Membangun Bandung dengan daya kreatif

Pemerintah Kota Bandung untuk kesekian kalinya mendapatkan penghargaan. Di tangan Wali Kota Ridwan Kamil (44), Bandung meraup lebih dari 150 penghargaan dari dalam dan luar negeri.

Adapun penghargaan yang disabet Kota Bandung di antaranya Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2015 sebagai kota Kota Cerdas, penghargaan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) dalam bidang pelayanan publik, penghargaan Adipura, dan lain-lain.

Mendapat berbagai penghargaan atau pengakuan tersebut, apa yang jadi fokus pria yang selama dua tahun memimpin Kota Bandung ini?

"Logikanya, kita manusia ya harus sehat, pintar, kreatif, dan sebagainya. Jadi, tidak ada istilah fokus-fokusan. Di segala lini kehidupan kita harus jadi yang terbaik," ungkap Ridwan Kamil kepada wartawan saat ditemui usai acara #SimpulSpace, Jalan Taman Cibeunying Selatan 5 Bandung, Kamis (24/12/2015).

Lebih lanjut, wali kota yang juga (mantan) arsitek itu mengatakan, dengan diraihnya seabrek penghargaan tersebut dapat lebih meningkatkan pelayanan masyarakat.

Selain penghargaan dari dalam negeri, Kota Bandung juga meraih penghargaan dari luar negeri. Baru-baru ini Kota Bandung mendapat pengakuan sebagai kota kreatif di bidang desain berdasarkan kategori yang ditetapkan secara resmi oleh PBB melalui UNESCO.

Hal itu diketahui setelah pada 11 Desember 2015, UNESCO mengumumkan 47 kota dunia yang masuk ke dalam Jejaring Kota Kreatif atau UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Terdapat tujuh kategori kreatif yang ditetapkan UCCN yakni Musik, Kriya dan Seni Rakyat, Film, Gastronomi, Sastra, Media Art, dan Desain.

Ridwan Kamil, tentu merasa bangga dengan pengakuan tersebut. Namun ia memandang, tindak lanjut setelah masuknya Kota Bandung dalam kategori kota kreatif di bidang desain sebagai hal yang lebih penting.

"Saya lebih ingin melihat setelah itu kita mau ke mana. Kuncinya adalah bagaimana desain ini jadi gaya hidup, bahwa segala sesuatu di Bandung ini bahasa pasarnya harus keren. Kedua, desain ini harus mewujud pada nilai ekonomi, maka harus ada cara-cara keberpihakan," kata pria yang akrab disapa Kang Emil ini.

Rencananya, pada 2016 mendatang di Kota Bandung akan dibangun tiga tempat khusus yang bisa mendukung ide-ide kreatif menjadi bernilai ekonomi. Satu creative center akan dibangun di jalan Laswi. Sedangkan dua tempat lainnya yakni innovation center dengan memanfaatkan aset milik PGN (Perusahaan Gas Negara).

"Anak muda Bandung yang punya ide besar nanti tidak usah pusing pinjam alat ke mana karena kita akan sediakan. Itulah keberpihakan dari sisi inovasi," paparnya.

Selain itu, lanjut Emil, pasar-pasar di Kota Bandung selain tempat menjajakan kebutuhan pokok masyarakat, juga akan dijadikan pasar kreatif. Hal itu bertujuan agar pasar dapat memasarkan produk-produk industri kreatif yang menghasilkan nilai ekonomi.

Pendiri dan deklarator Bandung Creative City Forum (BCCF) berfoto bersama dalam acara SimpulSpace.
Pendiri dan deklarator Bandung Creative City Forum (BCCF) berfoto bersama dalam acara SimpulSpace.

Komunitas Kreatif

Bandung merupakan salah satu kota yang memiliki banyak komunitas kreatif. Terbukti dalam peringatan Hari Anti Korupsi di mana penyelenggara kegiatan Festival Antikorupsi 2015, sebanyak 17 komunitas dari berbagai latar belakang turut memeriahkan acara yang digelar belum lama ini di Bandung.

Ridwan Kamil, sebagai nakhoda Kota Bandung melihat keberadaan komunitas sebagai potensi untuk membangun kota dan mengisinya. Pemerintah Kota Bandung menyediakan tempat dan jadwal kumpul bagi komunitas-komunitas untuk saling berbagi.

Perkumpulan komunitas kreatif Bandung Creative City Forum (BCCF) misalnya. Wadah dari berbagai komunitas dan masyarakat kreatif ini sudah berdiri sejak 2008. Ridwan Kamil, sebelum menjadi Wali Kota Bandung menjabat sebagai ketua selama periode 2008-2012 di BCCF.

"BCCF terbentuk pada 2008 karena banyak sekali komunitas berkumpul, beragam dan deklarasinya ditandatangani oleh 45 komunitas," ujar Sekretaris Jenderal BCCF, Tita Larasati (43) kepada Beritagar.id.

Dikatakan Tita, hingga saat ini jumlah komunitas BCCF terus bertambah. Namun, tak sedikit juga yang bubar.

"Dalam perjalanannya sejak 2008, komunitas-komunitas itu sendiri ada yang memisahkan diri, ada yang membentuk baru dan sebagainya, jadi selalu berubah," katanya.

Ketika kepemimpinan Ridwan Kamil di BCCF, lanjut Tita, BCCF memiliki tiga program besar yakni creative festival & education, creative urbanism, dan creative business economy.

Sedangkan pada era Fiki Satari (2013-2017), BCCF memiliki empat program besar. Program tersebut yakni helar festival, kampung kreatif, simpul institute, dan design action.

"Komunitas yang muncul biasanya tergantung acaranya apa. Misalnya acara taman, yang hadir dari komunitas pemerhati taman," kata perempuan lulusan ITB (Institut Teknologi Bandung) itu.

Tujuan dari BCCF, lanjut Tita ialah mensejahterakan warga melalui kegiatan-kegiatan kreatif dan menggunakan kreatifitas sebagai senjata utamanya. "Kita dari dulu punya Ad/Art dan ada akta legal sebagai perkumpulan komunitas," jelasnya.

Sejumlah warga memanen aneka sayur hidroponik di kebun Kelurahan Neglasari, Kecamatan Cibeunying Kaler, Bandung (31/12/2015). Kebun hidroponik tersebut merupakan bagian dari kampanye pengembangan pertanian di lahan sempit dengan konsep urban farming.
Sejumlah warga memanen aneka sayur hidroponik di kebun Kelurahan Neglasari, Kecamatan Cibeunying Kaler, Bandung (31/12/2015). Kebun hidroponik tersebut merupakan bagian dari kampanye pengembangan pertanian di lahan sempit dengan konsep urban farming.

Kampung Kreatif

Rasanya mustahil jika sebuah kota kreatif tidak memiliki ruang-ruang kreatif. Dalam membentuk suatu kota kreatif dibutuhkan faktor-faktor pembentuk kota kreatif yang di antaranya adalah tersedianya ruang-ruang kreatif dan tentu saja orang-orang kreatif. Sebab, ruang kreatif dibutuhkan untuk memfasilitasi aktivitas-aktivitas ekonomi kreatif.

Di Bandung, terdapat Kampung Kreatif Dago Pojok. Aktivitas masyarakatnya bukan hanya dalam bidang seni dan budaya, tetapi juga memasukkan nilai edukasi. Kampung ini terletak di Jalan Dago Pojok, RW 03 Kelurahan Dago Kecamatan Coblong Kota Bandung.

Konsep Kampung Kreatif Dago Pojok tersebut diinisiasi oleh Rahmat Jabaril (47). Rahmat yang merupakan warga setempat membuat Kampung Dago Pojok yang tadinya biasa saja, diolah menjadi menjadi ruang diskusi dialog, budaya, dan pengembangan ekonomi.

"Bagaimana caranya agar warga kampung mengerti dan paham bahwa kampungnya bisa menghasilkan duit. Haya kita bikin meja dan siapkan kopi, atau orang foto-foto dikasih figura, ternyata bisa jadi duit juga. Dengan begitu mereka (warga kampung) bangga dengan kampungnya dan tidak perlu jual tanahnya," kata Jabaril.

Pada Sabtu setiap pekan, Kampung Kreatif Dago Pojok punya program Open Trip bagi pengunjung yang ingin menyusuri kawasan menarik di sekitar kampung tersebut.

"Datang ke sana bayar Rp25 ribu. Kita (warga kampung) menjual narasi. Misal, satu ruang ibu Ani bisa cerita banyak," ungkap seniman asal Bandung itu.

Selain itu, kata Rahmat, warga di sana juga menggeluti berbagai kesenian seperti tari jaipong, gondang, wayang, kacapi suling, celempungan, tarawangsa, serta pencak silat.

"Kita juga buat peta infrastruktur kampung," ucap Rahmat sambil menceritakan jika di kampungnya terdapat bentangan sawah, aliran sungai, serta air terjun.

Kampung Kreatif Dago Pojok baru berusia lima tahun. Jabaril melakukan advokasi ke daerah tersebut dari 2003. Kampung kreatif baru dimulai sekitar 2011. Setiap minggu selalu dihelat acara dengan melibatkan warga. Warga yang akan mementaskan kesenian harus diberi lokakarya terlebih dulu.

Pada 2012, BCCF menjadi rekan kerja Rahmat dalam membangun kampung kreatif. Rahmat dan BCCF memperluas program kampung kreatif di setiap sudut kota di Bandung. Jenis hasil kreatifnya pun beragam.

Sampai saat ini sudah tergagas lebih dari 8 pusat kampung kreatif yang dibangun dan pada 2017 mendatang terwujud sebagai Kampung Kreatif Tujuan Wisata Mandiri dan Berkelanjutan.

"Rencana 5 tahun ke depan mau bangun ekonomi. Kita buat bisnis sosial bersama pemuda dan warga di sana," pungkasnya.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1VvdXS2
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat