MEA: Relevankah ASEAN tanpa Indonesia?

Sejumlah mahasiswa membentuk formasi tulisan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) di Lapangan Politeknik Universitas Surabaya (Ubaya), Surabaya, Jawa Timur, Jumat (18/12/2015)
Sejumlah mahasiswa membentuk formasi tulisan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) di Lapangan Politeknik Universitas Surabaya (Ubaya), Surabaya, Jawa Timur, Jumat (18/12/2015)

Hari-hari pertama Masyarakat Ekonomi ASEAN. Tidak ada hal baru yang seketika muncul. Tidak ada perubahan radikal yang dapat dianggap sebagai tahun nol atas sesuatu. Seperti kemarin saja, dan rasanya beberapa esok, minggu, dan bulan pun masih akan seperti hari ini.

Hal inilah yang sangat ASEAN, bila istilah itu boleh ada. Semua melalui konsensus. Tak ada voting. Tak ada perdebatan hingar bingar. Entah negara itu sebesar Brunei Darussalam yang berpenduduk seperempat Kota Depok, atau Indonesia yang keempat terbesar dunia, perilakunya mirip. Setiap anggota ASEAN saling menjaga perasaan yang lain.

Itulah cara ASEAN. Di tengah keadaan seperti ini Indonesia akan menjadi bagian dari kawasan yang berikrar akan bersama saling bertumbuh dan menumbuhkan dalam ekonomi. Ikrar, sebagaimana janji - bisa ditepati atau hanya hiasan bibir. Kontrasnya dengan cara ASEAN, ikrar masyarakat ekonomi bersama ini akan sangat tergantung pada satu pihak: Indonesia.

Betapa tidak, Indonesia terbesar di ASEAN dalam berbagai ukuran. Penduduknya adalah 40 persen dari 620 juta warga ASEAN. Output ekonomi tahunannya sekitar 40 persen ASEAN, dengan wilayah daratan 43 persen luas ASEAN. Sedemikian besarnya Indonesia, hingga sisa ukuran tadi mustahil dominan karena harus dibagi sembilan anggota ASEAN lain.

Bandingkan dengan Uni Eropa. Ukuran ekonomi Indonesia di ASEAN masih lebih besar daripada dua ekonomi terbesar di Uni Eropa, yaitu Jerman dan Inggris digabung jadi satu. Lebih dari itu, untuk menyamai pengaruh demografi Indonesia di kawasan ASEAN perlu padanan unik. Hanya bila penduduk Jerman, Prancis dan Inggris digabung jadi satu - maka skalanya menyamai Indonesia di ASEAN.

Atas hal itu, maka apa yang ada di benak Indonesia menjadi teramat penting bagi sembilan negara ASEAN lainnya. Indonesia punya kemampuan tak tertandingi untuk mengangkat ataupun menenggelamkan ekonomi ASEAN. Dengan jumlah penduduk sedemikian besar, Indonesia mampu menimbulkan efek dilusi demografi atas negara manapun di ASEAN. Namun tidak sebaliknya.

Indonesia satu-satunya negara di ASEAN yang mampu mereplika negara manapun di kawasan. Indonesia ingin membangun kembaran Thailand? Atau kembarannya Filipina? Bisa, asal ada rencana dan kesungguhan niat. Tersedia secara nominal baik wilayah maupun penduduk. Atau mungkin mau membuat kembaran Malaysia? Atau mungkin Singapura? Maka pertanyaannya menjadi: mau berapa banyak?

Saya hentikan di sini, karena ASEAN lain yang lebih kecil, akan terlalu menakutkan untuk dibahas.

Atas hal tersebut, maka kecemasan atas berlangsungnya Masyarakat Ekonomi ASEAN sebenarnya berada di luar pagar rumah kita. Adalah sedemikian dominan dimensi Indonesia di ASEAN, sehingga sulit bagi sisa ASEAN untuk percaya ketika orang Indonesia mengatakan tidak siap dalam suatu ikrar ekonomi bersama.

Karena yang ada di pikiran sisa ASEAN adalah: Relevankah ASEAN tanpa Indonesia? Relevankah kita tanpa ASEAN? Dan tentunya: siapkah kita di sisa ASEAN bila Indonesia berkehendak?

Sisa ASEAN menunggu jawab. Mungkin akan agak lama, karena Indonesia pun belum tahu mau bilang apa. Kita masih sibuk dengan kebingungan kita sendiri, tentang apa yang ada di dalam rumah kita sendiri.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1JPjY5m
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat