Mengintip ''Tanjung Kennedy'' Indonesia di selatan Jawa Barat

Suara menderu kerap terdengar di atas langit Pantai Cilauteureun, layaknya sebuah pesawat tempur melintas di angkasa. Di lokasi itu, ada Stasiun Peluncuran Roket (Staspro) milik LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Kawasan itu sudah jadi lokasi uji coba peluncuran roket di Indonesia sejak 1963.

Pantai Cilauteureun, terletak di Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kawasan yang berada 90,7 km dari pusat kota Kabupaten Garut tersebut salah satu pusat teknologi dirgantara di negeri ini. Di tempat ini pula sejumlah roket buatan anak bangsa menjalani uji terbang.

Tak kalah dengan pusat teknologi dirgantara Tanjung Kennedy di Florida, Amerika Serikat, Staspro LAPAN juga menjadi kebanggaan Indonesia yang mampu menciptakan berbagai jenis roket untuk menunjang teknologi kedirgantaraan dan antariksa.

Adapun LAPAN berdiri pada 27 November 1963, merujuk Keputusan Presiden No. 236/1963 tentang Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Lembaga ini telah berdiri setahun sebelum resmi terbentuk, pada 31 Mei 1962. Menteri Pertama RI, Juanda, membentuk Panitia Astronautika yang saat itu menjabat juga Ketua Dewan Penerbangan RI, dengan R.J. Salatun, sebagai Sekretaris Dewan Penerbangan RI.

Kemudian pada 22 September 1962, mulai menggarap Proyek Roket Ilmiah dan Militer Awal (PRIMA) yang merupakan afiliasi AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) dan ITB (Institut Teknologi Bandung). Kala itu dua roket seri Kartika berikut telemetrinya berhasil dibuat dan diluncurkan. Keberhasilan ini selanjutnya berujung pada pembentukan LAPAN pada November 1963.

Setiap tahun, LAPAN menguji terbang roket-roket buatan dalam negeri. Pada 2005 misalnya, sedikitnya 16 roket dari empat varian diujicobakan di Staspro LAPAN Cilauteureun. Keempat jenis roket tersebut adalah RX 250, RX 150, RX 100, dan RX 70.

Kemudian pada 2008, LAPAN mengujicoba peluncuran roket berukuran lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya, seperti RX 320, disusul RX 420 yang diujicoba pada awal 2009.

Tujuan utama dari uji terbang adalah mengetahui unjuk kerja roket dan dibandingkan dengan hasil perhitungan simulasi di instalasi. Setiap peluncuran ada 64 tahapan prosedur operasional, mulai pemeriksaan kesiapan tim penanganan operasi uji terbang hingga tahap hitungan mundur, bahkan evaluasi pengamanan akhir.

Uji terbang roket RX 100 di stasiun Peluncuran Roket (Staspro) milik LAPAN di kawasan Pantai Cilauteureun, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat
Uji terbang roket RX 100 di stasiun Peluncuran Roket (Staspro) milik LAPAN di kawasan Pantai Cilauteureun, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat

Pengembangan roket LAPAN dilakukan untuk kepentingan ilmiah juga kepentingan pertahanan. Bahkan dalam jangka panjang diarahkan untuk peluncuran satelit.

Beberapa jenis roket berukuran besar diproyeksikan sebagai roket jelajah, sementara roket dengan diameter kecil diproyeksikan sebagai roket kendali yang akan dikembangkan beberapa tahun ke depan.

Semua roket memiliki beberapa kesamaan, antara lain berbahan bakar HTPB (Hydroxy Terminated Poly Butadiene) dengan grain propelan bintang-7 untuk roket RX 250 dan RX 150, serta grain konfigurasi ganda (wagon wheel & silinder). Sedangkan roket RX 70 menggunakan grain propelan bintang-8.

Roket-roket ini juga dilengkapi dengan sensor dinamik dan sensor navigasi berbasis GPS (Global Position System), bertujuan untuk mendapatkan variabel-variabel aerodinamik untuk digunakan sebagai bahan analisa unjuk kerja roket.

Berbagai jenis roket yang berhasil diujicoba di sana menjadikan Staspro LAPAN di Cilauteureun sebagai tempat pengembangan teknologi dirgantara di Indonesia. Tak salah jika tempat tersebut terkesan seperti Tanjung Kennedy-nya Indonesia.

Pertengahan 2015, LAPAN kembali sukses meluncurkan roket RX 450 di sana. RX 450 merupakan roket sonda yang berdiameter 450 mm. "Roket sonda adalah roket yang bisa digunakan untuk misi meneliti parameter atmosfer, kelembaban temperatur, dan lainnya," ungkap Kepala LAPAN, Prof Thomas Djamaluddin.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Jamaluddin, dalam pameran Teknologi Lapan di Pusat Teknologi Penerbangan Lapan, Rumpin, Bogor, Jawa Barat (27/12/2014)
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Jamaluddin, dalam pameran Teknologi Lapan di Pusat Teknologi Penerbangan Lapan, Rumpin, Bogor, Jawa Barat (27/12/2014)

Roket pengorbit satelit

Roket RX 450 mampu terbang dengan jangkauan maksimum berturut-turut, yakni 44 km hingga 129 km jika diluncurkan pada sudut elevasi 70 derajat. RX 450 juga adalah bagian dari roket bertingkat yang akan digunakan sebagai Roket Pengorbit Satelit (RPS).

"Uji terbang ini (roket RX 450) bagian dari tahapan dalam penguasaan roket RPS (Roket Pengorbit Satelit) yang direncanakan mampu membawa muatan seberat 50 kilogram ke orbit yang ditentukan," jelas Thomas Djamaluddin.

Dari hasil uji terbang roket RX 450 tersebut diketahui bahwa motor roket berfungsi dengan baik untuk membawa terbang roket ke sasaran. Namun LAPAN tetap melakukan beberapa hal untuk memeroleh hasil terbang yang maksimal.

Setelah peluncuran RX 450, LAPAN berencana menguji coba roket berikutnya yakni RX 550 yang memiliki panjang keseluruhan 8-10 meter dengan kemampuan meluncur hingga 500 km, serta roket berdiameter lebih besar lainnya.

Roket RX 550 ini diproyeksikan sebagai booster (pendorong) utama pengorbit satelit ke luar angkasa berbahan bakar HTPB (Hydroxyl Toluen Poly Butadiene) dengan volume 1,8 ton. LAPAN terus berusaha mengembangkan teknologi antariksa, terutama roket yang mampu menjadi pengorbit satelit.

Roket buatan LAPAN dalam pameran Teknologi di Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Rumpin, Bogor, Jawa Barat (27/12/2014)
Roket buatan LAPAN dalam pameran Teknologi di Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Rumpin, Bogor, Jawa Barat (27/12/2014)

Kembangkan satelit buatan sendiri

Teknologi antariksa kini menjadi kebutuhan untuk menunjang kepentingan negara. Memantau terjadinya kebakaran hutan dan lahan, hingga memantau daerah terluar juga pencurian ikan oleh kapal asing. Untuk itu, para ahli di LAPAN hingga kini terus mengembangkan satelit buatan sendiri.

September 2015 lalu, satelit yang murni karya anak bangsa bernama LAPAN A2/ORARI berhasil diluncurkan untuk menempati orbit dari Satish Dhawan Space Center, India. Satelit LAPAN A2 ini diorbitkan menggunakan roket peluncur milik India, yang membawa serta satelit India, Astrosat.

"Peluncuran ini (Satelit A2/ORARI) menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia juga menguasai teknologi satelit, ini sebuah kebanggan untuk kita semua karena semuanya dikerjakan oleh engineer LAPAN," ungkap Thomas Djamaluddin.

Satelit berbobot 78 kilogram itu diorbitkan dekat ekuator dengan inklinasi enam derajat pada ketinggian 650 km dari permukaan bumi. Dengan orbit tersebut, Lapan A2/ORARI akan melintas di atas Indonesia sebanyak 14 kali dalam setiap harinya dengan periode orbit 100 menit.

Nama satelit A2 yang disisipi ORARI, dirujuk dari ORARI (Organisasi Radio Amatir Indonesia) yang diajak untuk bekerja sama oleh LAPAN dalam pengembangan satelit tersebut.

Bersama ORARI juga, LAPAN memasang sensor APRS (automatic packet reporting system) yang bisa digunakan untuk memantau wilayah terluar dan yang terdampak bencana di seluruh Indonesia.

Gedung Pusat Teknologi Satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Jalan Cagak Satelit, Ranca Bungur, Jawa Barat (31/8/2012)
Gedung Pusat Teknologi Satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Jalan Cagak Satelit, Ranca Bungur, Jawa Barat (31/8/2012)

Diluncurkannya A2/ORARI merupakan bagian dari program LAPAN yang terus berinovasi untuk kemandirian satelit. LAPAN kini terus berkonsentrasi untuk mengembangkan satelit mikro yang mampu menghasilkan data-data akurat.

Satelit A2 ini juga merupakan tahap kedua setelah berhasil meluncurkan LAPAN A1/Tubsat. Menurut Thomas, satelit A2 tidak sama persis dengan A1, meskipun satelit LAPAN A1 hingga A3 adalah generasi satelit eksperimental. LAPAN A2, sudah memiliki beban operasional 20 persen.

Satelit A2 juga sudah dilengkapi sejumlah instrumen yang lebih baik daripada A1, seperti kamera digital, dan kamera video analog untuk memotret muka bumi beresolusi 4 meter dan lebar sapuan 7 km. Sementara, resolusi kamera A1 hanya 6 m dan lebar sapuannya 3,5 km. Kamera itu bisa untuk memantau perubahan tata guna lahan.

Tahun berikutnya, LAPAN berencana peluncuran satelit LAPAN A3 yang dikembangkan bersama Institut Pertanian Bogor (IPB). Satelit ini diproyeksikan untuk bisa memantau kondisi pertanian. Bahkan rencananya beban operasional satelit tersebut akan ditingkatkan menjadi 40 persen. Tak hanya itu, LAPAN A3 juga akan membawa kamera yang lebih mumpuni.

Kemudian, akan dikembangkan satelit-satelit generasi baru seperti LAPAN A4 dan A5. Untuk LAPAN A4 kini sudah memasuki masa perancangan, sedangkan A5 masih disusun target misinya. Target LAPAN, kedua satelit tersebut bisa diluncurkan setelah tahun 2020. Bahkan khusus LAPAN A5, diharapkan sudah mampu 100 persen beroperasi.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1R87nCf
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat