Lapindo bakal lakukan pengeboran lagi di Sidoarjo

Sebuah eskavator digunakan untuk mengeruk dan mengalirkan lumpur Lapindo di titik 35, Desa Pajarakan, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu, 3 Desember 2014.
Sebuah eskavator digunakan untuk mengeruk dan mengalirkan lumpur Lapindo di titik 35, Desa Pajarakan, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu, 3 Desember 2014.

Meski persoalan semburan lumpur dan ganti rugi belum selesai, perusahaan minyak dan gas Lapindo Brantas, Inc. berencana akan melakukan pengeboran di Sumur Tanggulangin 1, Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

Sumur Tanggulangin 1 berlokasi dekat pusat semburan lumpur panas Lapindo di Porong.

Persiapan pengeboran sudah berlangsung sejak Rabu (6/1) di bawah penjagaan ratusan polisi dan tentara.

Kompas menulis bahwa pengamanan ditujukan demi mengantisipasi penolakan warga. Sebagian masyarakat dari Desa Kedungbanteng ataupun desa di sekitarnya, seperti Desa Banjarasri, masih menolak rencana pengeboran baru itu. Mereka cemas bencana semburan lumpur pada 2006 akan terulang. Selain itu, menguatnya ketakutan bersumber dari jarak sumur baru dengan tanggul penahan semburan lumpur Sumur Banjar Panji yang hanya berkisar 1 kilometer.

Menurut Manajer Area Lapindo Brantas, Harzah Harjana, Lapindo Brantas tahun ini berencana mengebor gas di Sumur Tanggulangin 1 dan Sumur Tanggulangin 2, Desa Kedungbanteng.

Saat ini, kegiatan baru berupa persiapan pengeboran yang pengurukan lahan seluas 4.000 meter persegi dari total luas area sumur yang mencapai 1 hektare. Persiapan ini dijadwalkan berlangsung hingga akhir Februari sebelum berlanjut dengan proses pengeboran mulai awal Maret. Targetnya, dua sumur baru tersebut menghasilkan gas masing- masing 5 MMSCFD per hari.

Kepala bagian hubungan masyarakat SKK Migas, Elan Biantoro, dilansir Gresnews, mengatakan bahwa pelaksaan pengeboran di Sumur Tanggulangin 1 sudah mendapatkan izin dari Pemerintah Daerah (Pemda) Jawa Timur, Bupati Sidoarjo, Badan Lingkungan Hidup Sidoarjo, dan SKK Migas. Menurutnya, pengeboran dilakukan karena produksi gas domestik menipis.

Bagaimana dengan potensi risiko bencana pengeboran seperti yang pernah terjadi pada 2006?

Dikutip Tempo, Amien Widodo dari Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya mengatakan, pihak perusahaan mesti memaparkan informasi mengenai titik-titik lokasi pengeboran. Soalnya, terdapat patahan tanah "mulai Watukosek daerah Gunung Penanggungan sampai Madura."

Jika beralas pada hasil penelitian, penyebab lumpur panas di Porong adalah lokasi pengeboran yang berada tepat pada titik diapir (rongga gelembung di perut bumi).

"Titik diapir itu akan menyembur (meluap) dengan sendirinya bila terjadi gesekan dan tekanan," ujarnya.

Pun, pada 2006, Lapindo tak menggunakan casing (selubung) saat melakukan pengeboran.

Secara hukum, eksplorasi Lapindo Brantas di titik baru tidak dapat dihalangi sejauh perizinannya masih aktif dan mendapatkan persetujuan dari SKK Migas.

"Yang menjadi masalah sekarang adalah kenapa dari dulu saat kejadian semburan lumpur tidak dicabut izin eksplorasinya di daerah tersebut," ungkapnya lewat Gresnews.




from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1TGzy8L
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat