Lebih dekat dengan Brianna Simorangkir

Brianna Simorangkir tetap tegar menjalani kariernya sebagai penyanyi
Brianna Simorangkir tetap tegar menjalani kariernya sebagai penyanyi

Keputusan Disc Tarra menutup 40 gerainya di seluruh Indonesia pada November 2015 ternyata membawa efek bola salju. Dilansir Detik.com (5/1/2016), Catz Records dan Platinum Records - dua unit bisnis Disc Tarra lainnya- juga ikut ditutup.

Penyanyi Brianna Simorangkir (23) yang dikontrak Catz Records mengaku sedih dengan kenyataan tersebut. "Tutupnya Disc Tarra adalah penanda berakhirnya sebuah era. Sedih juga sih. Tapi, karier saya akan terus berjalan, tidak terpengaruh sama sekali karena sejak akhir tahun 2015 saya sudah keluar dari label itu," katanya saat menyambangi kantor redaksi Beritagar.id di kawasan Jatibaru, Jakarta Pusat, Jumat (8/1).

Brianna yang akrab disapa Bri datang bersama Matthew, Lutvi, Sani, dan Nanda -timnya dari C&J Management yang juga menaungi Calvin Jeremy dan Jamie Aditya, sekitar pukul 09.30 WIB. Setengah jam lebih cepat dari jadwal yang disepakati. Sebuah etos kerja yang jarang terjadi mengingat budaya "ngaret" di negeri ini, terutama di industri hiburan.

Mengenakan setelan cut out jacket dengan pakaian dalam kemben putih dan bercelana jeans putih, Brianna memperkenalkan diri sembari membuka kacamata hitam yang dikenakannya untuk menetralisir pandangannya dari terik matahari.

Saat wawancara berakhir berganti sesi pemotretan, Bri mengganti kostumnya dengan kemeja lengan panjang bermotif kulit ular. Itu belum termasuk sekotak alat perhiasan pribadi dan gitar akustik yang dijinjing asistennya.

Beritagar.id menjadwalkan empat sesi bersamanya hari itu; wawancara, pemotretan, serta tantangan merias wajah dalam tempo tiga menit dan menyanyi secara akustik. Dan dia tampak datang dengan persiapan matang untuk menyantap semua sesi tersebut.

Sembari duduk di kursi yang disediakan, terkadang sambil menyilangkan kaki, Bri menjawab berbagai pertanyaan dengan sorot mata tajam. Sesekali ia mengibaskan rambut panjangnya yang melewati bahu dan melilitkannya ke samping lehernya, menenggak air mineral yang ia letakkan di dekat kakinya, dan tidak segan tertawa lepas memamerkan deretan giginya yang putih bersih jika sudah mengenang berbagai kejadian lucu di masa lalunya.

Contohnya saat menceritakan pengalaman pertamanya menonton konser. "Konser artis pertama yang saya nonton itu Joshua Suherman di Taman Festival Bali, sekitar tahun 1998. Waktu itu masih kecil banget. Saya sempat moshing saking senangnya. Ha-ha-ha."

Pengalaman lucu, dan agak memalukan, lainnya adalah kala mengisi pentas seni yang diadakan salah satu SMA di Surabaya beberapa tahun silam bersama kelompok Superman Is Dead. "Dari awal saya sudah ngeri lihat panggungnya. Keamanannya meragukan. Pas lagi nyanyi nih, tiba-tiba satu kaki saya terperosok ke bawah. Ternyata ada lubang di atas panggung yang tidak terlihat karena ditutupi karpet. Ha-ha-ha."

Satu hal lagi yang membuatnya kadang tersenyum adalah jika selalu dikaitkan dengan Sammy Simorangkir, mantan vokalis Kerispatih yang telah lebih dahulu populer. Ada begitu banyak orang yang menanyakan itu di media sosial.

"Kami memang satu marga, tapi keluarga jauh. Akhir tahun 2015, untuk pertama kalinya saya bertemu Sammy dalam pesta perkawinan salah satu teman saya. Kami mengobrol banyak hal. Dari hasil pertemuan itu, sekarang saya bisa bilang bahwa Sammy adalah teman," ujarnya.

Meski mengaku termasuk persona yang blak-blakan, pengidola Amy Winehouse ini akan bungkam jika kehidupan pribadinya (baca: asmara) dijadikan topik utama wawancara.

Beda cerita kalau sudah diajak mengobrol soal musik. Matanya akan berbinar dan bibirnya tersenyum lebar. Sesekali suaranya terdengar lirih jika diingatkan kembali soal pengalamannya sewaktu bergabung dengan Catz Records.

Bergabung bersama label tersebut sempat membawa Bri berada pada titik paling rendah dalam karier bermusiknya. Ia dikontrak, tapi kemudian dibiarkan telantar, tak ada yang mengurusi. Sikap tersebut disebutnya sebuah kebebasan yang kebablasan karena bukan seperti itu yang dikehendakinya.

"Saya jadi bingung dan sempat putus asa dibuatnya. Tapi, saya tidak menyesal dan menganggap itu sebagai pengalaman berharga."

Jawaban tersebut mengindikasikan betapa perempuan blasteran Batak-Australia ini sangat optimistis, percaya diri, dan kuat menjalani kariernya sebagai penyanyi. Mentalitas tersebut didapatnya dari sang ibu yang selalu menanamkan pentingnya punya mental baja. "Lagipula, saya kan orang Batak. Harus kuat," lanjutnya.

Ketika ditanya soal karakter lain dalam dirinya, Bri mengaku tak segan mengamalkan apa yang disebut dengan YOLO alias You Only Live Once. "Saya tidak mau menyia-nyiakan hidup dengan mengerjakan sesuatu yang itu-itu saja. Mencoba berbagai hal baru itu mengasyikan dan tidak akan pernah kapok."

Hal baru yang ingin dijajalnya adalah bermain film dan menciptakan lagu buat penyanyi lain. "Kalau ada yang menawarkan sih saya akan sangat tertarik. Termasuk misalnya kalau ada label besar lain yang suka dan mengajak kerja sama. Saya tetap terbuka untuk itu," jelasnya mantap.

Dari jazz beralih ke pop, lahirlah Istana

Kecintaan Brianna Simorangkir terhadap musik jazz telah mendarah daging
Kecintaan Brianna Simorangkir terhadap musik jazz telah mendarah daging

Cinta pertama Bri terhadap musik jazz terpaut pada penyanyi berjuluk "Queen of Jazz" tersebut. Bahkan, "Bye Bye Blackbird" yang pernah dilantunkan Fitzgerald adalah lagu pertama yang dinyanyikannya di depan banyak orang. "Saya menyanyikan di sekolah."

Ingatannya masih tajam ketika ditanya apa album Ella yang pertama dimilikinya. "Umur 13 tahun saya mendapat hadiah box set dari teman baik yang berisi semua album Ella Fitzgerald. Itu adalah album pertama yang saya punya dan langsung terkagum-kagum saat mendengarnya."

Tergila-gila dengan jazz bukan berarti dara kelahiran Denpasar, 7 Mei 1992, ini anti dengan genre musik lain. Pengetahuan dan kesukaannya terhadap band atau aliran musik terbentang sangat luas. Mulai dari soul, blues, R&B, hip-hop, reggae, punk, hingga rockabilly.

"Tapi saya juga tidak serta-merta bisa dengan mudah jatuh cinta dengan band atau penyanyi yang mengusung genre musik tersebut. Saya tetap masih sangat selektif."

Bukan sekadar menyukai, perempuan yang gemar menyelam, memasak, dan menggambar di kala senggang ini bahkan membawakan aneka genre tersebut saat meretas karier sebagai penyanyi di berbagai kafe yang tersebar di Bali.

Selama periode 2009-2010, ia rutin setiap satu pekan sekali mengisi acara "Brianna Sings the Blues" di Art Cafe dan memeriahkan "Weekly Jazz Nights" di Ryoshi Restaurant. Dua tempat itu terletak di Seminyak, Bali. Dalam periode bersamaan, ia juga sempat bergabung dengan band bernama Freedom Jazz.

Bergabung dengan Catz Records membawa dampak yang sangat besar bagi perjalanan musikal cewek yang total punya empat rajah di tubuhnya ini. Dari yang awalnya sangat idealis, hanya mau bikin album jazz, perlahan ia mulai mau berkompromi membuat lagu-lagu yang lebih nge-pop.

"Waktu saya kirimkan demo lagu-lagu jazz, label selalu menolak. Begitu saya kirim lagu yang agak nge-pop seperti "Protocol" dan "Second Rate Love" mereka malah suka. Dalam hati saya berkata, 'Oke. Kalian mau lagu pop. Saya akan bikin lagu seperti itu.' Dari situ mulailah saya bikin lagu-lagu lain dengan aransemen pop."

Istana yang dirilis sejak Mei 2015 adalah upaya Bri menggabungkan banyak unsur musik yang disukainya dengan aransemen pop masa kini. Lebih dari itu, Istana menunjukkan siasatnya dalam berkompromi memenuhi permintaan label rekaman.

Ada dentuman electronic dance (EDM) yang menyusup dalam lagu "Istana", petikan gitar akustik ala musik folk di "Hati Memanggil Namamu" dan "Kita Adalah Cinta", serta "Not Into You" dan "Protocol" yang akan mengajak pendengar bergoyang reggae.

Abdul dari kelompok Abdul and the Coffee Theory adalah salah satu yang ikut membantu penyelesaian album Istana. Perannya adalah mengalihbahasakan lagu-lagu berlirik bahasa Inggris yang ditulis Brianna ke dalam bahasa Indonesia. "Jujur saya belum terlalu percaya diri menulis lirik dalam bahasa Indonesia," akunya.

Walaupun proses pengerjaannya terbilang singkat, hanya sekitar satu minggu, butuh pengorbanan dan melewati jalan panjang nan berliku untuk merealisasikan terbitnya album itu.

"Selama satu tahun kami berdebat. Karena saya tidak mau menjadi artis yang dikekang kreativitasnya. Setelah mereka melunak dan mengubah beberapa pasal dalam kontrak, baru saya mau bergabung," ungkapnya. Kedua belah pihak sepakat mengikat kerja sama selama lima tahun sejak 2013.

Ternyata, setelah teken kontrak, tidak berarti karier Bri melaju mulus. Ia kebingungan dan kecewa karena labelnya mendadak berubah haluan. Semua lagu yang disodorkannya selalu berakhir dengan penolakan. Alasannya karena terlalu nge-jazz dan akan susah dijual.

"Saya sudah menulis lagu-lagu yang sangat saya suka. Sekitar 50 demo lagu yang saya sodorkan selalu ditolak dengan beragam alasan. Seolah tidak mengapresiasi jerih payah saya. Mereka sepertinya tidak ingin saya jadi diri sendiri, harus jadi orang lain. Dalam artian bikin lagu yang tidak menggambarkan seperti apa saya sebenarnya.

"Saya paham harus ada kompromi, karena mereka mengambil keputusan berdasarkan potensi penjualan dari sebuah lagu atau album saat dirilis ke pasaran. Tapi, tetap saja saat itu terasa sangat menjengkelkan buat saya."

Awal pertemuannya dengan Catz Records terjadi saat dirinya menjadi salah satu penyanyi yang mengiringi aksi gitaris legendaris Jopie Item di ajang Java Jazz Festival 2012. Adalah Stevie Item (gitaris Andra and the Backbone yang juga putra Jopie) yang mengajaknya.

"Waktu itu saya niatnya hanya untuk nonton Java Jazz Festival ditemani papa dan mama. Karena sudah berteman sebelumnya dengan Stevie dan dia tahu saya suka lagu-lagu jazz, diajaklah saya ikut serta. Kami latihan sekitar dua jam di rumahnya yang kebetulan dilengkapi studio musik. Keesokan harinya tampil. Saat itu saya sangat gugup," turu Bri.

Bri mungkin mengaku sangat gugup, tapi itu sudah cukup membuat perwakilan Catz Records terpesona dan menawari kontrak rekaman. Meski keinginan menghasilkan album telah lama ada, alumni Australian Institute of Music, Sydney, itu tidak langsung menyanggupi tawaran tersebut.

Brianna Simorangkir menepis ego dan bersiasat dengan idealismenya terhadap musik jazz
Brianna Simorangkir menepis ego dan bersiasat dengan idealismenya terhadap musik jazz

Kenapa memilih Istana sebagai judul album?

Karena ini album pertama, saya ingin judulnya terdengar epik. Saya adalah tipikal orang yang saat menulis lagu kadang terlebih dahulu membayangkan akan seperti apa skenario videoklipnya nanti. Termasuk waktu menulis lagu "Istana". Bayangan saya videoklipnya akan epik. Lagu itu juga punya arti yang sangat personal karena dibuat saat saya sedang menjalin hubungan spesial dengan seseorang.

Semua lagu di album ini terinspirasi dari kisah nyata?

Tidak semua. Lagu "Not Into You" misalnya. Itu buat lucu-lucuan saja sih. Karena waktu itu saya membayangkan akan seru nih kalau bikin videoklip dari lagu tentang sesesorang yang ditolak cintanya. Maka saya buatlah lagu itu.

Dalam kondisi seperti apa Bri bisa dengan cepat menulis lagu?

Saat lagi sedih atau putus cinta. Gampang banget bikin lagu. Inspirasinya mengalir dengan deras.

Seperti apa suasana hati Bri saat menggarap album Istana?

Selain lagu "Second Rate Love" dan "Protocol", semua lagu saya tulis hanya dalam waktu satu minggu. Tulisnya di Bali dan datang ke Jakarta langsung rekam. Bisa dibilang saya tidak punya cukup waktu untuk memikirkan koneksi emosional saat menggarap album ini.

Setelah selesai dan didengar berulang-ulang, baru akhirnya saya sadar bahwa lagu "Istana" sangat personal buat saya.

Awalnya saya malah tidak berniat memasukkan lagu "Istana" ke dalam album karena sifatnya tadi itu. Tapi, tenggat waktu kami semakin dekat dan tidak sempat bikin lagu lain lagi sebagai pengganti. Jadilah "Istana" dimasukkan dalam album. Kebetulan label juga suka banget dengan lagunya.

Dulu saya benci banget lagu itu dan kisah yang melatari pembuatannya. Eh, belakangan saya malah jadi suka.

Apa karena sekarang hubungan Bri dengan orang dimaksud dalam lagu itu sudah membaik?

Mungkin. Ha-ha-ha.

Siapa saja band atau penyanyi yang jadi inspirasi saat menggarap album ini?

Karena dibikinnya dalam waktu singkat, saya tidak punya waktu mendengarkan album-album lain yang secara spesifik kemudian jadi inspirasi saat menggarap album ini. Kalau kemudian ada lagu bernuansa ska atau reggae dalam album ini, kemungkinan datangnya dari No Doubt atau The Mighty Mighty Bosstones yang sudah saya sukai sejak lama.

Masih tertarik bergabung dengan label besar?

Sejauh ini saya belum memikirkan rencana ke depan akan seperti apa. Berusaha menjalani apa yang ada sekarang. Kalau ada label besar yang tertarik dan mengajak kerja sama, saya akan terbuka untuk berdiskusi soal itu. Paling dekat mungkin saya akan merilis single ketiga setelah ini.

Lagu apa yang akan dipilih sebagai single terbaru nanti?

Mungkin "Not Into You". Belum bisa dipastikan juga sih. Tergantung pembicaraan dengan manajemen nanti.

Brianna Simorangkir total punya empat rajah di tubuhnya dan tak berniat menambahnya lagi
Brianna Simorangkir total punya empat rajah di tubuhnya dan tak berniat menambahnya lagi

Dari yang semula hanya ingin meminta komentarnya perihal dampak tutupnya Disc Tarra terhadap kelanjutan kariernya dan serba-serbi di balik penggarapan album Istana, perbincangan melebar hingga meliputi banyak hal.

Mulai dari kepeduliannya terhadap ekosistem, ritualnya sebelum manggung, kebiasaan setiap bangun tidur di pagi hari, pendapatnya soal "polisi skena" yang melarang penonton konser di barisan depan hanya berpangku tangan, hingga hal-hal yang disukai dan tidak disukainya dari Indonesia. Berikut petikannya.

Seperti apa masa kecil Brianna?

Karena dibesarkan dalam keluarga Batak yang setiap kali menggelar acara reuni keluarga selalu dimeriahkan dengan musik, jadi sejak kecil saya sudah dicekoki dengan musik. Ayah dan paman-paman saya juga penggemar musik. Bisa dibilang keseharian saya selalu dekat dengan musik. Sudah jadi semacam natural life.

Lantas, dari mana kemudian bisa mengenal dan menyukai begitu banyak genre musik?

Papa saya dulunya penyanyi di cafe. Begitu pindah ke Sydney umur 12 tahun, kesukaan saya terhadap musik jadul (zaman dulu alias kuno, red.) yang sering dibawakan papa ternyata tidak luntur. Enggak tahu kenapa, lagu-lagu baru yang diputar di radio tidak terlalu menyita perhatian saya. Namun, seiring berjalannya waktu, saya bertemu teman-teman yang kemudian mengenalkan aneka genre musik.

Waktu pulang ke Bali dalam rangka liburan umur 14 tahun, ibu saya yang punya wedding organizer baru saja mengangkat pegawai baru. Kebetulan dia pacarnya Leo Sinatra (vokalis/gitaris Suicidal Sinatra). Dari dia saya dikenalkan musik rockabilly. Waktu nonton band itu manggung, saya langsung terpikat dengan musik dan penampilan mereka.

Bri kemudian menyumbangkan suaranya untuk Suicidal Sinatra di lagu berjudul "Hope" (2010) dan sesekali didaulat tampil, salah satunya di Twice Bar milik Jerinx (drummer SID). Dari situ ia kemudian berkenalan dengan para personel SID yang mengajaknya mengisi vokal di lagu "Sunset di Tanah Anarki" (2013).

Selama di Australia sudah nonton konsernya siapa saja?

Ada beberapa band. Pernah nonton konsernya Wolfmother (band garage rock yang pernah manggung di Soundrenaline 2015, red.). Pernah juga menyaksikan The Presets yang mengusung musik electronic dance music (EDM). Dari situ saya mulai suka EDM.

Alasan suka begitu banyak genre musik?

Meski menyukai banyak genre musik, saya tetap selektif. Tidak semua band atau penyanyi yang mengusung genre itu lantas saya suka. Mereka harus punya sound tertentu yang tidak pasaran. Contohnya N.E.R.D (kelompoknya Pharrell Williams, red.) dan Erykah Badu. Saya suka keduanya karena musiknya beda dari yang lain.

Mendengarkan sebuah genre musik dalam kondisi tertentu?

Mungkin lebih tepat disebut kalau saya mendengarkan genre musik tertentu karena ingin merasakan atmosfer yang sama dalam lagu tersebut. Ketika saya ingin keluar malam misalnya. Supaya semangat, saya biasa mendengarkan lagunya The Mighty Mighty Bosstones. Atau kalau saya ingin terlihat agak nge-punk, maka saya akan mendengarkan lagu-lagu punk. Kalau jazz dan reggae, saya bisa mendengarkannya kapan saja. Dua genre itu selalu mampu membangkitkan suasana hati saya.

Seperti apa Bri memaknai apresiasi penggemar yang datang menyaksikan konser tapi hanya berpangku tangan, padahal posisinya berada persis di depan panggung?

Setiap orang berhak menikmati musik dengan caranya masing-masing. Saya pernah nonton ALPHAMAMA manggung di Sydney dan sangat kagum melihat respon penontonnya yang bergoyang tak henti mengikuti irama musik. Karena penasaran saya maju hingga ke depan panggung. Saya terpesona dengan penampilannya. Saking terpesonanya saya sampai terpaku. Tapi, bukan berarti saya tidak mengapresiasi artis dan musiknya. Justru karena saya memperhatikan tiap detail dari apa yang ditampilkan.

Kalau giliran Bri yang manggung dan tidak ada penonton yang bergerak sedikit pun, apakah itu tidak memberikan beban mental?

Awalnya merasakan itu. Jadi kepikiran kenapa responnya dingin, ya? Apakah karena tidak suka sama musiknya atau ada hal lain yang bikin mereka kecewa. Sempat bikin stres. Tapi, kemudian saya coba tanamkan dalam benak bahwa ini adalah pertunjukan saya. Dan sepanjang saya mengeluarkan kemampuan terbaik, maka saya akan menikmati jalannya pertunjukan, apapun respon penonton. Kalau ada yang suka silakan menikmati. Kalau tidak ada, bukan masalah besar bagi saya.

Ada ritual sebelum manggung?

Ada beberapa yang sering saya lakukan, terutama kalau manggung bersama SID. Karena tidak peduli seberapa seringnya saya manggung bersama mereka, saya selalu gugup karena yang menonton pasti banyak banget. Saya biasanya lari-lari atau lompat-lompat di tempat. Pokoknya melakukan aktivitas yang pump my blood. Kebiasaan lainnya adalah tentu saja humming. Saya juga minta jangan diganggu karena ingin berkonsentrasi jelang naik panggung.

Bri sering berkicau tentang gerakan "Bali Tolak Reklamasi" melalui akun-akun media sosial...

Bali adalah tempat saya lahir dan dibesarkan. Karena itu saya sangat menghargai dan berusaha menjaga apa yang ada di sana. Dalam skala yang lebih luas, siapa lagi yang akan menjaga Indonesia kalau bukan kita sebagai penduduknya?

Sejak kecil saya sudah peduli dengan lingkungan. Mulai dari hal kecil seperti tidak buang sampah sembarangan, hingga membawa tas sendiri setiap belanja ke mini market atau mal selalu saya terapkan dalam kehidupan sehar-hari. Kadang kasir heran dengan saya karena barang-barang belanjaan tidak pernah minta dibungkus kantong plastik dari mereka.

Selain itu, Bri juga sering menulis kata-kata mutiara yang sifatnya memotivasi...

Begini, saya itu termasuk percaya dengan yang namanya the power of positive thinking. Kalau kamu selalu berpikiran positif, energi itu bisa kamu tularkan ke orang-orang di sekitarmu. Kebiasaan membagikan kata-kata mutiara itu adalah salah satu cara saya membagikan pikiran positif yang saya rasakan kepada followers.

Salah satu aktivitas tiap pagi yang saya lakukan adalah meditasi atau berdoa. Karena itu bisa bikin saya merasa sebagai orang yang selalu positif menghadapi masalah. Dulu waktu masih ABG, hidup saya itu berantakan banget. Selalu emosional. Sekarang saya sudah mengerti cara mengendalikan pikiran.

Seandainya dikasih kesempatan kembali ke masa lalu, kejadian apa yang ingin Bri ulang atau hapus?

Ada beberapa, termasuk wawancara saya dengan majalah Rolling Stone Indonesia tahun 2013. Saat itu saya bilang tidak suka musik pop karena ada begitu banyak album pop buruk di Indonesia. Oh my God, kenapa saya sampai mengatakan itu? Tentu saja saya suka musik pop. Saya sekarang punya album pop.

Itu adalah salah satu wawancara pertama saya dengan media. Belum tahu cara berhadapan dengan media. Masih amatir. Saking gugupnya, saya bahkan menghabiskan beberapa gelas martini sebelum wawancara dimulai. Ha-ha-ha.

Tapi saya tidak mau menghapusnya sih. Karena dari kejadian-kejadian tersebut saya belajar banyak hal. Kesalahan di masa lalu juga membentuk pribadi saya seperti sekarang ini.

Apa bagian dari Indonesia yang disukai?

Keindahan alamnya. Bukan hanya Bali, tapi ada begitu banyak tempat. Contohnya jaket yang saya pakai sekarang. Gambar motifnya ini Gunung Rinjani yang ada di Lombok. Selama ikut tur SID saya berkesempatan mengunjungi banyak tempat indah di Indonesia, mulai dari Malang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan banyak lagi. Dan itu membuat saya terpesona.

Kalau yang tidak disukai?

Mungkin pengetahuan dan tingkat kepedulian orang-orangnya yang masih sangat rendah soal pentingnya menjaga dan merawat ekosistem. Coba bayangkan, kenapa bisa terjadi banjir? Itu karena ulah manusianya. Seringnya itu terjadi menandakan bagaimana orang-orang tetap tidak mau peduli.

Terakhir, apa makna Indonesia bagi Bri?

Indonesia akan selalu jadi rumah saya. Setiap saya ke luar negeri, saya selalu bercerita tentang Indonesia.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1K81pJC
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat