Melihat penobatan Paku Alam X sebagai proses budaya dan politik

KBPH Prabu Suryodilogo membaca sabda dalem saat prosesi upacara adat jumenengan atau penobatan Paku Alam X di Bangsal Sewatama, Puro Pakualaman, DI Yogyakarta, Kamis (7/1).
KBPH Prabu Suryodilogo membaca sabda dalem saat prosesi upacara adat jumenengan atau penobatan Paku Alam X di Bangsal Sewatama, Puro Pakualaman, DI Yogyakarta, Kamis (7/1).

Tagar #JumenenganPAX merajai topik tren Twitter Indonesia. Tren itu merujuk pada prosesi jumenengan (penobatan) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X, di Kadipaten Puro Pakualaman, Yogyakarta, Kamis (7/1/2016).

Merujuk laporan SindoNews, prosesi ini memakan biaya hingga Rp500 juta. "Lebih dari 50 persen justru berasal dari partisipasi masyarakat," kata Ketua II Jumeneng Dalem PA X Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Tirtonegoro, dalam jumpa pers, Senin (4/1).

Ada sekitar 1.500 undangan yang disebar. Di kursi para undangan, turut hadir sejumlah menteri, antara lain: Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin, dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

Tempo.co melaporkan, puncak penobatan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB di Bangsal Sewatama. Prosesi diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, yang disusul pembacaan pernyataan penobatan oleh Pangeran Sentana Kadipaten Pakualaman K.P.H. Jumartani.

Setelah pernyataan penobatan selesai dibacakan, KBPH Suryodilogo pun menempati singgasana. Sesepuh sentana (kerabat para raja), KPH Notoatmodjo, lalu menyematkan pusaka keris Kyai Bontit ke pinggang KBPH Prabu Suryodilogo.

Lewat rangkaian prosesi tersebut, pria 53 tahun itu resmi menyandang gelar sebagai KGPAA Paku Alam X. Beliau menggantikan ayahnya, KGPAA Paku Alam IX, yang mangkat pada 21 November 2015.

Sebagai peristiwa budaya, kabar ini mengundang riuh kicauan di linimasa Twitter. Sejumlah akun yang rajin membagikan informasi seputar Daerah Istimewa Yogyakarta, turut aktif berbagi foto dan kicauan seputar prosesi ini.

Berikut beberapa momen prosesi yang dibagikan ke linimasa Twitter.

Mengenal KGPAA Paku Alam X

Tempo.co mengutip data dari Pakualaman seputar profil KGPAA Paku Alam X. Ia lahir pada Sabtu Kliwon, 15 Desember 1962 atau 18 Rejeb 1894 di Yogyakarta.

Terlahir dengan nama kecil Raden Mas Wijoseno Hario Bimo. Beliau merupakan putra sulung (dari tiga bersaudara) Paku Alam IX dengan Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GBRAy) Ambarkusumo.

Ia menikah dengan dengan Bendara Raden Ayu (BRAy) Atika Suryodilogo. Pernikahan itu dikaruniai dua orang anak laki-laki: Bendara Raden Mas Haryo (BRMH) Suryo Sri Bimantoro, dan BRMH Bhismo Srenggoro Kuntonugroho.

Alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta itu dikenal juga lewat kiprahnya di jalur birokrasi. Ia diangkat menjadi pegawai pada 1991 dengan pangkat Penata Muda di Dinas Tenaga Kerja Setwilda Yogyakarta.

Suryodilogo berkarir di Pemda DIY hingga mencapai jabatan eselon II. Terakhir, ia memegang posisi Kepala Biro Kesra Pemda DIY.

Proses politik menuju jabatan wakil gubernur

Prosesi penobatan KGPAA Paku Alam X juga bisa dilihat sebagai momentum politik. Pasalnya, posisi Paku Alam secara otomatis akan menjadi calon wakil gubernur DIY. Hal itu merujuk pada undang-undang No.13/2012 tentang keistimewaan DIY.

Sesuai amanat undang-undang itu, guna menjabat sebagai wakil gubernur DIY, ada sejumlah proses verifikasi di tingkatan DPRD DIY.

Proses verifikasi calon wakil gubernur dilakukan oleh Panitia Khusus dari DPRD DIY. Seluruh proses penetapan pelantikan akan difasilitasi dan diawasi Menteri Dalam Negeri.

Ihwal proses politik itu, seperti dilansir Merdeka.com, Wakil Ketua DPRD DIY, Arief Noor Hartanto menyebut syarat untuk menduduki jabatan wakil gubernur tidak boleh rangkap jabatan.

Ia pun menyarankan Suryodilogo mundur dari jabatannya sebagai Kepala Biro Kesra Pemda DIY. "Untuk menggantikan Paku Alam IX sebagai wakil Gubernur, Paku Alam X tidak boleh rangkap jabatan. Sepanjang yang saya ketahui beliau berstatus PNS. Sehingga harus dipastikan beliau mengundurkan diri dan mendapat surat sah," kata Arief.

Adapun Mendagri Tjahjo Kumolo mengaku tengah menanti surat pengusulan Paku Alam X sebagai wakil gubernur DIY. "Ya, kami masih menunggu. Nanti kalau sudah ada, tentu akan ada pergantian wakil gubernur. Saya berharap proses ini bisa segera," ucapnya, dilansir OkeZone (7/1).



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1PgqJyP
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat