Menyelenggarakan MotoGP tidak bisa asal-asalan

Siapkah Indonesia menggelar MotoGP 2017?
Siapkah Indonesia menggelar MotoGP 2017?

Sebuah hajatan besar bukan cuma soal aktivitas hari H. Bukan hanya acara utamanya. Ada deretan pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan untuk memastikan hajatan utama berlangsung mulus.

Sebuah negara tuan rumah putaran final Piala Dunia sepak bola tidak hanya diwajibkan menyediakan lapangan pertandingan (stadion). Mereka juga perlu menyediakan tempat latihan bagi para peserta. Kualitas lapangan pun harus setara dengan stadion. Lalu jutaan orang asing sebagai pengunjung dan suporter perlu disediakan transportasi dan akomodasi.

Demikian pula untuk menyelenggarakan ajang balap bergengsi MotoGP meski paket acaranya hanya tiga hari; Jumat, Sabtu, dan Minggu. Indonesia yang secara prinsip mendapat hak tuan rumah pada musim MotoGP 2017-2019 juga dihadapkan pada pekerjaan rumah yang rumit agar tiga hari hajatan utama berlangsung tanpa hambatan.

Tidak heran Presiden Joko Widodo (Jokowi) mempertanyakan kesiapan Indonesia untuk menjadi tuan rumah saat memimpin rapat terbatas di Kantor Kepresidenan di Jakarta, Senin (11/1/2016). Jokowi minta rencana menggelar MotoGP di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat, dikaji lebih dulu.

Tugas mengkaji kesiapan Indonesia menggelar MotoGP diserahkan kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga. "Dalam waktu selambat-lambatnya dua minggu," kata Puan Maharani, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, dalam jumpa pers usai rapat terbatas itu.

Kemenpora kemudian menerjemahkan tugas itu kepada pihak Sirkuit Sentul. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi agar payung hukum kedua dalam bentuk Keputusan Presiden (Keppres) MotoGP 2017 bisa terbit.

Sentul diberi waktu sepekan untuk memenuhi tiga syarat itu; rencana induk (master plan) renovasi sirkuit serta fasilitas pendukungnya, rancangan kontrak dengan Dorna selaku penguasa hak komersial MotoGP, dan surat pernyataan kepemilikan Sirkuit Sentul yang selama ini diketahui milik pengusaha Tommy Soeharto.

Sepekan kemudian seluruh syarat itu akan dievaluasi Kemenpora. Bila semua beres, berkas akan diserahkan kepada Jokowi dengan harapan Keppres MotoGP 2017 bisa diterbitkan.

Kemenpora mengaku belum menerima rencana induk restorasi Sirkuit Sentul hingga saat ini. Sebuah kabar yang cukup mengejutkan.

Bagaimana mungkin rencana induk belum kelihatan batang hidungnya hingga kini. Padahal Dorna memberi tenggat hingga 31 Januari 2016 agar bisa segera mengikat kontrak kerja sama (Memorandum of Understanding).

Sebagai perbandingan, panitia penyelenggara Asian Games 2018 di Jakarta dan Sumatera Selatan --menurut Kemenpora-- sudah menyerahkan rencana induk. Isinya adalah soal jumlah arena (venue) dan fasilitas penunjang.

Jadi bila diterjemahkan ke dalam urusan MotoGP, rencana induknya adalah soal perubahan seluruh area sirkuit --baik urusan topografi, lintasan, akomodasi, maupun urusan teknis lain.

Saat ditemui Beritagar.id pada November 2015, Tinton Soeprapto, Direktur Utama Sirkuit Sentul, mengatakan mulai mengerjakan perombakan wilayah sirkuit pada Desember 2015. "Kami mulai memetakan batas wilayah Sirkuit Sentul," katanya ketika itu.

Jadi benar-benar mengejutkan bila rencana induk belum ada tapi Sentul telah melakukan perombakan sirkuit tahap pertama.

Itu masih soal administrasi. Masih ada urusan teknis lain.

Sentul pernah menggelar ajang balap Grand Prix 500cc pada 1996 dan 1997. Ajang balap motor SuperBike juga pernah digelar di sana. Tapi bukan berarti itu jaminan berpengalaman bisa menggelar MotoGP.

Perlu diketahui, MotoGP bukan cuma memanggungkan adu balap motor berkapasitas 1000cc. Ada kelas Moto2 dan Moto3. Penanganan logistik menjadi pekerjaan rumah berat bagi Indonesia, dalam hal ini Jakarta dan pihak Sentul.

Sebagai gambaran, setiap tim MotoGP akan membawa antara 10-20 ton kargo logistik. Sedangkan Moto2 dan Moto3 masing-masing membawa antara 4-6 ton kargo.

Menurut Carles Jorba, Manajer Operasional Dorna, setiap sirkuit akan dibanjiri 260 hingga 280 ton kargo logistik pada setiap perhelatan MotoGP. Kargo logistik itu dibungkus dalam 600 peti kemas.

Bayangkan bagaimana bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Banten, yang super sibuk itu harus menangani logistik itu dalam satu kesempatan. Ini pun belum dipikirkan.

Lagi-lagi tak mengherankan jika Jokowi minta rencana menggelar MotoGP 2017 dikaji serius, termasuk mencari sirkuit alternatif meski jumlah sirkuit otomotif permanen di Indonesia habis dihitung dengan lima jari.

Lebih runyam lagi, Indonesia bukan negara mapan dalam hal olahraga. Bila urusan administrasi dan teknis infrastruktur beres, bagaimana dengan pendanaan?

Untuk sekali penyelenggaraan MotoGP, tuan rumah harus membayar antara minimal Rp90 miliar hingga Rp170 miliar. Itu di luar biaya renovasi sirkuit sebesar Rp180 miliar --demikian ditulis CNN Indonesia.

Tuan rumah juga diwajibkan menyiapkan dana promosi. Bagi Indonesia dalam tiga tahun, sekitar Rp350 miliar. Angka itu pula yang disampaikan Tinton kepada Beritagar.id saat ditanyakan kebutuhan dana menggelar MotoGP.

Ini bisa jadi hambatan. Kemenpora mengaku hanya sanggup memenuhi maksimal Rp48 miliar. Bagaimana dengan sisanya yang cukup besar?

Gatot Dewa Broto, Deputi V Bidang Harmonisasi dan Kemitraan Kemenpora, mengusulkan dua skema pembiayaan. Pertama, menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Kedua, mengubah nama Sirkuit Sentul dengan sponsor (leasing name).

Persoalannya, negara tak mungkin begitu saja menyerahkan pengelolaan dana APBN yang jumlahnya tak sedikit, kepada pihak swasta. Apalagi bila urusannya komersial murni seperti MotoGP.

Rp350 miliar mungkin kelihatan kecil untuk APBN Indonesia. Tapi negeri ini sedang membangun (infrastruktur mendasar) yang tentu butuh dana besar. Ada prioritas di sini.

Menggelar MotoGP boleh jadi baik bagi pariwisata Indonesia. Tapi apapun yang baik tetap harus dipikirkan. Dalam bahasa Jokowi, harus dikaji. Apalagi sampai membutuhkan Keppres segala.

Kita semua tentu tak mau MotoGP di Indonesia diselenggarakan secara asal-asalan.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1Pp80B6
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat