Melihat isu konservasi di balik aksi Jokowi melepas burung

Presiden Jokowi melepas 190 ekor burung di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Minggu (3/1).
Presiden Jokowi melepas 190 ekor burung di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Minggu (3/1).

Presiden Jokowi melepas 190 ekor burung di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat.

"Saya sering melepas ikan dan burung untuk menjaga ekosistem terutama di kawasan perkotaan. Jumlah burung semakin berkurang. Burung harus dilindungi dan jumlahnya diperbanyak," tulis Jokowi melalui laman Facebook resminya, Minggu (3/1/2016).

Adapun burung-burung itu, dibeli Jokowi dari Pasar Burung Pramuka, Jakarta Timur.

Aksi Jokowi itu mendapat sejumlah tanggapan balik. Salah satunya dari ProFauna, lembaga non-profit yang bergerak di bidang perlindungan hutan dan satwa liar.

Seperti dilansir Tempo.co, Koordinator Profauna Representatif Jawa Barat Plus, Rinda Aunillah Sirait, menyoroti pembelian burung di Pasar Pramuka. Menurut Rinda, pasar itu merupakan tempat transaksi satwa terbesar di Indonesia, dalam berbagai kasus juga melibatkan satwa liar yang dilindungi.

"Kami enggak tahu asal burungnya dari mana, harusnya (Jokowi) tidak beli burung dari sana," ujar Rinda. Menurut dia, mestinya Jokowi membeli burung dari pusat rehabilitasi satwa atau tempat penangkaran burung.

Lebih lanjut, Rinda juga meminta Jokowi menggunakan kewenangannya demi mendukung konservasi--tak sekadar melepas burung-burung.

Tempo.co turut mengutip temuan lembaga pemantau perdagangan hewan, Traffic. Merujuk temuan itu, Pasar Pramuka--bersama Pasar Jatinegara, dan Pasar Barito--kerap menjual burung secara ilegal. Dari sekitar 19 ribu ekor burung yang dijual, 98 persennya adalah burung khas Indonesia, yang diduga ditangkap langsung dari alam.

Tanggapan senada datang dari akun Twitter @Mbilung--yang dikenal milik pecinta satwa, Rudyanto. "Pak @jokowi, lain kali jangan beli burung di pasar burung dan melepaskannya begitu saja ya Pak. Tidak baik bagi alam," tulisnya.

Melengkapi anjurannya, @Mbilung membagikan tiga tips #MelepasBurung.

Salah satu poin dalam tips itu adalah tempat pelepasan burung yang aman. Lantas, apakah Kebun Raya Bogor merupakan habitat yang aman bagi burung?

Artikel lawas di blog Om Kicau (19 Agustus 2013)--dikenal sebagai salah satu rujukan para pecinta burung--pernah membahas soal menipisnya populasi burung di Kebun Raya Bogor.

Artikel itu menyebut bahwa Kebun Raya Bogor masih ideal sebagai habitat burung--juga menjadi tujuan pada musim migrasi burung. Kebun Raya Bogor memang masih menyediakan ekosistem bagi burung-burung, didukung dengan aneka jenis pepohonan.

Namun, faktanya, terjadi penurunan keanekaragaman spesies burung di kebun botani itu.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membandingkan populasi burung di Kebun Raya Bogor. Pada tahun 1950, ada sekitar 150 spesies burung di Kebun Raya Bogor. Angka itu berkurang menjadi hanya 90 spesies (2006), dan tinggal 50 spesies (2011).

Sebagai catatan, hobi burung kicauan memang mengakibatkan banyak burung dipindahkan dari alam liar ke dalam sangkar. Meski begitu, Om Kicau menyebut penurunan populasi itu tidak semata-mata disebabkan maraknya hobi burung kicauan.

Om Kicau mengajukan faktor lain di balik berkurangnya spesies burung itu: "Berkurangnya lahan hijau terbuka secara drastis, khususnya di Jawa, serta kerusakan dan alihfungsi hutan di luar Jawa."

Berkurangnya lahan hijau--termasuk juga alihfungsi hutan--disebut bisa mengakibatkan burung-burung non-migrasi mengalami hambatan dalam proses reproduksi, bahkan kekurangan bahan pakan, hingga akhirnya mati.

Om Kicau pun mengingatkan pentingnya konservasi atas habitat burung-burung itu. Termasuk juga menjaga dan menyediakan lahan hijau sebagai habitatnya.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1ILJEVF
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat