Netizen soroti hukuman perakit TV lulusan SD di Karanganyar

Ilustrasi televisi LCD di pusat perbelanjaan Jakarta, Selasa, 3 Juni 2014.
Ilustrasi televisi LCD di pusat perbelanjaan Jakarta, Selasa, 3 Juni 2014.

Kejaksaan Negeri Karanganyar, Jawa Tengah memusnahkan ratusan unit televisi rakitan. Televisi berukuran 14 dan 17 inci itu merupakan hasil rakitan Muhammad Kusrin, pria 42 lulusan sekolah dasar.

Peradilan terhadap Kusrin dan pemusnahan televisi hasil rakitannya mendapat sorotan di ranah maya. Di Twitter, tagar #SaveKusrin muncul. Kebanyakan netizen menyayangkan perlakuan hukum terhadap Kusrin.

Sejumlah akun di Twitter menganggap Kusrin sebagai orang kreatif yang harus dibina, bukan "dibinasakan".

Dilansir MetroTV, Kusrin telah merakit dan menjual televisi hasil rakitannya selama setahun terakhir. Warga Dusun Wonosari, RT 002/RW 003, Desa Jatikuwung, Gondangrejo ini merakit televisi dari monitor komputer tak terpakai dan memberi merek pada produk rakitannya. Merek televisi buatan Kusrin antara lain Veloz, Maxreen, Vitron, dan Zener.

Pemusnahan berlangsung di halaman Kantor Kejaksaan Negeri Karanganyar Senin (12/1/2016). Acara dihadiri Kepala Kejaksaan Negeri Karanganyar, Teguh Subroto, Kepala Pengadilan Negeri Karanganyar, Irfanudin, Bupati Karanganyar, Juliyatmono, dan Kasatreskrim Polres Karanganyar, Iptu Rohmat Ashari.

Pemusnahan 116 televisi tabung itu sebagai eksekusi putusan PN Karanganyar Nomor 169/Pid.Sus/2015/PN.Krg pada Rabu (23/12/2015). Pengadilan telah menghukum Kusrin enam bulan penjara dengan masa percobaan satu tahun. Kusri pun harus membayar denda Rp2,5 juta subsider kurungan dua bulan.

Kusrin didakwa dengan sengaja memproduksi barang yang tidak memenuhi SNI yang diberlakukan secara wajib di bidang industri.

Ia dihukum karena melanggar Pasal 120 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian dan Permendagri No 17/M-IND/PER/2012, Perubahan Permendagri No 84/M-IND/PER/8/2010 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Terhadap Tiga Industri Elektronika Secara Wajib.

Kajari Karanganyar, Teguh Subroto mengungkapkan kasus ini tergolong unik. Sebab Kusrin merakit televisi serta menjualnya dengan berbekal pengalaman mereparasi barang-barang elektronik.

Teguh menambahkan Kusrin menjual televisi tanpa izin lengkap tersebut dengan harga tak sampai Rp1 juta. Produk televisi rakitan ini tentu saja belum dilengkapi legalisasi SNI.

"Keahlian dia membuat televisi ini karena belajar dari service. Dia membuka reparasi elektronik. Intinya dia tidak memiliki izin produksi dan SNI saat ditangkap," kata Kajari Karanganyar, Teguh Subroto, dikutip Solopos.

Penyidik polisi menangkap Kusrin dan delapan karyawannya pada Maret 2015 lalu. "Kami menangkapnya di rumah yang menjadi tempat produksi televisi rekondisi, dan menyita barang bukti tv yang belum sempat dijual," ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng, Kombes Djoko Poerbohadijoyo, dikutip Beritasatu.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1ULDANm
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat