Mereka bercanda dengan bom

Petugas bandara berjaga di sekitar pesawat setelah adanya ungkapan penumpang tentang ledakan yang dianggap sebagai ancaman bom pada sebuah pesawat di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, Pekanbaru, Riau, Jumat (8/1).
Petugas bandara berjaga di sekitar pesawat setelah adanya ungkapan penumpang tentang ledakan yang dianggap sebagai ancaman bom pada sebuah pesawat di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, Pekanbaru, Riau, Jumat (8/1).

Inspektur Dua (Ipda) Cahyo Widyanto, seorang anggota Puslabfor Polri cabang Polda Bali ditangkap pihak pengamanan bandara dan Polsek Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Minggu (10/1/2016) sekitar pukul 15.00 WITA.

Menurut Kepala Polsek Bandara Hasanuddin, Makassar Inspektur Satu (Iptu) Muhammad Djafar, saat itu Cahyo bersama dua rekannya hendak terbang ke Denpasar dengan menumpang pesawat Lion Air nomor penerbangan 645. Saat melalui alat pemindai, Cahyo mengaku membawa bom.

"Saat diperiksa petugas, Cahyo baru mengaku kalau dia hanya bercanda," kata Muhammad Djafar seperti dilansir Merdeka.

Selain Cahyo, petugas juga memeriksa semua barang bawaan Cahyo. Setelah diperiksa semuanya ternyata petugas tidak menemukan bom seperti yang dikatakan.

Kasus serupa juga terjadi Jumat (8/1/2016). Seorang penumpang pesawat Lion Air JT 141 rute Pekanbaru-Medan berinisial S juga bercanda membawa bom. Candaan itu kontan membuat penumpang panik.

Tempo menulis, Manajer Operasional Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru Hasturman bercerita, peristiwa berawal pukul 14.40. Saat itu pesawat tengah boarding di area parkir D6 Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.

Saat itu, S yang diketahui anggota TNI itu meminta agar pramugari memasukkan tas yang dipangkunya ke bagasi atas. Saat pramugari menaikkan tas itu, S berseloroh agar pramugari itu hati-hati menaikkan tasnya. "Kalau tasnya terjatuh nanti meledak," kata S.

Kaget dengan ucapan S, sang pramugari langsung melaporkannya ke pilot. Pilot pun bergerak. Ia meminta penumpang pesawat turun. Pesawat pun diperiksa. Ternyata pesawat yang mengangkut 187 penumpang itu aman. Tak ditemukan bom.

Pesawat pun kembali diberangkatkan pukul 18.00. Sementara S ditahan di Pekanbaru. "Yang bersangkutan sudah kami serahkan ke kesatuan TNI untuk pemeriksaan lebih lanjut," kata Hasturman.

Bercanda yang tak lucu ini bukanlah barang baru. Tahun lalu Departemen Perhubungan mencatat kasus serupa ada enam kasus serupa. Rata-rata mereka bercanda saat pesawat sudah mengudara.

Kepala Pusat Komunikasi Kemenhub JA Barata seperti ditulis Kompas menulis, enam kasus itu adalah dalam penerbangan Batik Air ID 6870 Jakarta-Palembang 29 April 2015 dengan tersangka IRY, dalam penerbangan Lion Air JT 353 Padang-Jakarta 1 Mei 2015 dengan tersangka NA, dan dalam penerbangan Lion Air JT 973 Batam-Medan 4 Mei 2015 dengan tersangka SMS.

Juga penerbangan Lion Air JT 379 Batam-Medan 7 Mei 2015 dengan tersangka SR, dalam penerbangan Lion Air JT 330 Jakarta-Palembang 13 Mei 2015 dengan tersangka BP, dan calon penumpang pesawat Citilink di terminal keberangkatan Bandara Kualanamu 30 September 2015 dengan tersangka FJZ.

Menurut Barata, candaan penumpang yang mengaku membawa bom di dalam pesawat merupakan masalah serius. Hal itu diatur di Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. "Penumpang dilarang menyampaikan informasi palsu yang membahayakan keselamatan penerbangan," kata Barata.

Pasal 437 UU ini menyebut bahwa setiap orang yang menyampaikan informasi palsu yang membahayakan keselamatan penerbangan akan dipenjara satu tahun.

Masih dalam pasal yang sama, jika ada penumpang yang menyampaikan informasi palsu dan mengakibatkan kecelakaan atau kerugian harta benda, penumpang tersebut diancam hukuman delapan tahun penjara.

Hukuman maksimal 15 tahun penjara dikenakan kepada penumpang yang menyebabkan kematian orang lain.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1mP63Xx
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat