Ketua BEM UNJ yang dikeluarkan karena kritik Rektor banjir dukungan

Gedung fakultas MIPA kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), 19 Juni 2001.
Gedung fakultas MIPA kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), 19 Juni 2001.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (BEM UNJ) Ronny Setiawan dikeluarkan (drop out atau DO) oleh kampus UNJ karena dituding sering menghasut dan meresahkan. Mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIA) ini pun terancam terjerat Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik karena tulisannya di media sosial yang banyak mengkritisi kampusnya.

Keputusan pemberhentian Ronny disampaikan melalui surat keputusan (SK) yang ditandatangani langsung oleh Rektor UNJ Djaali pada Senin (4/1/2016). Berdasarkan salinan SK itu, rektorat menganggap Ronny telah melakukan kejahatan berbasis teknologi, pencemaran nama baik, serta penghasutan yang dapat mengganggu ketenteraman dan pelaksanaan program yang dilaksanakan pihak kampus.

Melalui akun Facebook, Ronny bertutur ihwal pemberhentiannya sebagai mahasiswa UNJ pada Selasa (5/1/2016) lalu. "Intinya Saya diberhentikan sebagai mahasiswa UNJ atas tuduhan tindak kejahatan berbasis teknologi dan aktivitas penghasutan," tulis Ronny.

Status Ronny di Facebook itu telah dibagikan lebih dari 7 ribu orang dan disukai lebih dari seribu pemakai internet. Komentar pun bermunculan yang sebagian besar mendukung Ronny.

Dikutip Kompas.com, Kepala UPT Humas UNJ Asep Sugiarto menyebut Ronny sering menyampaikan informasi tidak benar terkait rektorat. Asep menilai tindakan di media sosial sangat tidak patut karena posisinya sebagai Ketua BEM UNJ. "Yang sering kami lihat lewat tulisan-tulisannya di medsos. Tidak hanya tulisannya sendiri, tapi tulisan orang yang kemudian di-repost," kata Asep di kampus UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (6/1/2016).

Di Twitter, dukungan terhadap Ronny digalang melalui tagar #SaveRonny menjadi pecakapan populer di media ini. Tak hanya dari rekan sekampusnya, dukungan terhadap Ronny berasal dari lintas kampus. Akun @Fahrihamzah milik anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fahri Hamzah pun meramaikan percakapan dengan membela Ronny. "Rektor UNJ Yth, Anda harus bangga punya mahasiswa yang kritis, karena itu pertanda nurani bangsa kita masih hidup. ," cuit Fahri.

#SaveRonny Tweets

Kritik melalui beragam media terhadap rektorat UNJ muncu ketika mahasiswa merespons rencana pemindahan FMIPA dari kampus B ke kampus A UNJ. Mahasiswa berdemonstrasi dan menolak pemindahan karena fasilitas penunjang akademik dan organisasi di kampus A belum siap dan tidak memadai.

Mahasiswa mengajukan surat permohonan audiensi kepada rektorat UNJ pada 30 Desember 2015. Mereka ingin meminta penjelasan dan klarifikasi atas kebenaran isu yang beredar di kalangan mahasiswa UNJ. Sekaligus meminta penjelasan terkait beberapa isu dalam kampus.

Tanggapan untuk menggelar audiensi tak kunjung muncul dari rektorat. Pada Senin (4/1/2016) rektorat malah mengirimkan surat panggilan untuk orang tua Ronny. Besoknya, Selasa (5/1/2016) Ronny datang bersama saudaranya menghadap ke dekan FMIPA. Dekan membacakan surat rektor yang berisi pemberhentian Ronny sebagai mahasiswa UNJ.

Sejumlah mahasiswa UNJ bergabung membela dan menggalang dukungan untuk Ronny. Ahmad Firdaus, Koordinator Aliansi Mahasiswa UNJ Bersatu menggagas petisi daring melalui Change.org.

Hingga Rabu (6/1/2015) petisi yang berisi dukungan terhadap Ronny mencapat 43.641 penandatangan. Untuk diketahui, jumlah mahasiswa UNJ dari tujuh fakultas dan 52 program studi sebanyak 1.339.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1S3oXat
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat