Kenapa Piala Jenderal Sudirman ubah aturan main semifinal

Pemain Semen Padang James Koko (dua dari kanan) berjibaku dengan pemain Mitra Kukar Arthur Cuna (kanan) pada 8 Besar Piala Jenderal Sudirman di Solo, Jawa Tengah, 15 Desember 2015
Pemain Semen Padang James Koko (dua dari kanan) berjibaku dengan pemain Mitra Kukar Arthur Cuna (kanan) pada 8 Besar Piala Jenderal Sudirman di Solo, Jawa Tengah, 15 Desember 2015

Turnamen tarkam berhadiah total Rp5 miliar, Piala Jenderal Sudirman, segera masuk putaran semifinal. Mitra Kukar akan menjamu Arema Cronus di Tenggarong, Kalimantan Timur, pada Sabtu (9/1/2016).

Sementara pada Minggu (10/1), giliran Pusamania Borneo FC akan dikunjungi Semen Padang di Stadion Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur. Semuanya laga leg pertama. Sementara leg kedua akan berlangsung di Malang dan Padang sepekan kemudian (16-17 Januari).

Semifinal mengalami perubahan aturan main. Selain bersistem kandang dan tandang, diberlakukan pula skor agregat. Bila skor agregat tetap imbang, pertandingan langsung dilanjutkan adu penalti tanpa melewati babak tambahan 2x15 menit.

Sebagai contoh, Mitra Kukar menang 1-0 atas Arema pada leg pertama. Tapi pada leg kedua, giliran Arema menang dengan skor serupa. Skor agregat menjadi 1-1 sehingga laga harus dilanjutkan ke babak adu penalti untuk menentukan pemenangnya.

"Perpanjangan waktu baru ada di final. Peraturan yang lainnya tetap sama," ujar Hasani Abdulgani, CEO Mahaka Sports and Entertainment sebagai penyelenggara turnamen ini, dalam jumpa pers di Jakarta pada Senin (4/1) seperti dikutip CNN Indonesia.

Pemain Arema Cronus Dendy Santoso (kiri) berduel dengan pemain Pusamania Borneo FC Goran Ganchep pada 8 Besar Piala Jenderal Sudirman di Sleman, Yogyakarta, 22 Desember 2015
Pemain Arema Cronus Dendy Santoso (kiri) berduel dengan pemain Pusamania Borneo FC Goran Ganchep pada 8 Besar Piala Jenderal Sudirman di Sleman, Yogyakarta, 22 Desember 2015

Lalu mengapa aturan main mesti diubah? Tidak ada alasan istimewa seperti yang diungkapkan Hasani dalam jumpa pers itu.

"Ini dilakukan guna meningkatkan daya juang tim dan menambah keseruan dalam permainan," kata Hasani dikutip Pikiran Rakyat Online.

Perubahan pun bukan hanya soal sistem pertandingan. Empat semifinalis diwajibkan menurunkan minimal dua pemain U-21 dalam susunan 11 pemain awal (starting line-up). Hasani mengatakan ini semua demi kesempatan jam terbang para pemain muda.

Tapi bila pemain muda itu berhalangan tampil akibat akumulasi kartu kuning maka klub boleh menggantinya dengan pemain senior. Namun bila pergantian pemain muda dan senior itu berbau pelanggaran, maka klub terancam sanksi Rp100 juta.

Selain itu, akumulasi kartu kuning juga tak ada pemutihan. Menurut Hasani yang dikutip Liputan6.com, pemutihan kartu kuning hanya terjadi untuk partai final. Sementara untuk kartu merah tetap tiada pemutihan.

Arema mengaku puas pada perubahan aturan main ini, terutama soal agresivitas mencetak gol di kandang lawan. Itu sebabnya, "...Misi kita saat ini adalah mencetak gol tandang sebanyak mungkin di Stadion Aji Imbut Tenggarong," tandas Ruddy Widodo, Direktur Arema Cronus.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1Z7pRXY
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat