Negoisasi buntu, pembangkit listrik terancam tutup

PLTP Kamojang, Garut, Jawa Barat, Maret 2011. Negoisasi harga uap PLN dan Pertamina buntu, PLTP Kamojang unit 1,2 dan 3 terancam tutup.
PLTP Kamojang, Garut, Jawa Barat, Maret 2011. Negoisasi harga uap PLN dan Pertamina buntu, PLTP Kamojang unit 1,2 dan 3 terancam tutup.

Tiga Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Garut, Jawa Barat terancam berhenti operasi, Februari nanti. Pasalnya, PLN dan Pertamina tak juga menemukan kesepakatan soal harga uap untuk menyuplai PLTP 1, 2 dan 3. PLN menilai harga yang ditawarkan terlalu mahal. PLN masih mengkaji harga yang ditawarkan Pertamina.

"Kalau harga uap yang ditawarkan wajar, kami mungkin akan beli. Karena selama ini kami sudah kerjasama selama 32 tahun dengan Pertamina, namun yang membuat kami bingung, kenapa tiba-tiba Pertamina menawarkan harga mahal hanya untuk jangka waktu lima tahun saja "ujar Manajer Senior PLN, Agung Murdifi lewat siaran pers, Rabu (6/1/2016).

PLN menaksir harga uap di Kamojang tidak akan melebihi estimasi yang telah ada, Rp535 per kwh atau setara USD4 cent. Harga ini didapat setelah verifikasi internal dan melihat harga uap di lapangan panas bumi yang dimiliki oleh PLN sendiri di PLTP Mataloko, PLTP Ulumbu Flores, serta di Tulehu Ambon , Maluku.

Namun untuk uap dari unit Kamojang 5 yang dikelola oleh Pertamina, PLN bersedia membayar sebesar USD9,4 cent per kWh untuk jangka 25 tahun. Unit Kamojang 5 baru mulai beroperasi Juni lalu itu bisa menyuplai listrik sebesar 35 MW.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan, negosiasi dengan PLN buntu soal harga jual uap untuk ketiga pembangkit itu. PT Pertamina menawarkan kedua perusahaan dapat kembali memperpanjang interim agreement harga jual uap sambil bernegosiasi harga sesuai dengan ketentuan yang berlaku saat ini.

"Namun, tidak ada kesepakatan yang dicapai kendati Pertamina telah memberikan penawaran paling lunak dengan perpanjangan interim agreement," kata Wianda, seperti ditulis Liputan6.com.

PLN melalui suratnya 29 Desember 2015, kata Wianda, justru menyampaikan tak akan memperpanjang kontrak. "Artinya terdapat risiko penutupan sumur-sumur uap untuk PLTP Kamojang 1,2, dan 3," ujarnya.

Wianda menuturkan, Pertamina memberikan waktu hingga per 1 Februari 2016. Jika sampai waktu yang diberikan PLN belum memberikan respons yang layak, Pertamina terpaksa menghentikan pasokan uap panas bumi untuk pembangkit PLN.

"Tentu saja hal ini sangat disayangkan apabila harus terjadi karena dapat menjadi preseden buruk bagi upaya memacu pengembangan panas bumi dan energi baru terbarukan di Indonesia," kata Wianda.

PLN berjanji hal ini tidak akan mengurangi suplai listrik untuk masyarakat. Untuk mengganti pasokan listrik yang hilang dari Kamojang , PLN akan memanfaatkan aliran listrik Jawa - Bali yang pasokannya berkecukupan.

Masalah harga uap ini masalah lama. Proses mencapai kesepakatan memakan waktu panjang. Dua tahun lalu, Menteri BUMN Dahlan Iskan sampai harus menggebrak meja untuk menemukan harga yang bisa disepakati dua BUMN

Sebelumnya PLN dan Pertamina telah melakukan kerjasama pemanfaatan panas bumi di Kamojang 1,2,3 lebih dari tiga puluh tahun. Total kapasitas PLTP Kamojang saat ini sebesar 200 MW.

Terdiri atas empat unit yakni PLTP Unit 1 dengan produksi 30 MW, unit 2 dan 3 masing-masing kapasitas 55 MW, serta PLTP unit 4 sebesar 60 MW. Keseluruhan energi listrik yang dihasilkan PLTP Kamojang dialirkan guna mendukung sistem transmisi (interkoneksi) Jawa-Bali.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1IRYhGL
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat