Melepasliarkan satwa untuk pelestarian

Foto ilustrasi burung di alam bebas.
Foto ilustrasi burung di alam bebas.

Indonesia adalah surga aneka jenis satwa, termasuk di antaranya burung. Menurut BirdLife International, Indonesia memiliki 1615 jenis burung, terkaya keempat di dunia setelah Kolombia, Peru dan Brazil. Dari jumlah tersebut, 419 jenis di antaranya tidak terdapat di negara lain di dunia, hanya ada di Indonesia. Walaupun demikian, Indonesia memiliki 132 jenis burung yang terancam punah -- nomor dua di dunia setelah Brasil.

Untuk hewan menyusui (Mammalia), Indonesia adalah negara terkaya di dunia dengan 670 jenis, sekaligus negara terbanyak yang memiliki jumlah jenis mammalia terancam punah dengan 183 jenis.

Apa saja yang menyebabkan satwa burung menjadi terancam punah? Ada banyak sebab, yang utama adalah rusak dan hilangnya habitat burung. Sedangkan penyebab terbesar lainnya adalah penangkapan satwa untuk diperdagangkan.

Beberapa pengamat satwa mempunyai cerita perihal fenomena "hutan sunyi" di Indonesia. Hutan sunyi adalah kawasan yang tumbuhannya relatif utuh, tetapi suara satwa dan kicauan burung sudah jarang terdengar.

Tidak hanya di hutan, di lingkungan sekitar kita pun ada beberapa burung yang sudah menghilang, seperti burung Perenjak jawa, Kacamata biasa atau Bentet kelabu. Bahkan burung Bondol sekarang lebih mudah dijumpai di seputaran sekolah dalam keadaan sudah diwarnai dan bertumpuk dalam kandang untuk dijual sebagai mainan.

Bagaimana menyelamatkan satwa yang terancam itu? Pemerintah sudah berupaya dengan membuat daftar jenis satwa yang dilindungi, membuat kawasan-kawasan perlindungan dan pelestarian alam, serta melakukan upaya penegakan hukum. Pada kegiatan tersebut banyak lembaga penelitian, lembaga swadaya masyarakat dan bahkan perorangan yang turut membantu bahkan bermitra dengan pemerintah.

Habitat satwa dijaga dan direstorasi. Satwa yang diperdagangkan secara ilegal disita. Dilakukan juga penyebar luasan informasi tentang perlunya pelestarian satwa, pembentukan tempat-tempat pelestarian di luar habitat asli satwa (konservasi ex-situ), hingga pendirian pusat-pusat rehabilitasi satwa yang diharapkan dapat dilepas kembali ke alam.

Meski masih ada kekurangan yang masih terus berusaha diperbaiki, upaya-upaya tersebut boleh dikatakan berhasil mengerem laju kepunahan. Salah satu upaya untuk mengembalikan satwa-satwa tersebut ke alam adalah dengan cara melepasliarkannya. Satwa yang tadinya hidup dalam kurungan, dilepas kembali ke alam, karena alam adalah rumah mereka yang sesungguhnya di mana mereka dapat menjalankan tugasnya sebagai makhluk hidup dalam jejaring kehidupan yang sangat rumit dan rapuh; di mana tidak ada satu makhluk pun yang bebas tanpa bergantung pada makhluk lain.

Memerdekakan satwa kembali ke alam dirasa oleh banyak orang sebagai hal yang menyenangkan, dan memang demikian seharusnya. Kegiatan seperti ini juga sudah dilakukan di Indonesia secara sporadis. Akan tetapi, memerdekakan satwa ini ternyata tidaklah semudah membalik telapak tangan. Pada pasal 21 Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa disebutkan bahwa Pelepasan merujuk pada jenis tumbuhan dan satwa hasil pengelolaan untuk dilepaskan kembali ke habitatnya.

Syaratnya adalah:

a. Habitat pelepasan merupakan bagian dari sebaran asli jenis yang dilepaskan;

b. Tumbuhan dan satwa yang dilepaskan harus secara fisik sehat dan memiliki keragaman genetik yang tinggi;

c. Memperhatikan keberadaan penghuni habitat.

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelepasan jenis tumbuhan dan satwa ke habitatnya ini diatur oleh pejabat setingkat menteri. Dr. Dewi Malia Prawiradilaga dari Puslitbang Biologi LIPI, yang berpengalaman dalam beberapa kegiatan pelepasliaran satwa terutama burung mengatakan, "pelepasliaran harus mempunyai tujuan yang jelas dan harus mengikuti prosedur."

Menurut Dewi, satwa yang akan dilepasliarkan harus diperiksa dahulu kesehatannya agar tidak menularkan penyakit kepada satwa lain di tempat pelepasan. Satwa yang hendak dilepas juga harus jelas asalnya dan bagaimana sebaran alaminya. Jangan lantas melepas satwa di wilayah yang bukan tempat sebarannya.

Selain itu, menurut Dewi, tempat pelepasan harus aman, mampu memenuhi kebutuhan pakan, dan dapat menjadi tempat tinggal satwa yang dilepasliarkan. Jika semua syarat terpenuhi, satwa harus dilatih/dibiasakan dahulu dengan tempat barunya sebelum dilepas sepenuhnya.

Setelah pelepasliaran dilakukan, harus ada sistem monitoring keadaan satwa yang dilepas sampai benar-benar diyakini bahwa satwa tersebut akan baik-baik saja di alam.

Pemeriksaan kesehatan satwa sebelum dilepasliarkan adalah hal yang sangat penting, terutama jika satwa yang akan dilepaskan telah berada cukup lama dalam kandang, apalagi jika kurungannya tidak bersih. Penyakit yang dibawa satwa tidak hanya dapat menulari satwa lain, tetapi dapat pula pindah ke manusia dan akibatnya mengerikan. Ingat akan wabah flu burung yang disebabkan oleh berbagai virus influenza dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang disebabkan oleh coronavirus? Penyakit-penyakit tersebut ditularkan melalui hewan.

Dr. Dewi Prawiradilaga menambahkan bahwa dampak buruk dari pelepasliaran dapat timbul bila yang dilepas adalah jenis satwa asing yang invasif (invasive alien species). Satwa asing yang invasif ini telah diidentifikasi sebagai salah satu penyebab punah atau terancam punahnya satwa.

Kasus punahnya burung Dodo, Koloa Maoli, serta terancam punahnya burung Kakapo dan Kiwi, hanyalah puncak gunung es dari persoalan semacam ini.

Di kelompok hewan lain ada kisah mengenai dilepasnya satwa invasif, seperti Siput murbai atau juga dikenal dengan nama Keong mas (Pomacea canaliculata) yang berasal dari Amerika Selatan. Satwa yang tadinya untuk hewan hiasan akuarium itu sekarang justru menjadi hama yang sulit diberantas.

Ada juga contoh kasus tumbuhan invasif, yakni Eceng gondok dari Amerika Selatan. Pelepasan ikan yang asing dan invasif di banyak sungai dan danau di Indonesia adalah contoh kasus lain yang berakibat buruk bagi ikan-ikan lokal. Dijumpainya ikan Alligator gar (berasal dari Amerika bagian Selatan hingga Meksiko) di badan-badan air di Jakarta pada saat banjir besar yang lalu, semestinya menjadi alarm akan masalah serius yang dapat terjadi akibat ikan predator ini.

Akan tetapi, jika pelepasliaran dilakukan dengan benar (pemeriksaan kesehatan, penentuan asal satwa, habituasi satwa, penyiapan tempat pelepasan dan monitoring pasca pelepasan), tentu saja kegiatan ini dapat membantu pemulihan populasi, seperti yang disampaikan oleh Presiden Indonesian Ornithology Union (IdOU) Dr. Ignatius Pramana Yuda.

Menurus Pramana, pelepasliaran burung Curik bali di Taman Nasional Bali Barat merupakan contoh pelepasliaran yang baik karena selain dilakukan dengan benar, pelepasliaran itu juga memperbesar populasi Curik bali di alam.

Cerita sukses yang sama juga pernah terjadi pada kasus pelepasliaran Elang jawa, beberapa jenis Kakatua, dan Elang bondol. Dulu Elang bondol, burung yang menjadi maskot Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, pernah sempat seolah hilang, sangat sulit dijumpai di wilayah Jakarta. Upaya pelepasliaran satwa yang dilindungi ini dilakukan dengan prosedur yang ketat dengan menggunakan IUCN Guidelines for Re-Introduction sebagai panduan dan berlangsung dengan baik. Harapannya, burung maskot Jakarta ini dapat kembali ke alam bebas dan menjalankan tugasnya dalam jejaring kehidupan di alam.

Harapan yang sama juga layak dipanjatkan untuk maskot Jakarta Timur (Srigunting batu), Jakarta Pusat (Alap-alap sapi) dan Jakarta Selatan (Gelatik jawa) agar kelak populasi mereka di alam dapat pulih. Jika dilihat dari proses yang harus dilalui sebelum melepas satwa, terkesan sangat merepotkan dan dapat memakan waktu yang lama. Kesan seperti tidak salah, tapi memang harus dilakukan demi kebaikan.

Lantas apakah melepas satwa (burung misalnya) saja sudah cukup? Kalau kegiatan ini dilakukan di perkotaan, maka sangat penting juga dilakukan upaya memperbaiki habitat burung dengan menanam pohon bunga atau buah yang digemari burung, baik di sekitar rumah maupun di taman-taman kota. Ini adalah cara terbaik untuk mengundang burung datang.

Perlu juga diingat, jika harus melakukan pelepasliaran, sebaiknya satwa yang akan dilepas tidak dibeli dari pasar satwa, seperti pasar burung. Karena ini sama artinya dengan mendukung perdagangan satwa.

Lebih baik seandainya satwa diambil dari pusat-pusat rehabilitasi satwa yang menampung dan merehabilitasi satwa-satwa hasil sitaan agar nantinya bisa dilepas kembali ke alam. Pusat rehabilitasi semacam itu merupakan sumber satwa untuk dilepaskan.

Harap diingat bahwa melepas satwa kembali ke alam bebas harus sesuai prosedur yang benar, karena niat baik ini bisa berbalik menjadi bencana jika tidak dilakukan dengan benar.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1mFfJUC
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat