Merunut pangkal perseteruan Iran - Arab

Pemeluk Syiah di Pakistan merayakan Hari Asyura. Di hari tersebut, kematian Husain bin Ali diperingati oleh para pengikut Syiah.
Pemeluk Syiah di Pakistan merayakan Hari Asyura. Di hari tersebut, kematian Husain bin Ali diperingati oleh para pengikut Syiah.

Arab pada judul mengacu kepada Arab Saudi, negara yang baru saja memutuskan hubungan dengan Iran dalam kepanjangan kasus eksekusi mati ulama Syiah terpandang, Nimr al-Nimr.

Sebagaimana ramai diberitakan, negeri yang dikuasai wangsa Saud telah menghukum mati 47 tahanan pada akhir pekan lalu. Syekh Nimr, kiai besar berwatak oposan dari Qatif, provinsi Timur Arab Saudi, termasuk dalam barisan pesakitan yang mesti dieksekusi. Protes atas langkah Riyadh pun tumpah di sejumlah tempat, termasuk Teheran, Iran. Namun, massa pengunjuk rasa di tanah para majusi itu tidak sanggup menguasai diri. Mereka menyerang Kedutaan Besar Arab Saudi dan membakar bangunan diplomatik tersebut.

Meski tidak sendirian ihwal pemutusan hubungan--Bahrain dan Sudan juga menjatuhkan talak atas Iran; Uni Emirat Arab mengganti duta besarnya di Teheran dengan seorang diplomat--langkah Saudi dipandang banyak pihak sebagai hal yang dapat menambah ketegangan sektarian di Timur Tengah. Duduk soalnya jelas. Kedua negara adalah kekuatan besar di kawasan yang saling berebut pengaruh. Teristimewa dalam hal skala pengikut dua 'arus' besar di lingkungan Islam: Saudi dengan mayoritas Sunni, dan Iran yang didominasi Syiah.

Untuk saat ini saja, api tinggi yang membubung dua negara di Timur Tengah--Suriah dan Yaman--mendapat pasokan kayu bakar dari Arab Saudi dan Iran. Negara disebut pertama terlibat dalam upaya menggeser Presiden Bashar Assad yang mendapatkan dukungan Iran. Sementara di Yaman, militer Saudi memerangi para pemberontak Houthi yang menangguk sokongan politik Iran.

Masalah agama ini memang menjadi salah satu faktor penyebab permusuhan keduanya, tulis BBC, meski bukan satu-satunya. Namun, sulit untuk menyangkal bahwa elemen ini yang selalu dimanfaatkan untuk meraih keunggulan politik. Demi mengurut akar-muasal rivalitas, sejarah harus ditarik ke periode kenabian Muhammad SAW.

Umat Islam percaya bahwa Muhammad menerima wahyu dari Tuhan untuk disampaikan kepada masyarakat Mekkah dan manusia secara umum. Ajarannya lantas menyebar ke jazirah Arab. Para pengikutnya berhasil membangun kekaisaran yang membentang dari Asia Tengah hingga Spanyol.

Setelah sang Nabi meninggal pada 632 Masehi, kericuhan menyangkut siapa yang akan menjadi penerusnya mengemuka. Golongan Sunni--yakni ahl as-sunnah wa l-jama'ah atau pendeknya ahl as-sunnah--meyakini pewaris terlaik adalah ia yang punya kualifikasi paling baik.

Di lain pihak, golongan Syiah--yakni Syiah Ali, yang secara harfiah berarti para pengikut Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus mantu Nabi Muhammad--tiada bersangsi bahwa sosok penerus mesti berasal dari keluarga Rasulullah SAW. Pada hemat kelompok ini, orang itu adalah Ali.

Ali tewas dibunuh di belakang hari pada 661 M di tengah menghangatnya perpecahan di tubuh Islam, yang memuncak di Karbala (Irak). Para penguasa Sunni membunuh cucu Muhammad, Husain, pada 680 M, di sebuah peristiwa yang disebut Perang Karbala. Tragedi 14 abad silam itu takpelak tertanam pada sanubari para pengikut Ali.

Penyatuan Arab Saudi diprakarsai oleh Abdul Aziz bin Saud pada 1932 lewat pendirian sistem pemerintahan monarki absolut. Wahhabisme--gerakan yang bertujuan memurnikan Sunni dan kembali kepada Quran serta Hadits--sangat berpengaruh atas raja Saudi dan para pewaris takhtanya.

Wahhabisme berangkat dari ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab pada abad ke-18. Ia sosok yang betul-betul anti-Syiah.

Revolusi Iran--dengan teokrasi Syiahnya--yang terjadi pada 1979 menentang kekuasaan tersebut. Rezim Sunni, khususnya Arab Saudi, mencemaskan pengaruh dan kekuatan Iran di kawasan sejak revolusi pecah.

Pada periode 1980 - 1988 (Perang Iran-Irak), Arab Saudi memberikan dukungan keuangan dan politik besar-besaran kepada Saddam Hussein meski negara itu tidak menyukainya. Dalihnya, ajaran Syiah dikhawatirkan akan menyebar ke seluruh kawasan Timur Tengah.

Sebenarnya, pada 1988, massa di Teheran juga pernah membakar Kedutaan Besar Arab Saudi. Seorang diplomat tewas. Pemicu pembakaran adalah bentrokan adalah petugas keamanan Masjid al-Haram dengan peziarah haji Syiah di Mekkah pada 1987 yang menyebabkan tewasnya 275 warga Iran.

Dalam beberapa dasawarsa belakangan, benturan memburuk. Teristimewa setelah Iran ikut campur dalam sejumlah urusan di dunia Arab, seperti masalah Irak, dan kini Yaman.

Ketakutan Arab Saudi akan kehilangan kekuasaannya membesar terutama setelah sejumlah aktivis Syiah mendesak adanya kesetaraan di dalam negeri. Pemerintah kerajaan menggencet semua penentangnya di ranah domestik, pun di negeri tetangga seperti Bahrain.

Dari sisi Iran, pendapat seorang akademisi, Sadek Zibakalam, boleh menjadi pertimbangan. Menurutnya, kebencian Iran terhadap Saudi bertolak dari kalahnya Persia atas bala tentara Islam pada Pertempuran Qadisiyah (636 M).

"(Kekalahan) itu seperti bara dalam timbunan abu yang menunggu waktu untuk kembali berkobar," ujarnya dikutip Al Arabiya.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1Z7xQUJ
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat