Menimbang ancaman pascaeksekusi mati ulama di Saudi

Para pengunjuk rasa di Kashmir yang menentang aksi Arab Saudi mengeksekusi mati Syekh Nimr al-Nimr.
Para pengunjuk rasa di Kashmir yang menentang aksi Arab Saudi mengeksekusi mati Syekh Nimr al-Nimr.

Eksekusi mati terhadap Syekh Nimr al-Nimr di Arab Saudi meretas sejumlah peristiwa. Ujung sementara dari kebijakan setempat tersebut adalah pemutusan hubungan diplomatik dengan Iran. Pencetusnya, pemerintahan yang dikuasai wangsa Saud. Belakangan, Bahrain dan Sudan mengikuti langkah yang, menurut Wakil Menteri Luar Negeri Iran Hussein Amir-Abdullahian, takkan sanggup menutupi "kesalahan besar dalam mengeksekusi (mati)" kiai Syiah terpandang dari Qatif itu.

Seperti halnya peringatan dari Arab Saudi, Bahrain mewanti-wanti bahwa Iran hanya punya waktu 48 jam untuk menarik semua perwakilannya.

Uni Emirat Arab sesungguhnya turut menciptakan jarak dengan Iran. Namun, tidak seekstrem tiga pendahulunya, negara tersebut tak sepenuhnya menarik semua perwakilan diplomatiknya.

Di permukaan, pihak yang paling pertama dirugikan adalah warga Iran yang bermaksud untuk berhaji ke Mekkah. Pasalnya, mereka memerlukan izin masuk untuk melewati imigrasi Saudi. Kecemasan bertambah karena, seperti di Indonesia, para calon peziarah haji Iran mesti menabung bertahun-tahun sebelum akhirnya dapat menapaki tanah suci--sebuah usaha yang sungguh menguji rasa sabar.

Di luar soal haji, konsekuensi terberat dari memburuknya hubungan Saudi - Iran tentunya adalah risiko mulurnya konflik bersenjata di Timur Tengah--seperti perang saudara di Suriah dan Yaman. Saudi dan Iran punya peranan masing-masing dalam perseteruan berdarah yang mendera Suriah dan Yaman. Saudi terlibat dalam upaya menggeser Presiden Bashar Assad yang mendapatkan dukungan Iran. Sementara di Yaman, militer Saudi memerangi para pemberontak Houthi yang menangguk sokongan politik Iran.

Rusia dan Tiongkok, dua negara yang kekuatan geopolitiknya sangat diperhitungkan, merilis pernyataan agar Iran dan Saudi menahan diri.

"Moskow prihatin mengenai memanasnya situasi di Timur Tengah dengan adanya keikutsertaan para pemain penting di kawasan," demikian pernyataan kementerian luar negeri Rusia dikutip CNN. Pemerintah negeri itu meminta kedua negara menghindari langkah apapun yang dapat memperburuk situasi.

Sementara itu, kementerian luar negeri Tiongkok menancapkan perhatian pada sejumlah peristiwa yang melibatkan Saudi dan Iran serta berharap "semua pihak dapat berlaku tenang serta melakukan dialog dan perundingan untuk menyelesaikan perbedaan."

Saudi dan Iran telah lama berebut pengaruh di kawasan Timur Tengah. Keduanya saling bersaing dalam hal produksi minyak serta menjadi pembela terdepan golongan Sunni dan Syiah.

Isu terakhir dikhawatirkan menjadi pemicu Saudi mengeksekusi mati Syekh Nimr. Laman Vox menulis bahwa pemerintah Saudi agaknya memandang sang kiai sebagai sosok jahat yang sanggup memantik sektarianisme Syiah serta mendorong golongan Syiah di Saudi untuk menjadi pembangkang. Terbukti bahwa sejak penangkapannya pada 2012, ketegangan di antara kedua negara kian meningkat. Keduanya menopang pihak yang bertikai di Suriah. Saudi pun menyalahkan Iran atas perang di Yaman.

Jika misi utama adalah menghindari konflik sektarian, eksekusi mati pasti dibatalkan.

Di lapangan, berjalannya eksekusi sepertinya justru dimaksudkan membakar sektarianisme. Dalihnya, masalah aliran akan dapat dimanfaatkan Saudi saat dibutuhkan: memancing keterlibatan golongan Sunni di dalam negeri serta kawasan untuk meladeni Syiah.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1ZLrnvG
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat