalnya. Cerita selanjutnya ia enggan bicara.

Kejadian lain yang membuat Sumjida takut adalah tawuran. Biasanya para lelaki yang takut terlibat perkelahian memilih loncat ke laut. Setelah itu, nasib mereka tidak diketahui. Para perempuan dan anak-anak bersembunyi di balik kayu di dekat ruang kapten.

Sumjida ingat ketika ada pria tua yang tangan dan kakinya diikat dengan tali dibuang ke laut. "Padahal dia hidup, menakutkan," katanya.

Hafiz Muhammad Yunus, pria Rohingya berusia 35 tahun yang didapuk menjadi ustad oleh para pengungsi ketika ditemui Beritagar.id di rumah pengungsian, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Aceh Utara, Selasa (5/1/2016).
Hafiz Muhammad Yunus, pria Rohingya berusia 35 tahun yang didapuk menjadi ustad oleh para pengungsi ketika ditemui Beritagar.id di rumah pengungsian, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Aceh Utara, Selasa (5/1/2016).

Situasi mencekam itu diperparah dengan penyakit yang menjangkit. Dalam perjalanan, pengungsi lain, Hafiz Muhammad Yunus, ingat, harus menyalati rata-rata lima jenazah setiap harinya di atas kapal.

"Mereka mual dan diare karena minum air laut setelah pasokan makanan habis," ujarnya di kesempatan berbeda. Dalam lima bulan, Yunus menghitung, ia menyalati sekitar 60-an jenazah, yang meninggal karena penyakit.

Ketika akan masuk perairan Indonesia dan Malaysia kapal mereka ditolak oleh tentara Indonesia dan Malaysia. Jadilah mereka terombang-ambing selama berhari-hari.

Namun, seminggu kemudian mereka diterima oleh Indonesia, dengan menempati sebuah gudang di pelabuhan yang dijadikan tempat pengungsian--di Pelelangan Ikan Kuala Cangkoy, Aceh Utara. Kemudian dipindah ke Desa Blang Adoe di bawah naungan badan pengungsi PBB (UNHCR).

Sejak 2012, puluhan ribu Rohingya lari dari Myanmar. Mereka takut oleh ancaman ekstrimis Budha yang terus mengejar mereka, yang beragama Islam. "Keluarga saya ada yang dipenggal kepalanya," kata Sumjida. Meski ada polisi dan tentara ada, tapi mereka tidak melakukan apapun.

Di tengah kecaman global terhadap Myanmar, Malaysia dan Indonesia akhirnya setuju untuk menerima pengungsi untuk sementara.

Pengungsi Rohingya di rumah pengungsian, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Aceh Utara, Selasa (5/1/2016).
Pengungsi Rohingya di rumah pengungsian, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Aceh Utara, Selasa (5/1/2016).

Walau mendapat tempat tinggal, pengungsi Rohingya berada dalam situasi yang membingungkan di Aceh. Di Myanmar, mereka tidak bisa keluar dengan bebas karena muslim. Di Aceh, kondisinya tak jauh beda. "Kami ingin bekerja, dan ingin keluar," kata Husein.

Sebab itu jumlah pengungsi berkurang drastis. Menurut hitungan Yunus, yang didapuk sebagai ustad oleh para pengungsi, dari tahun lalu yang berjumlah 390 orang, kini pengungsi tersisa hanya 55 orang. "Mereka kabur ke Malaysia," katanya.

Mayoritas warga Rohingnya yang meninggalkan lokasi penampungan memang kebanyakan menuju Malaysia. Pasalnya, di negeri jiran itu, seluruh sanak famili mereka telah menetap dan memiliki pekerjaan layak.

"Bayangkan, di sana bisa dapat 50 Ringgit (Rp 160 ribu) per hari sebagai tukang (bangunan)," ujar Yunus, yang memastikan tidak akan ada Rohingya yang mau kembali ke kampung halamannya.

Di rumah pengungsian, yang terbuat dari kayu, pekerjaan menunggu telah menjadi rutinitas mereka, selain makan dan tidur. Yunus berkata, di Aceh itu jam merangkak dengan kecepatan siput. Hampir semua menghitung hari, seolah-olah menghitung mundur layaknya hukuman di penjara. "Rasanya sama. Banyak yang menangis setiap malam," katanya.

Pengungsi Rohingya di rumah pengungsian, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Aceh Utara, Selasa (5/1/2016).
Pengungsi Rohingya di rumah pengungsian, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Aceh Utara, Selasa (5/1/2016).


from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1ZpkjrT
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat