Lindungi anak dari ajaran radikal, pelajaran agama akan direvisi

Sukimah (kanan) menunjukan foto anaknya yang hilang di Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (12/1). Ketiga anaknya hilang, diduga bergabung dengan organisasi Gafatar di Kalimantan Tengah.
Sukimah (kanan) menunjukan foto anaknya yang hilang di Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (12/1). Ketiga anaknya hilang, diduga bergabung dengan organisasi Gafatar di Kalimantan Tengah.

Kementerian Agama akan memperbaiki pelajaran sejarah Nabi Muhammad di sekolah dasar dan menengah karena isinya cenderung menonjolkan peperangan dan kurang memberi tempat pada sifat toleran dan mendukung perdamaian. Menurut Kepala Balitbang Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Masud, upaya perbaikan ini tidak lepas dari melonjaknya radikalisasi yang menjangkiti sebagian umat Islam di Indonesia.

"Kajian kami menunjukkan, sejarah Nabi Muhammad lebih menitikberatkan pada perang-perang. Aspek luas tentang sifat nabi yang amanah, jujur, sangat adil, humanis belum banyak di literatur, apalagi literatur di sekolah," kata Abdurrahman Masud kepada BBC Indonesia, Ahad (10/1). Kementerian agama saat ini masih meneliti materi pelajaran pelajaran sejarah Nabi Muhammad yang diharapkan selesai pada tahun ini.

Menurutnya, ideologi pemerintah adalah ideologi kerukunan. Otomatis, radikalisme dan terorisme perlu ditangkal. Penangkalan ini bisa dilakukan salah satunya dengan meluruskan ajaran yang dibeber di sekolah. "Pelurusan itu harus, misalnya makna jihad yang disalahpahami, yang selalu diidentikkan dengan perang. Padahal maknanya luas," ujarnya.

Direktur Lembaga kajian Islam dan perdamaian (LAKIP) Universitas Islam negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Bambang Pranowo mendukung rencana Kementerian Agama. Agar, gambaran tentang "Nabi Muhammad lebih utuh" bisa muncul. Bukan hanya perang melulu. "Bahwa Nabi itu pembawa rahmat itu harus lebih menonjol sehingga tidak malah terkesan pembawa laknat," katanya seperti dilansir BBC Indonesia.

LAKIP empat tahun lalu lewat survei pelajar SMP-SMA di 100 sekolah (59 swasta, 41 negeri) menemukan, hampir 50 persen pelajar setuju dengan 'cara-cara kekerasan dalam menangani isu moralitas dan keagamaan'. "Kalau penyebab secara spesifik, harus diteliti lebih dalam, tetapi bisa diduga karena memang bahan-bahan yang mereka terima mengarah pada hal tersebut," ujar Bambang.

Bambang menyontohkan, dalam pendidikan agama, kurang sekali memberi penekanan kepada Nabi sebagai pembawa perdamaian. Maka saat ada pelajaran tentang kehidupan Nabi cenderung pada kekerasan, itu mudah sekali masuk.

Belakangan, beberapa anak terkait dengan ajaran radikal. Mereka mendadak menghilang atau ikut orang tuanya pergi dengan kelompok tertentu. Di Yogyakarta, seorang anak hilang sejak November dibawa ayah kandungnya. Menurut Solopos.com, ayah bocah itu terkait dengan kelompok Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Rica, seorang dokter juga sempat hilang akhir tahun lalu bersama anak balitanya. Ia ditemukan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Ahad (10/1) kemarin. Kepergiannya diduga juga terkait dengan Gafatar. Beberapa kasus lain menunjukkan kaitan yang sama.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Asrorun Ni'am Sholeh menyatakan, anak berhak mendapatkan perlindungan agama. Perlindungan agama menurut Asrorun, adalah bagian dari hak dasar anak. "Untuk itu, ketika anak terindikasi terpapar ajaran yang tidak sesuai dengan mainstream keagamaan, termasuk juga mainstream konstitusi, maka negara perlu hadir untuk memberikan perlindungan," ujar Asrorun, Selasa (12/1) seperti dikutip dari CNN Indonesia.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1Sfk7qK
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat